Aku menimbang-nimbang dua lembar karcis kereta dengan jurusan Busan ditanganku. Masih ada sepuluh menit sebelum jadwal keberangkatan. Aku masih menunggunya datang. Dia bilang tak ingin dijemput dan mengatakan akan berangkat ke stasiun Seoul seorang diri. Aku kadang bingung dengan jalan pikirannya itu. Sebagai seorang gadis, dia selalu berada di luar perkiraanku. Ya, dia gadis yang cantik dan indah, tapi dia juga bisa menjadi semua yang mungkin orang lain tak pernah pikirkan tentang dirinya. Itulah kenapa aku begitu menyukainya.
Masih ada sembilan menit dan dia belum juga datang. Aku menjadi ragu apakah dia akan datang atau tidak. Geliat udara di sekitarku tak juga menjawab pertanyaan itu. Kosong. Hanya hatiku yang sedari tadi bertalu-talu.
Kursi-kursi peron dipenuhi oleh penumpang yang menunggu. Menunggu datangnya kereta, atau menunggu seseorang sepertiku. Ada berbagai wajah menunggu yang bisa kulihat. Ada yang berbinar senang, sedih, tenang, resah, gelisah, khawatir dan marah. Seorang pria setengah baya di sebelah tiang terlihat tenang dengan koran di tangannya, tapi beberapa kali ia melihat ke arlojinya dan kembali meneruskan susunan kalimat dalam koran paginya. Ibu tua yang berdiri di samping jalur rel terlihat sedih dan gelisah, ia terus melihat pada arah kedatangan kereta yang ditunggunya. Seorang wanita muda, cantik juga berdiri di samping rel kereta. Ada kemarahan di sekitar mata lentiknya, berkali-kali ia menghentakkan kaki ke lantai. Stiletto yang berujung runcing itu mungkin bisa membunuh seseorang yang situnggunya. Benar-benar wanita cantik yang mengerikan.
Termometer sudah menunjukkan suhu 3o celcius saat ini, semua orang terlihat mengenakan jaket tebal. Dari koran yang kubaca sekilas pagi ini, suhu akan berkisar antara -2o celcius sampai 7o celcius. Cuaca yang sangat mendukung untuk bersantai dan menyeruput cappuccino latte. Lima menit sudah berlalu, masih ada lima menit lagi sebelum KTX itu membawa penumpang tujuan Busan. Tapi dia belum juga muncul. Apa dia masih tertidur atau terlambat bangun dan sekarang sedang terburu-buru untuk berangkat kemari? Tapi terburu-buru bukanlah bagian dari dirinya yang kuketahui.
Pukul tujuh kurang tiga menit.
Aku semakin terkungkum dalam kegelisahan. Dia belum juga datang? Berkali-kali kucoba untuk mengubungi ke ponselnya dan hasilnya, aku selalu dialihkan ke mailbox.
"Kau ada dimana? Cepatlah datang, sebentar lagi kereta segera berangkat"
Satu menit kembali terlewati. Menunggu memang menyebalkan, mencemaskan dan tentu saja membuang waktu. Tapi kadang demi seseorang banyak yang rela menunggu sampai mati. Aku pernah mendengar cerita mengerikan tentang orang yang menunggu. Diceritakan bahwa ada sepasang kekasih yang berjanji bertemu di sebuah stasiun kereta. Jika sang kekasih tak datang pada waktu yang ditentukan maka ia harus meninggalkan stasiun itu atau ia akan merubah menjadi kupu-kupu. Seketika aku bergidik mendengar cerita itu, aku tak ingin menjadi kupu-kupu.
"Kenapa lama sekali?" Suara lelaki di sampingku mengusik lamunanku tentang cerita tak jelas itu. Ia berdiri sambil melirik ke arah jalur kereta, sesekali menilik arloji di tangannya.
Korean Train eXpress nomor 111 tiba di jalur sembilan. Aku memilih keberangkatan jam tujuh pagi dan diperkirakan sampai pukul 09.45. Korean Train eXpress atau KTX merupakan kereta kecepatan tinggi dengan teknologi Perancis, bahkan ada yang bilang kecepatannnya melebihi shinkansen, kereta express milik Jepang. Dengan kecepatan rata-rata 300 km/jam kita bisa sampai ke Busan dalam 3 jam. Jika menggunkan kereta biasa mungkin baru tiba enam jam kemudian.
Begitu pintu dibuka, puluhan orang keluar dari kereta seperti lebah yang terganggu sarangnya. Mereka berhamburan di segala arah mata angin dan seketika membuat stasiun ini menjadi semakin penuh. Para penumpang yang sudah menunggu sedari tadi mulai masuk ke dalam kereta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Two Pieces of Hope
Fiksi Penggemarbagi seseorang menunggu kadang menjadi perkara yang begitu menyenangkan, mendebarkan sekaligus mengkhawatirkan.
