Bagian 1

4 0 0
                                        

Satu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Satu.

Mereka saling diam, hanya berani melirik satu sama lain. Seragam mereka menjadi tumpuan kedua tangan mereka yang tidak bisa tenang. Kalau mereka cukup kuat, seragam itu sudah terkoyak dengan kuku-kuku mereka yang mulai iseng menggerogotinya. Sesekali, mereka membenahi pakaian mereka yang sebenarnya sudah rapi.

Dua.

"Hmm," mulut mereka secara kebetulan saling membuka bersama. "kau duluan saja," sekali lagi ucapan mereka saling beradu.

Lagi-lagi mereka mengunci rapat bibir mereka. Rumput yang tidak berdosa menjadi incaran mereka untuk menghapus kecanggungan yang semakin menjalar di antara mereka.

"Oke, aku duluan."

Mata mereka saling tatap hanya untuk hitungan detik, mungkin sekitar dua koma nol satu detik. Lalu keadaan kembali seperti semula.

...

...

...

Tiga.

Perhatian mereka mulai beralih ke arah jam besar yang berada di tengah taman kota. Pukul delapan dan langit sudah gelap. Seharusnya mereka kini sudah berada di rumah masing-masing sambil menyantap habis hidangan malamnya. Itu artinya, mereka sudah saling diam seperti itu selama satu jam tiga puluh dua menit.

"Aku harus pulang," Jess mulai merapikan kembali tasnya, padahal ia tidak mengeluarkan apapun dari tasnya, hanya sebatas formalitas.

"Oh."

Jess pura-pura memeriksa ponselnya tanpa mengangkat badannya sama sekali dari bangku yang terasa seperti kursi panas. Dia sudah mengumpat di dalam hatinya berulang kali, betapa kesalnya dia dengan lelaki di sampingnya yang hanya berdiam diri saja.

"Apa kau tidak akan pulang?"

"Ada yang harus kuselesaikan."

Empat.

Anehnya, Jess masih tetap diam menunggu lelaki itu.

Aaron. Seorang lelaki yang biasanya bersuara keras di sekolahnya, terkenal dengan nyalinya yang selalu melawan guru ketika ia merasa benar, dia juga yang berani mengakui kesalahannya baik kepada senior atau pun junior. Tapi kini ia hanya diam, memainkan jemari kakinya di dalam sepatunya yang mulai basah.

"Selesaikan urusanmu, aku harus pulang," Jess benar-benar melangkahkan kakinya dengan mulut yang tidak bisa berhenti mengumpat dengan gelombang entah berapa desibel.

"Jangan pulang!" Aaron menarik paksa tangan Jess yang sebelah kiri, di bagian situlah ia menyembunyikan tanda lahirnya. "Urusan yang harus kuselesaikan adalah denganmu!"

...

...

...

Lima.

"Kau hanya akan diam seperti ini?" Jess menyilangkan tangannya ke depan dadanya yang kecil.

Aaron menarik kembali tangan itu ke dalam genggamannya, mengusap jemari-jemari kecilnya dengan lembut. "Aku tahu segalanya tentangmu...

Tanda lahir di lengan kirimu... Sebuah tahi lalat di lehermu... Bekas luka di kaki kananmu... Pitak yang kau sembunyikan...

Kau tahu, aku selalu memerhatikan itu, dan aku selalu berkata, 'dia memang cantik dengan segala rupanya'...

Mungkin kau menganggapku terlalu terobsesi denganmu, tapi yang sebenarnya terjadi...

bukan obsesi...

Mungkin aku memang mencintaimu."

Enam.

Jess menekuk wajahnya sangat dalam. Perasaannya saling beradu, entah merasa senang atau ia kesal. Ia membenci Aaron karena Aaron mengetahui segala hal yang berusaha ia tutupi. Tapi ia merasa senang karena pernyataan cinta yang Aaron katakan.

Apa mereka terlalu muda untuk saling mencintai? Untuk saat ini, mungkin Jess akan mengatakan tidak.

"Aku tidak mengerti mengapa Kau begitu mengetahui segalanya tentangku, bahkan teman dekatku saja tidak tahu hal seperti itu," Jess melepas tangannya yang merasa gatal dalam arti sebenarnya bukan sebuah makna kias. "apa kau serius akan mencintaiku dengan cara seperti itu?"

Aaron hanya diam. Ia tahu ia memang salah, semua wanita pasti merasa risih ketika seorang pria begitu terobsesi dengannya.

"Kalau Kau akan melakukannya dengan cara seperti itu, lakukanlah, karena aku menyukai caramu mencintaiku."

Tujuh.

Entah sudah berapa menit mereka berada dalam posisi seperti itu. Saling mendekap sampai mereka tidak bisa merasakan oksigen di dalam paru-paru mereka.

Delapan.

Mereka hanya sedang dimabuk asmara.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 23, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

CarnationStories to obsess over. Discover now