"Jadi Ree?" Tanya dara via pesan text. Aku bimbang. Kuputar-putar handphone yang sedari tadi berada di tangan.
Iya.. tidak.. iya.. tidak..
Aku berpikir keras. Mungkin bagimu ini tak penting. Tetapi bagiku ini lebih dari penting.
"Oke jadi. Jam 11 ya" kataku akhirnya.
***
Aku mengurangi kecepatan laju kendaraanku. 2 menit lagi aku sudah sampai di kampus, tetapi rasa bimbang itu kembali menyerangku. Kutarik nafas, aku sudah disini dan aku tahu Dara juga sudah sampai, tidak mungkin aku membatalkannya.
Aku melaju lagi pelan. Ada satu kendaraan bermotor melaju dari arah berlawanan denganku. Aku melebarkan mata. 'Seperti.. Arlan' pikirku dan itu benar. Lebih benar lagi, Arlan bersama Langit.
Deg.. jantungku berhenti. Langit tersenyum padaku. "Hey" katanya. Aku tersenyum singkat. "Hey juga" kataku dalam hati. Aku sempurna kaku. Bahkan aku tak menyahut sapaan Arlan yang juga menyapaku lebih heboh dari Langit.
***
Aku menemui Dara di salah satu sudut kampus. Hari itu, masih hari libur. Perkuliahan semester baru, baru akan dimulai esok hari.
"Kita beli kue dulu yuk.." kataku.
20 menit kemudian. Aku dan Dara sudah di kampus dengan sebuah kue tart bertuliskan "selamat ulang tahun sahabat awan".
Ya kue itu untuk Langit. minggu kedua liburan Langit ulang tahun, namun aku tidak bisa merayakan karena jarak rumah kami yang jauh.
"sekarang hubungi Langit Ree" pinta Dara.
Aku membuka handphone, ternyata ada satu pesan dari Langit.
"Tadi ngapain ke kampus?"
Aku segera membalasnya. "Sekarang kamu kesini". Send. Tapi centang satu. Off. Langit ofline. Dia pasti sudah tahu apa maksudku ke kampus.
"Telepon Ree". Tanpa diminta Dara pun aku menelponnya. Tidak aktif. 'Shit' pikirku. Aku sudah tahu akan terjadi seperti ini.
Aku tak hilang akal. Aku menghubungi Arlan.
"Arlan.. tolong bilang ke Langit, suruh buka hp dia" pintaku pada Arlan.
15 menit kemudian, Langit membalas textku.
"Buat apa ke kampus?" Tanyanya
"Ke kampus aja.."
"Aku gak enak badan"
"Oh ya sudah"
Aku selesai mengetik.
"Kita pulang aja Dara.. Langit sakit dia gak bisa kesini" kataku pada Dara
Dara diam. Aku tahu dia geram.
"Kamu tunggu disini". Dara pergi, aku tidak bisa mencegahnya dan aku tahu kemana Dara akan pergi.
Tidak lama kemudian Dara datang bersama Langit. Aku tahu wajah langit masam. Dia tidak suka dengan kejutan seperti ini. Meski begitu Langit tidak banyak berkomentar. Langit mengikuti skenario yang telah aku dan Dara rencanakan. Selesai.
"Aku pulang sama kamu ya Dara.." kata Langit pada Dara.
"Loh gak sama Rere aja?" Tanya Dara.
"Aku maunya sama kamu" kata Langit lagi
