Rain

27 4 3
                                        

Matahari sudah kembali bersembunyi.

Tapi gadis itu masih duduk di kursi favoritnya sambil menatap ke luar jendela cafe. Menatap orang-orang yang berlalu-lalang dengan cepat karena sudah waktunya pulang kerja dan mereka ingin segera sampai di rumah. Tapi tidak dengan gadis itu. Dia sudah duduk di situ seharian, tanpa ada niatan untuk beranjak.
Gadis itu menghela napasnya tanpa melepas pandangannya dari jendela cafe.
Saat itulah hujan turun...
Semua orang berlarian mencari tempat berlindung.

Di saat semua orang berlarian ke pinggir, saat itu jugalah gadis tadi berlari ke tengah menghadang hujan.

Ya. Dia menyukai.. Ahh. Tidak. Dia mencintai hujan. Dia berjalan tanpa payung,biarkan dirinya basah kuyub. Dia terus berjalan, tanpa dia sadari, air matanya jatuh. Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti air matanya semakin deras.
Ya. Benar. Dia begitu mencintai hujan karna hujan bisa menutupi kesedihannya, menutupi air matanya. Klise memang, tapi itulah yang dia rasakan.

###

Hujan sudah reda, malam kembali hening tanpa suara hujan, yang tersisa hanyalah bau tanah basah.
Gadis itu masih belum pulang.
Dia berlutut di depan sebuah nisan, mematap sendu nisan itu tanpa suara.
Karna sehabis hujan, malam itu sangat dingin, tapi dia tak peduli. Dia tak ingin beranjak sedikitpun. Dia ingin tetap di situ, di samping kesayangannya. Dia ingin kembali menangis, tapi dia tidak suka menangis tanpa hujan.
Meski gadis itu menggigil kedinginan, tapi dia menyukai rasa dingin yang menusuk tulang. Dia menyukai banyak hal yang dibenci kebanyakan orang.
Dia menyukai dinginnya malam yang menusuk, dia menyukai hujan, dia bahkan menyukai pria itu meski pria itu dibenci banyak orang. Tanyalah padanya mengapa dia menyukai semua itu dan kau akan mendengar dia menjawab seperti ini, "Aku tak memerlukan alasan mengapa aku menyukainya, karena menyukai dan mencintai itu dari hati bukan dari akal sehat."
Gadis itu tersenyum mengingat jawaban yang selalu dia berikan pada semua orang yang mempertanyakan tentang preferensinya yang unik. Dia menghela napas panjang dan menjulurkan tangannya ke arah nisan yang ada di depannya, dengan perlahan dia mengusap lembut ukiran nama di nisan itu. Nisan pria yang disukainya, yang disayanginya, yang dicintainya sepenuh hatinya.
Pria yang telah pergi meninggalkannya sendirian tepat 300 hari yang lalu. Pria yang meninggalkannya disaat gadis itu merayakan kelulusannya sebagai seorang mahasiswa.
Tatapan gadis itu kembali sendu mengingat hari di mana pria itu meninggalkannya.
Malam semakin larut namun gadis itu tidak bergening, hingga akhirnya padangannya semakin kabur dan gelap....

###

Matahari mulai menampakkan wujud di ufuk Timur. Seorang pria turun dari mobilnya dengan pakaian serba hitamnya, dia terlihat sangat tampan dan gagah
Pria tersebut berjalan memasuki kuburan, namun baru setengah jalan menuju kuburan orang tuanya dia melihat seorang gadis tergeletak tak berdaya dengan muka seputih kertas. Dia begitu panik dan dengan cekatan dia bergegas menggendong gadis itu menuju mobilnya.

###

Gadis itu perlahan membuka matanya dan dia hanya melihat warna putih. Dia berkali-kali mengerjapkan mata hingga akhirnya dia menyadari dia berada di rumah sakit. Gadis itu ingin bangun dari posisinya tetapi dia merasa sangat lemas dan tidak bisa menggerakan tubuhnya. "Kau sudah bangun?" Suara bariton dari sebelah kanannya mengejutkan gadis itu. "Astaga, maafkan aku aku pasti mengejutkanmu." Gadis itu menoleh dan menemukan seorang pria tampan berbalut baju serba hitam. Gadis itu mengerjap sekali lagi, keheningan menyelimuti mereka hingga akhirnya gadis itu bersuara, "Maaf, tapi siapa kau?" Pria itu terkejut karena tadi dia sedang melamun. Namun dengan segera tersadar dari keterkejutannya dan menjawab, "Namaku Langit, maaf karna aku baru memperkenalkan diri. Kau pasti sangat kebingungan. Aku menemukanmu tergeletak di kuburan kemarin pagi jadi aku membawamu ke sini." Gadis itu termenung lama dan hening menghampiri keduanya, "Seharusnya kau membiarkanku di sana." Keheningan itu terpecahkan oleh sebuah suara lemah dan pelan namun masih terdengar jelas. "Dan membiarkanmu sekarat di sana?" Bentak Langit. Gadis itu tersentak mendengar bentakan dari laki-laki yang baru dikenalnya itu, lalu dia menunduk dan kembali terdiam. Langit menghela napasnya panjang dan kembali bersuara, "Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya tidak paham mengapa kau sampai berpikir seperti itu. Maaf aku terbawa emosi." Dan untuk ketiga kalinya semenjak gadis itu bangun hening kembali menyelimuti mereka. Gadis itu mengalihkan pandangannya keluar jendela, sedangkan Langit menatap gadis itu dengan seksama. "Hey, apakah aku boleh mengetahui, kenapa kau berharap aku tak menolongmu?" Tanya Langit dengan sangat lembut dan hati-hati." Gadis itu menoleh sebentar menatap netra Langit, namun tidak mengeluarkan suara apa pun, dan sekali lagi hening. "Untuk apa aku hidup jika aku tak memiliki apa pun lagi?" Sebuah suara yang sangat lemah memecah keheningan yang ada. Langit termenung mendengar perkataan gadis di hadapannya. "Bukankah kau masih memiliki dirimu sendiri? Mungkin ada baiknya jika kau mencoba untuk menganggap dirimu sendiri. Mungkin kau jadi lebih bisa bersyukur atas apa yang kau miliki. Dan mungkin saat itu juga kau akan menyadari bahwa Tuhan mempunyai rencana indah untukmu dan kau tentunya harus hidup untuk mengetahuinya kan?" Ujar Langit sambil tersenyum lembut kepada gadis itu. Gadis itu hanya menatap Langit dalam diam lalu kembali mengalihkan pandangannya, dan setelah itu tak ada satupun dari mereka yang bersuara lagi.

###

TBC ^^

Thank you for reading!!
Maaf aneh baru pertama kali nyoba bikin cerita jadi beginilah jadinya. Jangan lupa comment dan vote yaa. Jangan sungkan kasih saran 😆😆😆

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 18, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

RainStories to obsess over. Discover now