Prolog

11 0 0
                                        

Perjalanan hidupku sudah dimulai saat aku lahir, aku sadar begitu juga dengan semua orang. Namun yang kumaksud bukanlah perjalanan hidup yang dialami oleh orang lain. Bukan seperti anak pada umumnya, yang menetap tinggal di suatu tempat, pergi bersekolah di sekolah umum. Well you got the point. Saat umurku baru menginjak 3 tahun, Kedua orangtuaku sudah membawaku ke Hutan Amazon dan menetap disana hingga umurku kira kira 5 tahun. Selanjutnya mereka membawaku ke sebuah kota kecil di Gurun Sahara. Berbeda dengan Hutan Amazon, disana kami menghabiskan waktu lebih lama. Kurang lebih 5 tahun. Belum selesai ceritaku, pada umur 10 tahun aku sudah mendaki gunung tertinggi di dunia. Everest. Bahkan aku hampir terkena hipotermia yang bisa menyebabkan kematianku. Jika kau berpikir aku terkena hipotermia membuat kedua orangtuaku berhenti membawaku mengikuti 'petualangannya' kau salah besar. Ibu bilang kejadian buruk itu ada agar kita lebih berhati hati dengan alam sekitar kita. Bukan berarti kita dan alam tidak bisa berteman, namun itulah cara alam berteman dengan kita. Dan aku setuju dengan pendapatnya.

Kau masih bertanya apa yang kulakukan? Apa yang kedua orangtuaku lakukan? Mereka berdua adalah seorang scientist. Ya ya aku tahu apa yang kalian pikirkan. Bukankah harusnya mereka bekerja di laboratorium? Menyampurkan dua bahan kimia dengan bahan kimia lainnya? Tentu tidak. Tugas mereka lebih menakjubkan dan mengasyikan dari itu. Mereka meneliti iklim, dan mahluk hidup ditempat yang mereka kunjungi. Tidak hanya itu, Pamanku adalah seorang dokter yang juga mengikuti perjalanan kami bertekad menyembuhkan orang-orang yang tinggal di daerah terpencil dan sulit dijangkau ( itu alasan mengapa kami lebih lama berada di Gurun Sahara ), juga membantu masalah yang mereka hadapi.

Aku tidak pergi sekolah tentunya. Tidak harus kujelaskan lagi mengapa kan? Namun bukan berarti aku tidak mengeyam pendidikan apapun. Semua orang yang termasuk kedalam kru penelitian kedua orangtuaku bergantian mengajarkanku segala hal. Mulai dari membaca, menulis, berhitung, mengenal lingkungan sekeliling, bahkan mungkin pelajaran yang tidak bisa kalian dapatkan saat bersekolah umum. Dan bukannya sombong. Ayah bilang jika kita kembali kerumah dan menetap. Dia akan langsung memasukanku ke sebuah Universitas ternama di Indonesia.

Bukannya kami tidak pernah kembali ke Indonesia, hanya saja saat kami merencanakan kepulangan ke Tanah Air. Terjadi konflik antara sebuah partai Komunis dan Tentara Nasional Indonesia. Maka dengan berat hati kami harus membatalkan rencana kepulangan. Salah satu anggota kru nya menyediakan tempat dengan tangan terbuka. Dan aku tidak keberatan sama sekali, aku bisa menjelajah sebuah wilayah baru.

Saat ini umurku 16 tahun. Well 17 tahun jika kau mau menunggu esok pagi. Dan aku sangat tidak sabar. Ayah berjanji akan mengirimku ke Vatikan. Sendirian. Pada awalnya Ibu menentang keras keputusan Ayah untuk mengirimku ke Vatikan. Namun segala cara sudah aku lakukan untuk membujuk ibu agar memberikan aku izin. Hingga akhirnya ibu setuju dengan jangka waktu tinggalku disana dikurangi. Hanya 2 minggu. Itu bukan masalah besar untuk ku. Dengan waktu 2 minggu, bukan hanya aku bisa mengunjungi tempat terkenal di Roma. And lucky me, Ayah sudah menyiapkan segala dokumen yang aku butuhkan selama aku disana.

"Baiklah ini sudah semuanya. Tapi mengapa rasanya ada yang kurang ya?" gumamku kebingungan. Kulihat sekeliling kamarku. Tidak menemukan apa yang kucari kuputuskan untuk berhenti mengemas barang barangku dan pergi ke dapur.

Kudapati Ibu dan Ayah sedang memasak sarapan. Ayah bercanda, memainkan adukan ibu untuk membuat panekuk. Umur mereka memang sudah memasuki umur 40 tahun. Namun setiap saat kulihat mereka. Yang kulihat hanya sepasang remaja yang sedang dimabuk cinta.

"Selamat pagi kalian berdua!" seruku,menyadarkan mereka bahwa aku berada di dapur juga. Keduanya melihatku malu - malu,menyadari kegiatan mereka dilihat oleh anaknya.

"Selamat pagi Rei!" sahut Ayah terlebih dahulu sambil menghampiri dan memeluk tubuh mungilku. "Semangat untuk hari ini?" tanya ayah seraya melepaskan pelukannya. Sebelum aku bisa menjawab, ayah menyentuh pipiku dengan jari telunjuknya. Baru kusadari ada yang aneh saat dia melepaskan telunjuknya."Ayah!! Akan kubalas!" Ucapku sambil bergegas menghampiri ibu untuk mencelupkan jariku kedalam adukan yang sama yang ayah gunakan. Namun sebelum aku mencelupkan jariku, ibu sudah melototiku terlebih dahulu. "Jika ada satu orang lagi yang memainkan adukanku,maka aku akan mogok masak!" ujar ibu. Aku dan ayah berhenti mendengar ancaman ibu. Sudah bukan rahasia jika masakan ibu adalah masakan paling enak di seluruh dunia. And I'm not ready for her to stop cooking for us.

Du hast das Ende der veröffentlichten Teile erreicht.

⏰ Letzte Aktualisierung: May 30, 2017 ⏰

Füge diese Geschichte zu deiner Bibliothek hinzu, um über neue Kapitel informiert zu werden!

DimensiWo Geschichten leben. Entdecke jetzt