Satu

0 0 0
                                        

Ini hari senin, dan hari paling aku benci. Why? Karena aku selalu bangun kesiangan, tapi tidak pernah ada kata telat dikamusku.

"Bangun hey, udah jam 5 subuh loh. Kamu gak mau telat da dihukum kan?" yaa,  suara lembut itu. Suara yang sangat Ku kenal, mama. Satu satunya orang yang paling sabar menghadapi sikapku.
"Iyaa ma, 5 menit lagi ya?" pintaku dan langsung menarik selimut menutupi kepala.
"Gak bisa,  cepet bangun. Kalo engga gue siram pake air mau?" ya itulah, suara yang tidak asing dan sangat mengganggu. Dialah kak briyan, kakaku satu-satunya.
"Iya iya ini gue bangun kak, jahat banget si lo jadi abang" umpatku dengan memajukan bibir sepanjang 5cm, lalu langsung beranjak dari ranjang m bergegas mandi.

30menit waktuku untuk mandi dan bersiap, benar saja suara pengganggu itu kembali berteriak.

"Woy dek, buruan napa. Gue tinggal nih ya?" Shit, dia sungguh mengganggu
"Iya bawel, bener-bener ya lo sama adek jahat banget. Iya ini gue turun ogeb" tanpa basa-basi langsung ku sambar tas dan handphone lalu buru-buru berlari menuju abangku tersayang(ternyebelin sedunia).
"Ah elah lama amat lo dek"
"Lahh elo kagak sabaran, yaudah maapin adekmu ya bang Briyan" ucapku dengan nada *menjijikan.
"Dih najis, apaan sih lo Naura Anjani Kusuma" sudah gue duga, pasti ngomong gitu. Emang dasar itu mulut perlu gue sumpel, ke adeknya aja gitu bayangin aja ke yang lain gimana.

15 menit gue dan bang Briyan sampai ke sekolah kami, yaa kami hanya beda satu tahun tapi mama dan papa sepakat kalo gue dan abang gue disekolahin dari tahun yang sama. Harusnya abang gue sekarang kelas 12 karena dia nunda satu tahun untuk menunggu gue. Sekarang dia jadi kelas 11 dan seangkatan sama gue.

"Sono masuk" ucapnya sambil mengacak-acak rambut.
"Ishh apaan si lo bang, jadinya berantakan" ucapku dengan nada jengkel
"Haha iya sorry, abisnya adek kecil gue cantik banget sih" dengan nada yang amat sangat iyuhh
"Najis lo bang, sono gih. Oiya jangan bolos lagi yaa Briyan Giovano Kusuma, nanti gue aduin ke bokap" ucapku dan langsung berlari menuju kelas.

Sesampai dikelas aku langsung duduk dibangku ku dengan sahabat kecilku, Dina. Dialah sahabat yang benar-benar sahabat, tentu kalian mengerti maksud perkataanku kan? Zama sekarang yang namanya benar-benar sahabat dapat dihitung dengan jari.

"Haloha, pagii Din" sapaku dengan tersenyum manis
"Gila lo, pagi-pagi mau buat orang budek?" ketusnya
"Eh, haha yaa sorry" kataku sambil cengengesan
"Dasar, ohiya abang lo makin hari makin ganteng aja ra. Bisa kali buat gue?"
"Lo kira abang gue beras? Main pinta-pinta aja. Dijamin lo bakal kagak betah sama dia, jangan salah paham. Cuma gak mau sahabat gue sakit hati gara-gara abang gue sendiri, gue udah hafal betul sifat playboynya yang cap kampak itu" jelasku dengan serinci mungkin.
"Iyaa gue tau lo sayang sama gue, tapi kalo gue milih tetap mendekati duri itu gimana?" tanya nya dengan serius.
"Tap-" belum sempat aku berbicara, bel sudah berbunyi menandakan jam pelajaran pertama dimulai.

Selesai sudah pelaksanaan belajar-mengajar, kini tibalah saatnya istirahat.

"Ra, kantin yuk? Gue laper" ajak Dina.
"Yuk, gue juga" jawabku dengan antusias, karena daritadi cacing diperut sudah meronta meminta jatah.
"Duduk disitu yu?" ajak Dina
"Dimana aja yang penting makan" jawabku

Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Naura dan Dina,  seseorang yang sangat Naura kenal

"ra, boleh gue duduk disini?" tanya seseorang
"Ke kelas yuk, tiba-tiba gue udah gak selera makan" ajakku langsung menarik tangan Dina dan pergi meninggalkan seseorang itu dikantin.

"Shit, padahal gue laper. Lagian apa-apan sih orang apatis itu segala duduk disebelah gue. Ogah bangat hih! " umpatku dalam hati
"Ra hey!" tangan Dina yang melambai-lambai didepan muka membuyarkan lamunanku
"Ehh iya?" tanyaku pada Dina
"Lo kenapa sih selalu menghindar? Dari satu tahun yang lalu loh." sial, lagi-lagi Dina membahas ini
"Au ah gelap, gue ke kelas duluan ya" hindarku dan langsung berlari.

Menghindar?
Ada dua hal yang bersebrangan dan sungguh membuatku frustasi. Sisi lain aku selalu ingin di dekatnya, tapi sisi lain sangat menolak. Karena semakin aku mendekat dia malah semakin jauh. Kenapa serumit ini?

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: May 12, 2017 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

Aku Tetap Mencintaimu Dalam DiamkuHistórias para pegar e não largar. Descubra agora