"kemana perahu kita akan melaju sayang ? jangan bungkam seribu bahasa, katakanlah sesuatu.... Karena membaca hatimu samadengan praduga yang tak pasti dan mungkin bermakna ambigu..."
Gelisah itu. Sudah hampir satu tahun saya menjalin sebuah kisah asmara dengan seseorang. Namun, sampai saat ini kau masih saja seperti sebuah teka-teki yang harus saya telusuri. Saban hari belajar mengeja mata. Membaca wajah. Apakah kau terluka ? atau sedang bahagia ? Topengmu terlalu banyak dan berubah-ubah setiap saat, sedang mulutmu selalu terkunci rapat. Ah, memang benar kau adalah seorang teater. Seorang aktor. Namun, tak bisakah kau mengenakan jubah kejujuran ? setidaknya dihadapan saya. Membaca engkau, terkadang rasanya terlalu sukar laiknya membaca langit yang berwarna abu-abu. Saya kira akan turun hujan, tapi nyatanya tidak. Sekadar harapan yang belum waktunya untuk menjadi nyata, tetapi cukup manjur juga untuk sedikit meninggalkan luka.
Saya masih ingat betul, bagaimana kau mengatakan sebuah janji yang kemudian membuatku yakin untuk menaruh hati pada engkau. Begini katamu, "bersabarlah, sebentar lagi aku akan kembali" Ya, kau memberikan sebuah harapan, dan atas harapan itu, saya bersabar. Bukan hanya itu, tapi juga atas perasaan yang ada dalam hati saya. Perasaan yang saya definisikan sebagai cinta, itupun kalau saya tidak keliru. Meskipun cinta itu selalu membuat saya dalam kegelisahan, tetapi kegelisahan itu lah yang kemudian membuat saya selalu hidup. Gelisah akan rasa takut kehilangan, rasa ragu, dan juga gelisah akan kebahagiaan. Bila anda bingung mengapa saya mengatakan bahwa bahagia juga sebuah kegelisahan, maka rasakan dengan saksama ketika anda sedang bahagia. Namun, bila anda tidak juga dapat menemukan rasa yang sama dengan yang saya utarakan, maka cukup terima saja pernyataan itu dengan kelapangan dada anda. Hal itu tentunya takkan sesulit melepaskan orang yang anda sayang bukan ?
Hari demi hari berganti. Waktu bergulir dengan semestinya, tapi terasa sangat lamban bagi saya. Kalian tau mengapa ? karena saya dalam keadaan menunggu. Saya gusar, terlebih lagi semakin hari saya merasa ada pihak lain yang ikut hadir diantara kita, yaitu jarak. Bukan, bukan jarak ruang ataupun waktu. Tapi jarak diantara hati kita. Ya, saya merasa asing dengan engkau. Engkau semakin sedikit bicara. Bercerita tentang kegelisahanmu pun tak pernah. Sedangkan saya selalu menunggu hal itu. Lalu, apalah gunanya saya berada di samping engkau bila sudah tidak ada lagi kepercayaan untuk berbagi kisah ? Lalu, bagaimana saya bisa belajar memahami hati engkau bila tak kau kasih celah buat saya untuk memasuki lorongnya. Ah jangankan masuk, mengintipnya pun tidak. Pernah suatu ketika, saya membuka suara karena tak tahan melihat kegusaran yang ada di dalam mata engkau, dan seperti biasa kau hanya menjawab dengan empat kata; "aku tidak apa-apa". Ketika kau memalingkan wajah, Saya tak berkutik. Seketika menjelma menjadi stupa. Teronggok tak bergerak. Hanya hati yang kemudian sekuat tenaga menahan air mata. Saya menghela napas. Panjang sekali. Lalu tersenyum.
Engkau mungkin tidak tahu bahwa saya selalu menunggumu dalam kesakitan. Engkau mungkin tidak pula paham bahwa saya ingin sekali menjadi rumah bagi engkau. Tempat dimana engkau menyandarkan bahu, setelah lelah berkelana entah kemana. Menampung setiap keluh kesah, sekalipun mungkin saya hanya mampu menjadi pendengar bagi engkau. Ya, itu harapan saya. Entah bagaimana dengan engkau ? kerna engkau hanya diam. Saya masih menunggu engkau hingga kini. Dan mungkin akan tetap menunggu hingga saya benar-benar tak kuat lagi, atau mungkin hingga engkau tak lagi membutuhkan saya. Saya akan menunggu engkau dengan segenap rasa yang saya punyai terhadap engkau, hingga senja usai nanti.
YOU ARE READING
Fragmen I-Di Penghujung Senja
Romance"kemana perahu kita akan melaju sayang ? jangan bungkam seribu bahasa, katakanlah sesuatu.... Karena membaca hatimu samadengan praduga yang tak pasti dan mungkin bermakna ambigu..."
