Awal yang Indah?

212 16 0
                                        

Indonesia...
Indonesia...
Indonesia...

Riuh gemuruh di Barclaycard Arena menjadi semangat tersendiri bagi pasangan Kevin Sanjaya Sukomuljo dan Marcus Fernaldi Gideon. Dukungan dari para penggemar olahraga tepok bulu ini semakin membakar semangat pasangan muda Indonesia. Keinginan kuat menjadi juara dan membawa nama harum bangsa Indonesia adalah cita-cita yang tak akan pernah padam pada jiwa mereka.

Pahlawan olahraga, julukan yang pantas bagi mereka. Aksi lincah nan mengagumkan mereka dilapangan patut diperhitungkan lawan. Service dan defense apik mereka sering membuat lawan keteteran. Bahkan penonton sering dibuat gemas dengan aksi tak biasa  mereka.

21-14 ...
Skor kemenangan laga final pasangan Indonesia atas pasangan Tiongkok, sorak sorai penggemar setia badminton Indonesia di Barclaycard Arena semakin membahana.

"Aaaaa... Kevinn Sanjayaaaaa!! Love youuu!" Teriak histeris gadis yg duduk di antara kerumunan para penonton. Bahkan air matanya menetes melihat sang idola dapat mengakhiri perjuangan tanpa sia-sia.  Bangga akan nama bangsa dengan rasa nasionalisme masih tersisa dijauh lubuk hatinya. Biar dikata hidup dinegara orang, tapi Nara -nama gadis itu- jelas masih memiliki jiwa nasionalisme yang kuat.

Matanya kembali berkaca-kaca menatap sang idola. Dalam hatinya berdoa 'Tuhan, pertemukan aku dengannya. Jika bukan sebagai kekasihnya, ijinkan aku bertemu denganya sebagai penggemar setianya.'

*****

Euforia kemenangan Indonesia di ajang perbulutangkisan tertua di dunia itu tidak terlewat begitu saja. Sampai berhari-hari lamanya beritanya masih saja diperbincangkan.

Nara terduduk di kursi bandara, matanya menelusuri setiap titik yang ada. Pasti dia akan merindukan Inggris, bagaimanapun ia telah tinggal disini lebih dari 7 tahun. Sejak usianya 12 tahun ia terpaksa harus ikut sang ayah menetap di Inggris, pekerjaan sang ayahlah yang menuntutnya berpetualang menjelajahi dunia. Kini tiba waktunya Nara untuk pulang ke Indonesia. Studynya telah selesai, dan rasa rindu akan tanah airnya mendorongnya untuk pulang dan bertemu dengan keluarganya.

Pemberitahuan keberangkatan kembali terdengar, Nara menarik kopernya menuju pintu keberangkatan. Tak banyak barang yang dibawanya, hanya satu koper berukuran sedang dan ransel kecil di punggungnya.

Tepat dibelakang Nara, berdiri seorang pria putih berperawakan kecil. Matanya menatap intens pada ransel Nara. Kemudian sang pria tersenyum kecil. Cukup unik menurutnya.

Nara duduk dibangku nomor 254, dipindahkan ransel dipunggunnya kepangkuannya. Nara berniat mengambil handphone dibagian terdepan tasnya. Namun gerakan tangannya terhenti begitu melihat gantungan pada ranselnya itu.

'Kevin Sanjaya'

Gantungan berbentuk hati bertuliskan nama sang idola menarik perhatiannya. Digengamnya gantungan itu dan didekatkan pada hatinya. Matanya terpejam seolah dapat merasakan 'hati' yang berada di gengamannya. 'Apa salahnya mencintai idola?' Pikirnya.

Tanpa Nara sadari seorang yang duduk dikursi sampingnya tersenyum geli. Matanya memerhatikan Nara yang sedang terpejam seraya tersenyum dan mengeratkan gengeman gantungannya.

"Ehemm.." suara itu sontak mengejutkan Nara. Kepalanya menoleh kesamping kanannya. Matanya membulat sempurna dan mulutnya mengganga. Terkejut. Itu yang Nara rasakan saat ini.

"Ba.. ba .. gaimana bisa...? Oh Tuhan. Aku sedang tidak bermimpikan?"

"Kau jelas sedang terjaga nona."

"Ya Tuhan.. kau bicara! Kau nyata?"

Kevin tersenyum geli melihat reaksi Nara. Bagaimana bisa katanya penggemarnya tapi tak mengenalinya mulai dari pintu keberangkat bandara.

"Jelas aku nyata."

"Ya Tuhann.. akhirnya.. aaaaa.."

"Ssstt.. kau bisa mengganggu yang lainnya."
Nara sontak menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Maafkan aku. Mulutku mulai tak terkontrol saat aku bahagia" Ujar Nara diakhiri dengan senyuman. Matanya masih saja menatap kagum pada Kevin Sanjaya, 'benarkah ini idolanya?'
Mulutnya meringis membayangkan bahwa ini hanya halusinasinya.

"Ee.. boleh aku berjabat tangan denganmu? Aku adalah penggemarmu."

"Aku tau." Jawab Kevin sambil menjabat tangan Nara.

"Ya ampun, kau benar benar nyata."

"Kau anggap aku ini apa? Makhluk halus?"

"Bahkan ketengilanmu juga nyata." Nara masih belum percaya bahwa lelaki di sampingnya adalah Kevin.
'Tuhan inikah caraMu mempertemukanku denganya?'

"Ternyata image tengilku melebihi popularitasku. Hmm.."

"Akuu... namaku  Putri Ainara, kau bisa memanggilku Nara." Nara kembali mengacungkan tangannya.

"Baiklah Nara. Bisakah kau diam. Perjalanan sampai Jakarta masih lama. Aku ingin istirahat." Kevin menyandarkan punggungnya dengan sedikit serong membelakangi Nara.

"E.. ee.. oh baiklah. Tidurlah"
Nada bicara melirih diakhir katanya. Hal itu membuat Kevin tersenyum geli, kemudian memejamkan matanya.

TBC~

Nb. Huwaaa.. apa ini??? Nyimpang banget😂😂 semoga suka lah :'v

Ke-RaStories to obsess over. Discover now