Nenek Sudah Tua

22 0 0
                                        

".... tidak!!!" jawab Dom dengan keras kepadaku. Sebuah buku bacaan dengan ketebalan sekitar 5 cm melayang ke arahku. Seketika itu pula aku menghindar dari lemparan Dom.

Kembali aku bertanya kepadanya.
"Mau kamu begini terus? Kamu tidak kasihan dengan nenek kamu?" Tanyaku dengan nada merayu khas logat suku dayak kepadanya. Mimik datar dengan pandangan mata tajam kuarahkan kepadanya. Sembari berharap dia berubah pikiran untuk mau mengikuti permintaanku.

Dom adalah gadis berusia 14 tahun yang memiliki kekurangan dari segi fisik. Kakinya tidak seperti anak-anak pada umumnya. Ada yang tidak normal. Kaki sebelah kirinya lebih panjang dari sebelah kanannya.
Dengan pandangan yang lusuh Dom selalu terlihat seperti anak yang pemalu setiap dipandang.

Dia hidup bersama dengan neneknya dan seorang kakak laki-laki. Kakak laki-lakinya pun jarang di rumah. Praktis Dom selalu berdua dengan neneknya di rumah panggung sederhana yang terletak di hulu kampung Ujoh Bilang.

"Nenek sudah tua Dom. Siapa yang mau bantu nenek kamu nanti?" Ucapku kepadanya.

Dom mengambil tangan kanan saya sambil berucap "Dom mau sembuh kak...Dom mau bisa jalan kak..." Jawabnya yang masih dengan logat dayak Bahau.

Tak terasa menetes air mata ini saat mendengar perkataan tersebut. Aku lalu bertekad untuk membantu Dom semaksimal mungkin.

Kubuat sebuah agenda rutin untuk mengunjungi Dom setiap hari Jumat dan Sabtu. Aku mencoba untuk memahami perilaku dan karakter Dom sambil menemani nenek bercerita.

"Yang nenek khawatirkan cuma satu nak....kalau nanti nenek tidak ada siapa yang akan merawat Dom".....

DomWhere stories live. Discover now