KENANGAN PAHIT

30 1 0
                                        

RIO POV

Apa definisi hidup menurut kalian? Kata orang hidup itu kayak roda yang selalu berputar kadang ke atas kedang ke bawah. Kata foresst gump hidup itu kayak sekotak coklat ntah rasa apa yang bakal lo dapetin bisa coklat hitam yang manis ataupun coklat putih yang pahit. Hidup juga bisa kayak main bola, karena lo gak tau bakal menang atau kalah, waktu permainan berjalan dengan sangat baik, dan tim lo udah yakin bakal menang, di injuring time bisa aja pihak lawan ngepur nyetak gol, dan tim lo kalah.

Menurut gue  hidup kayak cuaca, hari ini matahari bersinar dengan teriknya, dan besok bisa aja ada hujan badai. Kita gak kan bisa punya hujan selamanya, ataupun musim kemarau terus- terusan. Karena kita butuh keduanya hujan dan kemarau buat keseimbangan hidup. Gue udah ngalamin hujan badainya hidup gue 10 tahun yang lalu, gue tamat SMP dengan nilai hampir sempurna, tertinggi sekota jambi, ngebuat gue dengan mudahnya masuk SMA favorit di kota gue.

Gue masih inget ketika itu bunda dan ayah dengan bangga mengambil hasil kelulusan gue dan merayakan kelulusan gue dengan liburan keluarga ke kerinci, disitu kita nikmati udara sejuk pegunungan, jalan- jalan ke pabrik teh dan metik daun di perkebunan yang luasnya ratusan hektar, memanjakan tubuh dengan berendam di sumber air panas , merebus telur di kawah, atau sekedar nikmati matahari senja di pinggiran danau kerinci yang indah. Itu liburan keluarga terakhir, karena setelah itu ayah sibuk dengan urusan politiknya, sebagai salah satu wakil rakyat ayah hampir tidak punya waktu, bolak balik luar kota jadi rutinitas hariannya, dan bunda yang ketika itu diangkat menjadi kepala sekolah juga mulai kehabisan waktu, gak ada lagi duduk- duduk di sofa empuk ruang tengah buat sekedar nonton berita dan ngobrol tentang kegiatan harian,  nggak ada lagi suara lembut bunda yang bangunin gue dipagi hari, gak ada lagi ayah yang ngajakin gue sholat subuh jamaah di masjid, gak ada lagi sarapan pagi bareng. Semua berubah dan gue yang ketika itu masih berusia 14 tahun harus ngelewati masa labil gue tanpa ayah dan bunda.

Hidup itu selalu penuh dengan perubahan, kita gak akan bisa konstan di satu titik, perubahan itu adalah hal yang wajar, gue paham itu. Tapi diusia gue yang waktu itu labil gue belum siap dengan perubahan ayah dan bunda, gue masih butuh dukungan mereka dan gue gak dapetin itu.

Gue mulai mencari- cari perhatian mereka, awalnya gue cari perhatian dengan hal yang positif ikut olimpiade dan jadi juara biar mereka bangga. Jadi juara umum sekolah, tapi sepertinya cara gue gak menarik perhatian mereka . dan gue mulai dengan melakukan hal- hal bodoh, bolos sekolah untuk main Play Station(PS), gak ngerjain PR, hingga prestasi gue merosot drastic. Pihak sekolah manggil orangtua gue, bunda nangis dan ayah murka. Sebenarnya gue gak tega liat airmata bunda tapi gue harus nunjukin ke mereka kalo gue ada, kalo gue anak mereka yang butuh perhatian, butuh kasih sayang mereka, bukan Cuma uang dan harta benda. Untuk seminggu gue dapat perlakuan protektif dari bunda dan ayah tapi, setelah itu mereka kembali tenggelam pada kesibukan masing- masing dan melupakan gue.

Gue kembali terseret ke pergaulan gak bener, puncaknya malam itu hujan gerimis gue lagi kumpul- kumpul dirumah ardi dan dia nyuruh gue buat nyobain permen yang katanya bisa buat gue ngelupain masalah gue. Dan dari situlah gue mulai kenal narkoba, gue ketagihan dengan permen itu dan gak bisa berenti buat ngosumsinya. Yes, gue jadi pecandu!.

Dara Stories to obsess over. Discover now