Apa 'sih yang kalian suka dari Hogwarts Fried Chicken. Ayamnya yang pedes-asin maknyus gimana gitu kan, ya?
HFC memang sudah mendapat predikat restoran dengan menu terlezat oleh masyarakat. Baik ayam, dessert, hingga minumannya selalu dapat menarik perhatian masyarakat luas untuk membelinya. HFC memang sudah memenangkan hati konsumen abad ini, sejak kemunculannya di tahun 1926 ayam HFC tersebut menjadi viral di kalangan penyihir muda kala itu, atau mungkin hingga sekarang.
HCF kini telah membuka cabang di lebih 87 negara sihir di dunia. Secara tidak langsung membuka banyak lapangan kerja bagi orang-orang yang membutuhkan seperti Hermione Granger.
Tidak.
Bukan seperti itu.
Hermione Granger bukanlah orang miskin yang sangat membutuhkan pekerjaan karena menjadi tulang punggung keluarga. Bukan juga karena dia terlilit hutang. Hermione hanya tidak ingin merepotkan orang tuanya. Meskipun orang tuanya mampu, gadis itu lebih suka mengisi uang sakunya dengan hasil keringatnya sendiri.
Lagi pula, Hermione hanya melakoni pekerjaan ini pada saat liburan saja. Setelah lulus dengan mendapat nilai sempurna, Hermione memiliki banyak waktu luang sebelum akhirnya dipanggil untuk bekerja di kementrian. Tentu saja gadis itu masih suka membaca buku apapun yang menambah pengetahuannya.
Hermione tahu dirinya tidak bisa mengisi waktu liburannya tersebut dengan hanya bermain bersama Ginerva Weasley. Hermione lebih memilih untuk mengisi tabungannya untuk mempersiapkan masa yang akan datang. Dirinya tahu, selepas liburan dan bekerja di Kementrian Herione harus membeli setidaknya rumah kecil karena dia tidak mungkin terus tinggal bersama kedua orang tuanya di dunia manusia.
Taraa.
Di sinilah Hermione, bekerja di Hogwarts Fried Chicken atau nama bekennya HFC.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Pertanda waktu buka restoran itu akan segera tutup. Hanya tersisa dua koki di balik dapur dan satu pekerja wanita lainnya yang sedang membuang sampah ke belakang gedung HFC tersebut, serta kursi kursi yg tersusun rapi di atas meja.
Hermione baru saja mengangkat tongkatnya untuk mengubah tanda 'OPEN' menjadi 'CLOSE'. Namun, gadis itu mengurungkan niatnya begitu melihat satu pelanggan dengan pakaian formal berupa setelan jas dan dasi yang sudah longgar bertengger pada lehernya. Pria dengan rambut platina itu berjalan mendekati Hermione, siap memesan makanan untuk makan malamnya.
Hermione tersenyum ke arah pelanggan –yang sepertinya- terakhir pada malam hari ini. Pria ini baru saja lembur, pikir Hermione. Pria platina yang tidak diketahui namanya oleh Hermione itu berjalan bak dislow motion, macam Putri Solo gitchu. Cepetan dikit dodol gua mau balik, batin Hermione keki melihat pria platina berjalan seperti tebar pesona, yang entah pada siapa.
Gamungkin tebar pesona ke gua, kan?
Atau jangan jangan sama putih-putih yang kasat mata?
Hiii..
Hermione terus menatap pria platina dengan senyum. Jika dipikir-pikir ditambah sedikit hujan mahkota bunga mawar dan lilin di sekeliling mereka, sedikit lagi Hermione dan pria platina mungkin akan memenangkan casting film India.
Atau mungkin mereka lebih terlihat seperti penyambah aliran sesat?
Entahlah, Hermione menolak untuk memikirkannya saat ini.
Detik-detik pria itu menghampiri meja costumer menjadi detik-detik terpanjang di sepanjang hidupnya, Gadis itu menahan napas.
Iya, nahan napas biar gak kelepasan ngegetok kepala si pria platina pakai tongkatnya, bukan karena menahan napas melihat wajah pria platina yang tamvan berani kaya Aa Aa boyband korea, siapa tahu dia kelepasan ngegetok terus pekerjaan jadi bahan taruhan apakah ia bakal dipecat sama si pesek Pak Riddle atau tidak.
Pria platina itu menyeringai kearahnya. Fix ini mah mau tebar pesona ke gua. Batin Hermione mengeluarkan napas yang sedari tadi ditahannya dengan perlahan.
"Selamat Malam, mau pesan dada atau paha, Pak?" tanya Hermione sambil tersenyum.
"Jangan buru-buru...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...bibir aja dulu."
ANJAAYYY.
MODUSNYA MEN LUAR BIASA, BIASA DI LUAR.
"Eh?" Hermione mengerjapkan matanya beberapa kali memproses perkataan pria platina itu dengan lambat. Gadis itu yang berhalusinasi atau memang pria di hadapannya yang mabuk. Kobam* ni orang.
Hermione sendiri malah salah tingkah dengan panas yang senantiasa menjalari pipinya. Gadis itu kikuk sendiri, karena rentetan kalimat yang keluar dari mulut si pria platina. Gadis itu tidak menyangkan akan mendapat costumer seperti si pria platina ini. Yang bisa Hermione lakukan hanya mengeluarkan senyum gaje yang serius itu absurd abis, guna menetralisir kegugupannya.
"Emm hehe, mau makan di sini atau dibawa pulang, Pak?" Lagi-lagi Hermione bertanya, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ambigunya dengan pria yang mungkin hanya berbeda beberapa tahun, atau mungkin seusia dengannya tadi.
Pria platina menaruh tangannya di atas meja costumer, tangannya ia jadikan topangan dengan seringai yang semakin lebar.
"Kamu agresif juga ya? Pulang, di rumah aja biar gak keliatan orang lain, emang kamu mau diliat orang-orang disini? Tapi, saya 'sih terserah sama kamu aja."
Anjrit, kan.
Jadi Hermione diajak 'nganu' sama si mas platiina?
Oh, my, wOW.
TANCEP TERUS BAANG.
Hermione melotot tidak percaya, kenapa malah misunderstanding gini? Hermione tetap setia memperhatikan pria platina itu dengan wajah yang sulit diartikan, antara kaget, jijik dan- ah pokoknya campur aduk.
Pria platina mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, sebuah kertas kecil, lalu menyodorkannya pada Hermione. Dengan ragu gadis itu menerimanya lalu membalikkan kertas putih yang ternyata adalah kartu nama.
Draco Malfoy
Chairman of the Executive
Committee and CEO
Mamah, aku abis digombalin mas-mas CEO yang nista abis :'
Batin Hermione dengan muka absurd.
hai gengs, jadi gua mau usbn senin, doain gua ya.
taukan kenapa gua jarang update update cerita baru, bikos gua mau menghadapi un jadi super sibuk makasi, dan sori yg nanya ke gua tapi gua diemin aja, karna sesungguhnya gua males, hehe ga denk boonk. gua mau klarifikasi lagi, kalo gua itu bukan orang cicaheum tapi gua orang cantik, hehe.
kangen ya kalian sama gua?!?!?!?!?!?
YAKAN?! YAKAN?!
jadi ff ini ber-setting di dunia sihir yg aman damai dan sentoso, sori maksud gua sentosa. tanpa ada om voldemort dan death eaters, anggep aja draco ga sekola di hogwarts tp di dumstrang.
covernya jelek
gua ngantuk
bye.
