Di sebuah sekolah terlihat gadis bertubuh tinggi menjulang berlari dengan rambut tergerai indah berlari dengan kencang meninggalkan teman sekelasnya yang berada jauh di belakangnya.
Gadis itu terus berlari dengan senyuman yang sangat indah menunjukan deretan giginya yang rapi.
Nama gadis itu adalah Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan dari namanya yang panjang dia biasa dipanggil Desy atau Ci Desy karena postur mukanya terlihat dewasa dari usia sebenarnya.
"Sumpah larinya Ci Desy itu cepet banget dah, cape gua ngejer dia." ucap seorang gadis bergingsul mencoba mengejar lari Desy.
di sebelahnya ada gadis berpipi gembul membalas ucapannya.
"Wajarin aja Sis namanya juga atlet lari andalan sekolah, makanya dia kenceng larinya hhhh."
Kedua gadis itu adalah Sahabat Desy di sekolah sejak awal sekolah, yang bergingsul bernama Fransisca Saraswati Puspa Dewi dan yang berpipi gembul bernama Shania Gracia.
Menyadari dia terlalu bersemangat berlari sampai kedua sahabatnya tertinggal di belakangnya, Desy pun menghentikan laju larinya dan menghampiri kedua sahabatnya yang tampak sangat kelelahan.
"eh sorry gue larinya terlalu bersemangat sampe ngga nyadar lu berdua ketinggalan hahaha." tawa Desy yang membuat kedua matanya menjadi segaris.
Sisca dan Gracia hanya bisa memutar bola mata malas menimpalin ucapan Desy yang sudah sering diucapkan olehnya hampir setiap jam pelajaran olah raga seperti saat ini.
Tawa Desy semakin meledak ketika melihat kedua muka sahabatnya yang bete karena selalu tertinggal olehnya setiap jam olah raga.
jam pelajaran olah raga pun usai, Desy dan kedua sahabatnya masih berada di lapangan untuk sekedar beristihat setelah berolah raga hingga seorang anak laki-laki menghampir mereka bertiga.
"Memang ya, seorang atlet lari kebanggaan sekolah itu selalu terdepan di pelajaran olah raga."
"Maksud lo ren?" ucap Desy mengerutkan dahinya bingung.
Anak laki-laki itu Rendy Michael, dia juga adalah atlet lari di sekolahnya tetapi dia merasakan sekolah hanya memperdulikan atlet lari wanita saja seperti Desy padahal tidak seperti itu.
"Ya lu kan atlet kebanggan sekolah Des. sampai atlet lari prianya kagak diurus oleh sekolah karena lu."
"Jaga ucapan lo ren!!"Desy langsung mencengkram kerah baju Rendy dengan iris mata kanannya berubah berwarna merah dan berbentuk seperti iris kucing.
"Emang Benar kan Des, lu lari keliling lapangan cuman 6 menitan tanpa kelelahan dan keliatannya lu memang bukan manusia deh."
Mendengar itu Desy lantas memukul wajah Rendy dengan keras hingga jatuh tersungkur. begitulah Desy sangat sensitif dengan omongan orang yang mengatakan dia bukan seorang manusia.
Desy sadar kalau dirinya berbeda karena kemampuan fisiknya berada diatas rata-rata teman sekelasnya.
"Brengsek! berani lu nonjok gua?!" Rendy menatap tajam kearah Desy dengan tangan mengepal keras.
ketika Rendy ingin membalas pukulan Desy, datang guru BK dan memisahkan mereka berdua dengan cepat.
Ketika dilerai Rendy memilih meninggalkan Desy dan guru BK dan menuju ke kelasnya dengan emosi yang meluap.
"Kontrol emosi lu ci, emosi ngga menyelesaikan masalah mending kita ke kelas aja." Sisca menggenggam tangan dan mengelus punggung Desy diikuti oleh Gracia.
~~~
Jam istirahat pun tiba Desy dan kedua sahabatnya memutuskan untuk membeli jajanan di kantin sekolah.
