Merah terang.
Warna kesukaanku.
Warna yang membuatku berani sesuai filosofinya.
Warna yang ia benci.
Namun warna itu juga yang membuatku terjerat pada api iblis, yang membara semerah darah.
Merah terang.
Wanita berzodiak leo, hari ini mempunyai keberuntungan tinggi jika mengenakan warna merah. Maka dari itu Sahaya menggunakan baju dengan warna kesukaannya. Tentu saja dengan hati bahagia dan berbunga-bunga. Dalam jangka hidupnya mengenal smartphone disaat usia remaja, begitu banyak aplikasi yang bertebaran. Sahaya tak pernah menghapus aplikasi zodiac di sana. Dan hari ini momen yang ditunggu akhirnya tiba dalam rentang waktu 5 tahun baru kali ini warna kesukaannya tertulis di sana. Jika kau menganggap Sahaya terlalu mengikuti saran perbintangan, hal itu tidaklah benar. Karena meskipun di sana tertulis warna lain, maka Sahaya tetap menggunakan warna merah. Sekalipun warna itu berdampak sial. Sahaya berdecak karena nyatanya kesialan itu tak pernah terjadi dan terkadang datang secara tak terduga. Dan sekuat apapun ia mencoba untuk terlindungi dari hal buruk, tetap saja masalah datang tak diundang. Sahaya menekuk wajah, bukankah masalah juga kesialan.
Seperti sekarang ini, ia harus berkutat mengejar deadline yang menumpuk karena orang itu selalu menolak rencananya. Bagaimana bisa pria itu memperlakukannya semena-mena seperti ini. Jika ada yang bisa menyadarkan Sahaya saat ini juga, sudah pasti orang itu terkena tampang sinisnya atau makiannya. Bukan berterima kasih pada orang yang menyadarkannya disebabkan fokus gadis ini sudah tergantikan dengan gerutuan yang berkepanjangan tentang pria itu. Membuat risih semua orang yang berada satu ruangan dengannya tapi siapa yang sudi menegur macan sedang mengamuk. Laki-laki yang tidak menyukai Sahaya karena satu alasan yang tak masuk akal. Lantai ini terlarang warna merah, lebih tepatnya perusahaan ini diharuskan membenci satu unsur warna yang menjadi pigmen utama dalam semua warna mencakup di dunia ini. Sudah dipastikan ia nyeleneh begitu memberi hormat pada sang saka yang tergantung di atas sana. Atau ia hanya memandang warna putih saja, menganggap satunya tak ada. Jika begitu hidup saja di negara lain. Di bendera yang tak mempunyai warna merah. Silahkan cari jika tak ada beli negara untuk dirinya sendiri. Itu akan lebih baik jika dia ditendang dari Indonesia sehingga Sahaya tidak akan berurusan dengan orang seperti itu.
Namanya Hendrik Alfiansyah, ah!. Sahaya membenci nama itu. Nama sial itu selalu membelenggunya dari masa kanak-kanak sampai dikategorikan dewasa saat ini. Dua puluh lima tahun Nopember nanti, sungguh sial nasib Sahaya terjebak dalam dunia tukang pamer sepertinya. Jangan salahkan bunda mengandung dan berteman sejak SMA dengan Ibu dari pria sialan ini. Bahkan Sahaya tak bisa membayangkan jika dia telah mengenal orang itu dari cabang bayi. Lihat saja bukankah hidup Sahaya tidak ada beruntung-beruntungnya, bagaimana ia percaya dengan ramalan perbintangan, primbon atau semacamnya. Hidup saja sudah dipenuhi aura kebencian pria itu. Hendrik Alfiansyah.
"Sudah cukup!". Sahaya membanting hasil pekerjaannya di atas meja, dibarengi dengan suara gebrakan setelahnya. Semua orang tersentak membulatkan mata kearahnya dengan ekspresi was-was. Bahkan Pak Ferdi terbatuk-batuk karena tersedak ketika meminum minumannya. Sahaya berjalan dengan kecepatan kilat dan hentakan kaki yang terdengar nyaring oleh ke lima pegawai dalam ruangan itu.
"Dia akan mengamuk padanya". Komentar Siska yang melihat Sahaya membanting pintu Kepala Direksi tanpa mengetuk atau diijinkan masuk setelah permisi terlebih dahulu.
"Kenapa kau lakukan itu?!". Sahaya berkacak pinggang dihadapan Hendrik Alfiansyah. Kemarahannya sudah ada di ujung ubun-ubun. "Kau selalu saja memperlakukan karyaku seperti sampah di depan karyawan lain". Keluhnya yang tersimpan sejak meeting internal dengan tim redaksi. Bagaimana Sahaya tidak marah jika karyanya langsung ditolak mentah-mentah tanpa penjelasan apapun.
"Memangnya apa yang telah kulakukan?". Sahaya menghembuskan nafas kesal, ingin sekali ia menjambak-jambak pria yang dihadapannya. Tidak!. Menjambak, memangnya dia perempuan yang memiliki rambut panjang. Cih!. Haruskah kutampar, dia bukan kekasih yang berselingkuh. Sahaya lebih menginginkan dirinya di jebloskan ke dalam lubang yang dalam. Apalagi ia bukanlah tembok, dia manusia. Dan orang ini menganggapnya tidak ada.
YOU ARE READING
RED
RomanceBegitu hati bisa tertaut bersama, mengapa mencoba melepaskannya. Apa kau takut akan kedekatan itu?. Atau kau takut dihianati?.
