a ficlet by noonapark
*
*
*
Ada banyak hal dalam diri Park Chanyeol yang mampu membuat Shin Eunsoo begitu mengaguminya.
Senyumannya. Tatapan matanya. Suara beratnya. Pelukan hangatnya. Perhatiannya. Dan masih banyak lagi yang tidak mungkin Eunsoo sebutkan satu persatu.
Dan salah satu diantaranya adalah seperti yang Eunsoo lihat saat ini.
Chanyeol barusaja keluar dari kamar, kemudian pria itu berjalan santai menuju meja pantry dimana Eunsoo berada saat ini. Satu tangan Chanyeol terlihat sibuk mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah menggunakan handuk kecil berwarna putih.
Seraya tersenyum, pria yang saat ini mengenakan celana pendek rumahan yang dipadukan dengan kaos santai berwarna putih itu terus berjalan mendekati Eunsoo, kekasihnya.
Sampai ketika Chanyeol tiba di hadapan Eunsoo, Chanyeol melihat gadis itu tersenyum hangat padanya. Dan Chanyeol pun membalasnya.
Chanyeol mungkin tidak tahu bahwa saat ini Eunsoo tengah memujanya dalam hati. Gadis itu juga bersyukur. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena memiliki seorang Park Chanyeol, seorang pria baik hati yang begitu mencintai Eunsoo sepenuh hati.
"Apa kau menunggu lama?" Chanyeol bertanya sembari meletakkan handuk kecilnya di sisi meja.
Sesaat setelah Eunsoo menggeleng pelan, gadis itu menjawab, "Tidak juga. Aku berniat membuat secangkir kopi sambil menunggumu, tapi kau sudah keluar dari kamar. Oya, eumm..." Sejenak Eunsoo memandangi Chanyeol dari bawah hingga atas. "Bukankah kau akan mengajakku makan malam? Tapi mengapa kau tidak mengganti bajumu?"
"Ah, ini." Chanyeol memperhatikan penampilannya sesaat. "Hari ini aku lelah sekali karena menghadapi banyak pekerjaan di kantor. Jadi aku ingin bersantai denganmu sejenak di apartemenku. Tidak apa-apa kan jika aku mengantarmu pulang sedikit larut malam ini?"
Eunsoo mengangguk mengerti. "Ya, kurasa orang tuaku juga tidak akan masalah dengan hal itu. Kalau begitu..." Eunsoo seolah menggantung kalimatnya. Gadis itu juga menahan senyuman membuat Chanyeol menatapnya sedikit bingung.
"Ada apa?" Tanya Chanyeol juga menahan senyuman. "Kau terlihat sedikit..."
"Chanyeol, apa aku boleh memelukmu?"
Lalu tanpa menunggu jawaban dari Chanyeol, wanita itu langsung memeluknya, mendekap tubuh Chanyeol erat-erat dan menghembuskan napas lega setelah itu.
"Oh, ayolah.." Chanyeol tersenyum senang. Sangat senang hingga tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, pria itu langsung membalas pelukan Eunsoo, mendekap tubuh Eunsoo dengan hangat. "Apa kau begitu merindukanku?"
Eunsoo mengangguk pelan. "Ya. Sangat. Aku sangat merindukanmu. Tapi.. Apa kau tahu hal yang paling kurindukan darimu?"
Chanyeol mencoba menilik wajah Eunsoo sembari menanggapi, "Apa itu?"
"Ini." Eunsoo mempererat pelukannya, tersenyum sambil menghirup napas dalam-dalam. "Aroma tubuhmu, aku sangat merindukannya."
Chanyeol hanya tersenyum.
"Kau tahu?" Kali ini Eunsoo mendongakan wajahnya kearah Chanyeol. "Petrichor. Aroma yang tercium saat hujan turun membasahi tanah yang kering. Aromanya benar-benar alami dan sangat menyegarkan. Begitu juga dirimu, Chanyeol. Aroma tubuhmu juga alami dan sangat menyegarkan. Seperti petrichor."
Chanyeol terkekeh pelan. "Ya Tuhan." Lalu Chanyeol menangkup wajah Eunsoo dengan kedua telapak tangannya. "Kata-katamu membuatku lebih percaya diri. Aku juga merasa berkali-kali lipat lebih tampan saat ini."
Eunsoo mencibir pelan.
"Baiklah kalau begitu." Kata Chanyeol, lalu mendaratkan kecupan hangat dibibir Eunsoo. Membuat Eunsoo tidak bisa menahan senyuman bahagianya. "Peluk aku sesuka hatimu. Sampai kau merasa puas. Bagaimana? Kau suka?"
Eunsoo kembali memeluk Chanyeol erat-erat. Senyumnya juga semakin mengembang. "Ya, aku sangat menyukainya."
Chanyeol menghembuskan napas yang terdengar lega. Satu tangannya mendekap punggung Eunsoo sementara tangan yang lain mengelus puncak kepala wanita itu dengan lembut.
"Aku juga merindukanmu, Eunsoo. Dan aku sangat mencintaimu."
*finish*
Pertama kali publish di wattpad. Hope you like it ❤
ESTÁS LEYENDO
PETRICHOR
Romance"Begitu juga dirimu, Chanyeol. Aroma tubuhmu juga alami dan sangat menyegarkan. Seperti petrichor."
