Chapter 1

21 1 0
                                        

         Aku berjalan menuju gerbang sambil menggenggam erat sebuah buku tebal ditanganku. Kakiku kupaksakan berjalan dengan cepat, sampai rambutku yang terurai tampak ditiup angin sore. Di gerbang sana tampak seseorang sedang memperhatikan gerak-gerikku. Aku sadar, dan mulai kuperlambat langkah kakiku

        Habislah aku. Batinku

********

         "Apa yang kau lakukan disana, gadis bodoh?" tanya wanita paruh baya yang tadi memperhatikannya digerbang

         "Tidak nyonya, aku hanya ingin berburu dihutan" ujarku

         "Sudah! Jangan banyak beralasan. Kau mencoba kabur lagi dariku?" ujar wanita itu sambil memegang erat lenganku

         "Tidak, aku tidak sedang beralasan. Sungguh, aku hanya ingin berburu" jelasku

         Wanita itu melepaskan genggamannya dari lenganku. "Sudah. Jangan banyak berbicara. Buatkan aku teh hangat, cepat!! Aku sangat lelah" ujar wanita itu sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa

         Aku segera pergi ke dapur untuk membuat secangkir teh hangat. Setelah kembali ke ruangan, aku menaruh tehnya diatas meja kayu disamping sofa.

         Oh ya, jangan heran jika dirumahku seluruh pondasi terbuat dari kayu. Karena, entah sengaja atau tidak sengaja barang-barang dirumahku berbahan dasar dari kayu, xoxo. Oke, lanjut.

         "Nyonya, bagaimana hasil buruanmu hari ini?"

         "Aku tidak mendapatkan apapun. Tidak ada binatang dan buah-buahan dihutan. Mungkin nanti malam kita akan kelaparan atau mungkin mati kelaparan" ujarnya sambil terlelap tidur
   
         "Tidak nyonya. Masih ada dua potong daging bakar diatas meja makan. Jadi nanti malam kita tidak akan kelaparan"
     
         "Yaa. Terserahmu" ujarnya sambil mulai tertidur

         "Nyonya?" tanyaku pelan

         "Ada apalagi Vlee? Kau sudah banyak bicara dan mengganggu tidurku. Apa kau ingin aku memotong lidahmu?" ujarnya kesal

        "Maafkan aku, nyonya." ujarku pelan

        Wanita itu terbangun dan menatapku sejenak. Lalu, ia pergi menuju kamarnya, dan menoleh ke arahku  "Vlee, bukankah sore ini kau akan berburu? Yasudah cepat pergi. Dan oh ya, soal dua potong daging itu. Sisakan satu untukku dan berikan satu potong daging itu pada anjingku" lalu wanita itu menutup pintu dengan keras

        Aku membawa satu potong daging diatas sebuah piring kecil. Kemudian aku membawanya kekandang anjing milik Nyonya Elliot. Sebenarnya, aku sangat lapar. Tapi, jika aku yang memakan dagingnya pasti nyonya Elliot akan sangat marah dan bisa saja ia mengurungku lagi dalam sumur tua.
    
********

       Setelah aku memberi makan anjing milik nyonya Elliot, sore itu aku bergegas pergi menuju hutan. Banyak kemungkinan yang akan terjadi, mendapat makanan dihutan atau bahkan aku sendiri yang akan menjadi makanan sekaligus santapan para binatang buas.

       Kali ini aku sudah berada ditengah hutan, sementara keranjang kayuku belum terisi oleh makanan bahkan buah-buahan satupun. Hari semakin gelap, awan hitam mulai menutupi langit. Kabut dan asap semakin mengaburkan pandangan. Banyak kemungkinan yang akan aku hadapi, tersesat dihutan atau diterkam binatang buas.

       "Bagaimana aku bisa kembali kerumah, sementara aku tak bisa melihat apapun selain kabut asap yang tebal" ujarku lelah

       Aku terus berjalan tak tentu arah, berharap aku bisa kembali kerumah malam ini. Aku berjalan dengan sangat hati-hati. Walaupun perlahan tapi pasti, itu prinsipku sekarang. Bagaimana pun caranya, aku harus kembali kerumah malam ini.

        Kabut semakin tebal, langitpun semakin gelap. Angin menampar keras pipiku bersamaan dengan heningnya malam. Binatang kecil mulai berlalu lalang disekitarku. Kakiku sangat kaku untuk digerakan karena dingin nya angin malam. Tanpa aku sadari, kakikku membawaku melangkah semakin dalam kedalam hutan itu.

       "Steffany, temani aku disini. Ini sangat gelap" teriak seseorang disekitarku

       Aku mulai menghentikan langkahku ketika aku sadar ada seseorang selain diriku. Aku berpikir seribu kali, mana ada seseorang yang ingin memasuki hutan tengah malam jika tidak terpaksa sepertiku. Pasti ada, tapi itu bukan manusia. Mungkin peri hutan, binatang buas, petugas hutan atau makhluk yang tak kasat mata. Tunggu. Tak kasat mata?. Baiklah, ini masalah serius. Aku harus kembali melangkahkan kakiku, kali ini aku mempercepat langkahku.

       "Ya Lindsay, aku disini. Bagaimana dengan William? Apakah dia bersama Jord?" seseorang berteriak, namun itu bukaan aku. Jelas bukam aku. Memang benar. Dengan kata lain, ada orang lain dihutan ini selain diriku

       Aku semakin mempercepat langkahku, akupun semakin ketakutan. Walaupun aku adalah seorang pemanah yang handal, jika dihadapkan dengan makhluk hutan, tetap saja aku akan merasa takut. Bahkan, bisa saja aku tidak sadarkan diri ditengah hutan.

      "Hey Steffany, kau dimana? Aku tak melihatmu" suara itu semakin berada didekatku

      "Ya, aku disini"

      Aku kembali mempercepat langkahku

       "Steffany, udaranya semakin dingin. Apa sebaiknya kita pergi dari tempat ini sekarang?" suara itu terdengar lagi

       Aku semakin ketakutan, dan mencoba lebih mempercepat langkahku.

       "Steffany, apa kau ada disitu?"

        Pandanganku semakin kabur karena asap semakin tebal, udara menjadi sangat dingin dan hawa semakin tak bersahabat. Ketika aku mencoba melangkahkan perlahan kakiku, tiba-tiba..
     
        Krek!

        Kakiku menginjak sebuah ranting pepohonan.

        "Steffany, apa itu kau?" suara itu lagi-lagi terdengar, bahkan semakin dekat

        Aku menoleh kesana-kemari. Percuma. Tetap saja tak terlihat apa-apa selain kabut tebal yang menggulung. Tubuhku menjadi kaku. Hanya terdengar benturan keras pada diriku.

Pandanganku semakin gelap

Nafasku tak bisa kuatur normal

Suhu disana semakin dingin

Dan- - -

      "Steffany?"

      "Steffany?"

      "Steffany?"
       

********
     
^^

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 24, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ELESSAStories to obsess over. Discover now