Fawaz terkenal sebagai lelaki tampan,alim,cuek,dan cerdas di pesantrennya.ia tidak terlalu dekat dengan perempuan,karena ia ingin menjaga pandangan terhadap orang-orang yang bukan mahram disekitarnya.semenjak ia masuk Pesantren Salafi ia kaget, karena banyak dari beberapa perempuan yang suka dan kagum dengannya,karena Fawaz orangnya cuek,ia tidak memikirkan hal itu sedikitpun,ia hanya fokus kepada hafalan Al-Qur’an nya dan kitab-kitab yang ia pelajari,Fawaz mempunyai teman dekat dan sering disebut juga sahabat yaitu Pratama, keduanya hampir mempunyai sifat yang sama yaitu cuek, terutama cuek dengan perempuan. Mereka sangat fokus dengan hafalan dan kitabnya, dan mereka berdua tidak ingin terlau dekat dengan perempuan sebelum waktunya. Teman-temannya banyak yang bertanya tentang hal-hal yang membuat Fawaz tidak ingin terlalu dekat dengan perempuan dipesantrennya.
“Fawaz, Aku perhatikan kamu jarang dekat atau ngobrol-ngobrol dengan perempuan?” tanya salah satu teman sekelasnya temanya
“Aku sebenarnya tak ingin terlalu dekat, karena aku ingin fokus dengan hafalan dan belajar kitab, karena aku tidak ingin semuanya terhalangi dengan yang syahwat terutama perempuan, itu akan membuatku tidak fokus.” Jawab fawaz lembut
“Tapi setidaknya kamu ngobrol sedikit atau berbagi cerita gituh!”
“Berbagi cerita atau ngobrol itu akan membuang banyak waktu ku, apalagi sama yang bukan mahram.” Ujar Fawaz
Walaupun Fawaz sering ditanya oleh teman-temannya ia tetap menjelaskan yang sebenarnya kenapa ia begitu? Pantas saja ia banyak disukai dan dikagumi banyak perempuan, ia sangat rajin ketika berangkat ke masjid di pesantrennya, dan banyak perempuan yang memperhatikan dirinya. Ia mempunyai cita-cita yang sangat bagus yaitu menjadi hafidz dan bisa membanggakan orang tuanya, ia mempunyai target lulus dari pesantren ia sudah hafidz qur’an, target itu ia usahakan semaksimal mungkin. 2 tahun kedepan Insya Allah ia lulus, dan semoga ia menjadi seorang hafidz Amiin. Ia pernah berpikiran bahwa ia bisa dekat dengan seorang perempuan ketika sudah sukses nanti bahkan ia tidak sekedar menjadikan teman dekat tetapi ia ingin menjadikan seorang perempuan itu menjadi pendampingnya. Tetapi sekarang ia belum mengetahui siapa pendamping hidupnya, ia tahu Allah sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik buat Fawaz. 2 tahun waktu yang cukup lama untuk Fawaz menuntut ilmu di pesantrennya, hampir setiap hari ia belajar kitab-kitab salafi dengan sungguh-sungguh, ia sangat dekat sekali dengan ustadz yang mengajarkan kitab di pesantrennya, ia pun sering sharing dengan ustadznya tentang masa lalu saat ia dekat dengan seorang perempuan.
Sebelum masuk pesantren salafi Fawaz pernah dekat dengan seorang perempuan yang bernama Fatimah, ia perempuan sholehah dan cantik dimata Fawaz, hampir sekali Fawaz suka dengannya dan hampir jatuh terjerumus oleh godaan setan, akan tetapi Fawaz berusaha agar rasa suka itu tidak muncul, sikap nya tidak terlalu cuek seperti ia ketika masuk pesantren salafi itu. Tetapi itu hanyalah sia-sia rasa suka pun muncul dalam hatinya Fawaz, ia menyukai Fatimah secara diam-diam dan tanpa sepengetahuannya, Fatimah pun merasakan hal yang sama yaitu menyukai Fawaz secara diam-diam, mereka berdua memang saling suka, tetapi Fawaz tidak mau mengungkapkan rasa kepada Fatimah karena ia tidak mau yang namanya pacaran, dan ia hanya menyimpan rasanya hingga lulus SMP. Fawaz dan Fatimah sering bertemu saat pengajian majlis ta’lim di dekat rumahnya,tapi mereka berdua seakan-akan tidak kenal, padahal mereka berdua saling meyukai. Semenjak menyukai perempuan itu Fawaz jadi rajin untuk pergi ke pengajian majlis ta’lim yang diadakan setiap hari sabtu, tetapi disisi lain juga hafalan Fawaz sangat terganggu karena dia selalu memikirkan perempuan itu,dan juga sampai sholat lima waktunya tidak khusyu karena terlalu berlebihan memikirkan perempuan cantik dan sholehah itu. Fawaz pernah menyelipkan sebuah doa karena ia telah sadar dari keterpurukannya.
“Sudah berapa kali Aku jatuh cinta,dan pada saat yang bersamaan aku jadi melupakan-Mu, menempatkan Mu di nomor kesekian,entah nomor berapa, sudah berapa kali sholatku tidak khusyu karena terbayang-bayang wajah pujaan hati, dan aku bahkan tidak merasa khawatir tentang itu.” Itulah curhatan hati Fawaz kepada Allah setiap selesai sholat.
Akhirnya Fawaz pun tersadarkan, Allah pun mengabulkan doa-doa Fawaz untuk melupakan Fatimah itu secara perlahan-lahan, karena ia tidak mau zina hati dan zina mata,dan karena itu ia merasa hafalannya berantakan. Fawaz mempunyai niat yang kuat untuk bisa menghindari zina itu terutama zina hati dan zina mata,ia yakin ia bisa melupakannya dan fokus dengan hafalannya. Setelah mempunyai niatan yang kuat untuk melupakannya, Fawaz pun meminta ampunan kepada Allah dengan cara bertaubat, di akhir sholatnya ia pun berdoa:
“Ampuni Aku Ya Allah,ampuni Aku karena sampai detik ini Aku masih menyimpan cinta untuk salah satu hamba Mu yang jauh disana, jika memang rasa cinta ini membuatku jauh dari Mu, maka hilangkanlah, ku mohon pertemukan Aku dengan orang yang mencintai Mu diatas segalanya, yang mencintaiku karena Mu, yang ku cintai karena Mu.” Doa Fawaz setelah sholat.
Waktu demi waktu pun berjalan, Fawaz kehilangan perempuan yang ia sukai itu, entah kemana ia pergi, dan ia tak pernah melihatnya lagi ketika pengajian majlis ta’lim itu, disitulah ia merasa kehilangan seorang Fatimah. Sebelum Fatimah pergi untuk hijrah, Fawaz sempat memberikan secarik kertas, dan ia titipkan dengan salah satu teman dekat nya Fatimah. Di dalam kertas itu ia mengungkapkan rasa yg selama ini terpendam, ia janji akan menghapus rasa itu setelah ia memberikan kertas itu. Fawaz menulis kata-kata itu terakhir ketika ia ingin berangkat ke pesantren salafi untuk melanjutkan sekolah SMA nya.
Fawaz memberikan kata-kata yg ia rangkai untuk perempuan yang ia sukai itu. Ia titipkan kepada salah satu dari temannya Fatimah. Kebetulan Fawaz bertemu dengan temannya Fatimah yang bernama Indah ketika Fawaz pulang dari sebuah toko buku, selain ia menitipkan secarik kertas itu, ia pun menitipkan sebuah novel yang berjudul “ Aku, Kamu, Dia.”
“ Assalamualaikum Indah, bolehkah aku menitipkan sesuatu kepadamu untuk Fatimah? “
“ Waalaikumsalam, oh iya boleh. “ jawab Indah.
“ Ngomong-ngomong apakah kamu tahu sekarang ia berada dimana? “ Tanya Fawaz penasaran.
“ Kebetulan ia sedang hijrah di sebuah pondok pesantren, dan Aku termasuk teman dekatnya di pesantren itu. “ Jawab Indah dengan senyuman.
“ Aku hanya ingin menitipkan ini saja ,dan sampaikanlah salam ku dengannya!” Ujar Fawaz sambil memberikan titipannya kepada Indah.
“ Insya Allah Aku sampaikan.” Ucap Indah.
“ Baiklah kalau begitu Aku permisi dulu, Wassalamualaikum!”
“ Waalaikumsalam.”
Akhirnya Fawaz pun pulang ke rumahnya setelah ia menitipkan surat dan novelnya itu. Ia berharap Allah akan mempertemukannya ketika sudah sukses nanti. Setelah itu pun ia langsung meluruskan niat untuk menghafal Al-Qur’an dan menjadi seorang hafidz ketika ia di pondok salafi nanti. Ia pun menjadi seorang lelaki yang cuek di pesantren nya, sebab ia tidak mau memikirkan masa lalunya, cukup Allah yang mengatur hidupnya sampai ia mempunyai pendamping nanti.
2 Tahun kemudian...
Subhanallah, setelah 3 tahun Fawaz belajar di sebuah pondok pesantren salafinya, akhirnya ia pun menjadi seorang hafidz Qur’an, keinginan yang selama ini ia inginkan akhirnya tercapai juga, ia mendapatkan predikat mumtaz di pesantrennya, ustadz-ustadznya sangat senang melihat anak didiknya mendapatkan predikat mumtaz, kebetulan hanya seorang Fawaz saja yang mendapatkan predikat mumtaz itu, saat diumumkan bahwa santri terbaik itu Fawaz, orang tuanya pun bangga melihat anaknya telah sukses. Ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah, Fawaz pun memilih untuk kuliah di IIQ ( Institut Ilmu Al-Qur’an ),walaupun swasta, ia merasa dirinya nyaman ketika kuliah nanti, ia berkata dalam hatinya :
“ Semoga di perkuliahan nanti, Aku bisa lebih menjaga pandangan sampai Aku bisa menemukan seorang bidadari yang mendampingi hidupku.” Ucap dalam hatinya Fawaz.
Hari itu Fawaz baru pertama kali memasuki lingkungan perkuliahan, ia sangat senang sekali karena ia merasa sudah semakin dewasa, tetapi ia takut diluar sana ia terjerumus ke jalan yang salah, ia selalu berdoa agar imannya selalu kuat dalam keadaan apapun. Ketika di tempat kuliah nya ia tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan yang mirip sekali dengan Fatimah, tetapi ia sangat cuek untuk memikirkannya, ia langsung bergegas memasuki kelasnya. Kebetulan ia mengambil jurusan tafsir hadist, beruntungnya teman-teman sekelasnya sangat asyik, dan di kelasnya rata-rata kaum laki-laki, ia sangat nyaman disitu. Kedua orang tuanya sangat mendukung Fawaz untuk menjadi lelaki yang sholeh, yang bisa membawa kedua orang tuanya menuju ke surga. Ia termasuk orang yang aktif berdiskusi di kampusnya, ia pun sangat sopan dan ramah terhadap dosennya, ia memang lelaki yang sholeh.
Setelah pulang dari kampusnya Fawaz teringat ketika ia tidak sengaja melihat seorang perempuan yang mirip sekali dengan Fatimah, tapi Fawaz tidak percaya karena ia tidak yakin jika perempuan itu ada di sekitarnya, ia menyangka bahwa perempuan itu sudah jauh entah kemana. Fawaz mulai tidak menyangka kalau perempuan itu benar-benar ada disekitarnya, ia berandai-andai dalam hatinya “ Andaikan ia tidak jauh dan menghilang, pasti aku akan langsung menjadikan ia seorang pendamping hidup.” Itulah isi hati Fawaz saking rindunya dengan perempuan itu. Ia bersabar, supaya Allah akan mempertemukan mereka berdua di waktu yang tepat.
Pagi-pagi yang cerah Fawaz berangkat ke kampus, karena jarak antara rumah dengan kampusnya agak jauh, dan ia juga termasuk anak yang rajin. Ia pamit kepada kedua orang tuanya.
“ Umi, Abi, aku pamit dulu ya?doakan aku semoga aku dimudahkan oleh Allah dalam mencari ridho-Nya!” sambil mencium kedua tangan orang tuanya.
“ Iya umi dan abi akan selalu mendoakan mu, hati-hati ya nak?” jawab umi Fawaz.
“ Ya sudah, Fawaz berangkat dulu ya mi, bi, assalamualaikum...”
“ Waalaikumsalam.” Sahut abi dan umi nya Fawaz.
Sesampainya di kampus, Fawaz bergegas menuju kelasnya dengan melewati lorong-lorong kampus, ia berjalan terburu-buru karena ia takut terlambat. Tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak seorang perempuan hingga semua barang-barang yang dibawa oleh perempuan itu terjatuh.
“ Afwan, aku tidak sengaja, biarkan aku merapihkan buku-bukumu!” Fawaz meminta maaf tanpa melihat wajah perempuan itu, dan ketika ia telah merapihkan dan memberikan buku-buku itu kepada perempuan itu, Fawaz kaget, ternyata perempuan itu ialah sosok Fatimah.
“ Ohh iya tidak apa-apa, syukron.” Jawab Fatimah heran dengan sosok lelaki itu.
Tanpa berpikiran panjang Fawaz langsung masuk ke kelas, karena takut dosen nya datang.
Dikelas nya ia sempat bengong memikirkan hal itu, ia berkata dalam hatinya “ Apakah itu benar seorang perempuan yang dahulu hilang?”.
Seorang lelaki yang cuek itu mulai merasakan arti kehilangan seseorang yang dahulu ia suka, tapi ia tidak mau menjadi orang yang munafik dimata Allah, Fawaz mencari solusi agar ia bisa berada disamping perempuan itu. Solusinya yaitu “ MENIKAH” tapi ia belum siap dengan semua itu, ia harus meminta ridho kedua orang tuanya dahulu, dan ia harus istikhoroh dahulu sebelum mengambil keputusan, itulah hal berat dilakukan Fawaz.
Tapi Fawaz berusaha dan berdoa agar ia bisa mendapatkan seorang Fatimah untuk pendamping hidupnya, Fawaz berfikir kalau ia sekarang sudah dewasa, ia tidak boleh jadi orang cuek seperti di pesantren salafinya dulu, ia harus mencari jati dirinya. Ketika selesai kuliah Fawaz tidak langsung pulang tetapi ia duduk di sebuah taman yang tidak jauh dari kampusnya, ia tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan yang dikiranya Fatimah.
“ Apakah kamu Fatimah yang tinggal di desa melayu itu?” tanya Fawaz
“ Iyaa benar, kamu Fawaz yang sering menghadiri majlis ta’lim itu kan?” Fatimah balik menanyakan Fawaz.
“ Iya, sudah lama ya kita berpisah sejak pengajian itu, dan alhamdulillah kita bisa dipertemukan kembali disini.”
“ Alhamdulillah, aku sempat tidak mengikuti pengajian itu saat aku harus pergi hijrah ke sebuah pesantren, dan aku harus meninggalkan majlis ta’lim itu.”
“ Pantas saja kau tidak terlihat saat itu.”
“ Oh ya, apakah kamu meperhatikan ku saat aku tidak terlihat saat itu?” tanya Fatimah malu-malu.
“ Hmmm tidak juga, hehehe”. Jawab Fawaz tersenyum.
Pembicaraan mereka berdua pun terputus, dan itu ketika Fatimah pamit untuk pulang duluan karena telah dijemput oleh kakak lelakinya. Akhirnya Fawaz pun pulang ke rumah dengan menggunakan sepeda motornya. Sesampainya dirumah ia langsung menuju kamarnya untuk bersiap-siap sholat magrib di masjid dekat rumahnya.
4 tahun kemudian...
Fawaz pun telah menjadi mahasiswa terbaik di fakultasnya dengan jumlah IPK yang hampir sempurna yaitu 3,9. Ia sangat bersyukur sekali bisa menyelesaikan kuliahnya dengan lancar, dengan senang hati kedua orang tuanya pun ikut bahagia melihat seorang anaknya yang telah sukses. Inilah saat-saat nya Fawaz untuk bekerja sambil mencari calon pendamping hidupnya nanti, kebetulan juga Fatimah telah lulus kuliah tepatnya ketika Fawaz lulus. Kini Fawaz telah menjadi ustadz di sebuah majlis ta’lim yang ia dulu pernah datangi sebelum ia masuk pesantren salafi.
Ketika ia sedang ceramah di depan masyarakat dalam sebuah acara pengajian di majlis ta’lim itu, ia melihat seorang perempuan yang bernama Fatimah menghadiri acara pengajian itu, Fawaz tidak menyangka bahwa sosok perempuan itu berada di dalam majlis ta’lim dan mendengarkan ceramah Ustdz Fawaz itu. Fatimah memandang Fawaz dengan senyuman manisnya, perempuan sholehah dan cantik itu ialah perempuan yang diinginkan Fawaz dari dulu sejak ia SMP. Fawaz selalu bersabar untuk mendapatkan dirinya karena ia sempat kehilangan perempuan, dan akhirnya Allah mempertemukan mereka ketika mereka sebelum mengambil keputusan untuk melamar Fatimah, Fawaz harus terelebih dulu meminta restu kedua orang tuanya dan sholat istikhoroh untuk menentukan Apakah Fatimah itu tepat menjadi pendamping hidupnya Fawaz atau tidak? Fawaz pun terus berikhtiar agar ia mendapat pendamping hidup yang bisa menjadikan keluarga yang sakinah mawadah warohmah.
Setelah pengajian berakhir Fawaz tidak langsung pulang ke rumahnya, tetapi ia berbicara dengan Fatimah soal keberadaan ia di majlis ta’lim itu.
“ Fatimah....” panggil Fawaz ketika Fatimah keluar majlis ta’lim.
“ Iya Fawaz, ada yang ingin aku bantu?” Fatimah pun menengok ke arah Fawaz.
“ Oh tidak, aku ingin menanyakan suatu hal.”
“ Hmm silahkan!” jawab Fatimah dengan memberikan senyuman yang indah.
“ Semenjak kapan kamu kembali ke pengajian di majlis ta’lim ini Fatimah? Tanya Fawaz.
“ Ohh itu, semenjak aku lulus kuliah aku sudah mulai datang kemari untuk mengikuti pengajian, karena aku sangat rindu dengan pengajian disini.”
“ Syukurlah Fatimah kalau kamu rindu dengan majlis ta’lim ini, dan sama saja kau telah merindukan taman-taman surga, semoga kamu istiqomah mengikuti pengajian disini.”
“ Insya Allah Ustadz.”
“ Baik, kalau begitu Aku pamit dulu, assalamualaikum!”
“ Waalaikumsalam Ustadz.”
Fatimah memang setelah lulus ia langsung mengikuti pengajian di majlis ta’lim itu kembali, tetapi Fawaz tidak mengetahuinya karena Fawaz mulai menjadi Ustadz 2 minggu setelah ia lulus kuliah. Fawaz akan selalu istiqomah dengan pengajian itu, dengan kehadiran seorang Fatimah di pengajian itu Fawaz berfikir jika nanti ia sudah menikah dengannya, Fatimah bisa menggantikan posisi dirinya ketika Fawaz berhalangan untuk ceramah.
Adzan shubuh berkumandang, Fawaz pun terbangun untuk melaksanakan sholat shubuh berjama’ah di masjid. Setelah sholat di masjid ia berjalan menuju rumahnya dan teingat oleh mimpinya semalam. Ia bermimpi Fatimah mengikuti sholat jama’ah di rumahnya, dan posisi Fawaz yaitu sebagai imam, ketika selesai sholat mereka berdua bersalaman. Apakah itu pertanda bahwa Fawaz akan menjadi imamnya Fatimah nanti, Fawaz pun langsung menceritakan hal ini kepada umi dan abinya.
“ Umi, abi semalam aku bermimpi menjadi imam, dan ma’mum nya ialah seorang perempuan yang cantik, sholehah ia bernama Fatimah, apakah itu pertanda buat diriku?”
“ Apakah kamu mengenal dia Nak?” tanya Abi
“ Aku mengenal dirinya sejak dulu abi, sejak aku mengikuti pengajian di majlis ta’lim itu, dan ketika itu aku sudah tidak melihatnya di pengajian, karena ia hijrah ke sebuah pesantren. Aku menghapuskan rasa itu sampai aku bertemu kembali di majlis ta’lim ketika aku telah menjadi Ustadz di pengajian itu abi.”
“ Banyaklah berdoa Nak, minta petunjuk dari Allah, semoga diberikan jalan yang benar untuk memilih calon pendamping hidup yang baik.” Kata Umi.
“ Iya Umi, Fawaz selalu menyelipkan nama Fatimah ketika berdoa, agar Fawaz bisa menjadi seorang imamnya Fatimah nanti.”
“ Kalau kamu sudah siap untuk menikahi Fatimah, lamarlah Nak sekarang! Semakin lama kamu berdiam semakin banyak dosa atas zina hatimu Nak. Abi dan umi Insya Allah akan merestui mu menikah dengan Fatimah.” Pesan Abi.
“ Baik abi, kalau abi dan umi telah merestui Fawaz untuk menikah dengan Fatimah, Fawaz akan segera melamarnya.”
Abi dan uminya Fawaz telah merestui anaknya untuk menikah dengan perempuan sholehah itu, besok pagi bersama kedua orang tuanya Fawaz pergi ke rumah Fatimah untuk melamar perempuan itu.
Keesokan harinya Fawaz dan kedua orang tuanya pergi ke rumah Fatimah untuk melamarnya.
“ Assalamualaikum.” Sambil mengetuk pintu.
“ Waalaikumsalam, silahkan masuk.” Jawab ayahnya Fatimah
“ Oh iya terima kasih pak. Begini pak anak saya ingin melamar putri bapak yang bernama Fatimah.”
“ Ohh sebentar ya saya panggilkan dulu Fatimahnya.”
Sambil menunggu Fatimah keluar dari kamarnya Fawaz menunggu dengan tenang, ia tau Allah selalu bersamanya.
2 menit kemudian...
Fatimah pun keluar dari kamarnya dengan senyuman manisnya.
“ Fatimah, Fawaz ingin melamarmu untuk menjadi imam mu, apakah kamu bersedia Nak? Tanya ayah Fatimah.
“ Insya Allah pak aku memang sudah mendapatkan jawaban dari istikhoroh ku pak.”
“ Silahkan Nak Fawaz ada yang ingin disampaikan untuk Fatimah?”
“ Baiklah Fatimah aku ingin meminangmu dengan bacaan bismillah.”
“ Baik Fawaz akan aku terima juga dengan bacaan bismillah juga.”
“ Alhamdulillah.” Ucap keluarga Fawaz dan Fatimah.
Setelah beberapa hari Fawaz melamar Fatimah, akhirnya mereka berdua pun sampai ke pelaminan. Acara pernikahan mereka berjalan dengan lancar tanpa ada sedikit pun halangan. Teman-teman Fawaz dan Fatimah pun menghadiri acara pernikahan tersebut, semoga mereka menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Dan akhirnya mereka berdua pun hidup bahagia sampai mempunyai seorang anak.
SELESAI...
KAMU SEDANG MEMBACA
Rasa Yang Terpendam
RomansaSebelum masuk pesantren salafi Fawaz pernah dekat dengan seorang perempuan yang bernama Fatimah, ia perempuan sholehah dan cantik dimata Fawaz, hampir sekali Fawaz suka dengannya dan hampir jatuh terjerumus oleh godaan setan, akan tetapi Fawaz berus...
