Only One

85 15 15
                                        


    Awan masih berdiri kokoh di sana, bergelayut manja pada langit yang tak keberatan sama sekali dan malah dia tersenyum sangat bahagia bisa menjadi rumah untuk awan pulang meski berkali-kali angin menyeret awan untuk menjauhi langit. Tapi takdir sudah ditentukan, awan diciptakan hanya untuk langit,  jadi seberapapun angin berusaha menjauhkan mereka pastinya takdir akan selalu mempersatukan mereka.

Kututup buku catatanku lalu kumasukkan ke dalam laci meja belajarku. Mataku menatap jengah tugas skripsi yang ada di depanku ini. Tumpukan buku referensi yang kupinjam dari perpustakaan kampus berkeliaran tak beraturan, kertas bekas yang tercecer, dan juga laptop yang tergeletak naas di sudut meja belajarku yang sangat luas ini.

LINE

Telingaku menangkap nada dering dari ponselku, ada chat masuk. Mataku menyusur kamar yang sangat berantakan, dan ya di sana, di atas meja kecil yang terletak di sudut kamar tidurku.

Dengan gesit aku meluncur mengambil ponselku dan membukanya.

Adhira Kirana : Ke starbucks yuk, Kei. 20 menit lagi aku jemput. See ya.

Dan tak ada alasan untukku menolaknya karena di rumah saja juga membosankan. Setelah memastikan balasan untuk pesan singkat itu terkirim,  jenjangku dengan gesit bersiap untuk pergi bersama sahabatku tersayang itu.

***

“Kamu tau gak? Ada dosen pembimbing baru loh, Kei,” ucap Gadis berkacamata itu dengan penuh semangat. Raut wajahnya bersemu merah saat menceritakan betapa mempesonanya dosen pembimbing baru di kampusnya.

“Iya deh nanti coba kamu pendekatan sama dia, Dhira. Kali aja nyangkut trus ke pelaminan. Hahaha.” Keira tergelak membayangkan sahabatnya akan menikah dengan dosen pembimbingnya sendiri.

Mana ada dosen pembimbing yang masih ganteng dan masih muda,’ batin Keira mengejek.

Dhira malah tersenyum-senyum membayangkan ledekan Keira bila menjadi kenyataan. Takdir bisa saja berkata demikian jika memang sudah tertulis seperti itu dan Dhira tidak keberatan sama sekali.

“Daripada kamu. Digantung gak jelas sama siapa tuh namanya aku lupa. Udah berapa tahun ini? gak pernah ngasih kabar. Kamu yakin gak mau nerima cinta yang baru?” Keira langsung terdiam, sorot matanya tiba-tiba kosong.

Memang benar perkataan sahabatnya itu. Dia mungkin tak akan datang dan tak akan pernah. Tapi Keira yakin bahwa maya bukan berarti tidak ada dan Keira yakin dia akan datang. Tak ada jawaban pasti dari bibir mungil Keira, hanya deheman kecil untuk menetralisir nyeri di hatinya.

Setibanya mereka di Starbucks Keira mencari tempat duduk yang nyaman sedangkan Dhira yang bertugas memesan menu. Suasananya agak sepi karena memang ini hari kerja. Keira mengeluarkan ponselnya, memotret kakinya yang memakai flatshoes berwarna merah  lalu mengunggahnya ke akun Instagram miliknya.

‘Jenjangku masih terus melangkah, meski sendiri. Dan akan terus seperti itu hingga kau datang dan kita melangkah bersama. #WaitingHotChocolate’ Tulis Keira dalam caption foto yang diunggahnya.

Sangat banyak like yang menyangkut pada foto Keira tadi karena memang followers Keira sangat banyak dan dia sangat membuka tangannya bagi yang ingin berteman dengannya.

Ada satu komentar yang menyita perhatiannya tetapi sebuah suara membuat Keira harus mengalihkan perhatiannya.

Hot Chocholate untuk Keira Azani,” ucap seorang pelayan wanita sambil meletakkan Hot Chocolate di hadapan Keira. Mata Keira yang sipit melebar sedikit lalu kepalanya celingukan mencari sahabatnya Dhira. Tidak ada siapapun di depan kasir.

“Loh? Sahabat saya kemana, Mbak? Apa dia ke toilet?” tanya Keira bingung. Si pelayan hanya tersenyum sambil menyerahkan sebuah kertas berwarna merah yang lebih mirip seperti surat kepada Keira.

Dibukanya surat tersebut dan hanya tertulis angka 7 di kertas itu. Keira bingung, matanya sempat melirik papan nomor yang ada di tengah mejanya. Lalu matanya mencari meja bernomor tujuh. Meja itu di sana, tetapi ada seorang lelaki yang sedang duduk di meja itu.

Memangnya apa hubungannya denganku? Mengapa minuman ini malah diantar ke mejaku? Apa mungkin pelayan tadi salah mengantarnya?’ racau Keira dalam batinnya.

Karena rasa tak enak yang ada di hatinya juga Dhira yang tak kunjung muncul, Keira memutuskan untuk mengembalikan minuman ini kepada pemiliknya. Yaitu meja nomor 7.

“Maaf, ini pesanan Anda. Tadi salah dikirim ke meja saya. Permisi.” Jenjangnya sudah melangkah menjauh, Keira bahkan tak melihat wajah lelaki itu tetapi sebuah suara menginterupsi langkahnya.

Suara itu ... suara yang dirindukan Keira, suara yang hanya selalu ia bayangkan siapa pemiliknya.

Keira kembali ke hadapan lelaki itu. Matanya menyipit lalu bertanya dengan cepat,”Ken? Ken Julio?” lelaki itu tersenyum, lesung pipi itu benar.

“Aku datang, Ra. Maaf telat,” kekeh lelaki itu, matanya masih mengamati perubahan wajah Keira.

“Kamu bener, Ken? Si Es Batu Datar lima tahun lalu?”
Lelaki itu mengangguk dengan semangat.

Keira langsung memeluk lelaki itu ... lelaki yang selama ini hanya ada di imajinasinya, yang selama ini dipercayanya meski hanya melalui dunia maya, dan ya sekali lagi takdir tak akan pernah salah mengembalikan sebuah kepingan hati.

END-

challenge accepted AryNilandari
raatommo
dcfamily
ju_ve_nia
azuretanaya
Vei_la

Cover edit by myself 😊

Yayımlanan bölümlerin sonuna geldiniz.

⏰ Son güncelleme: May 01, 2017 ⏰

Yeni bölümlerden haberdar olmak için bu hikayeyi Kütüphanenize ekleyin!

Hot ChocholateHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin