Prolog

625 105 12
                                        

Seorang namja terlihat sedang berjalan sambil mengendap-endap disepanjang lorong sebuah bangunan sekolah yang sepi. Ia memeluk tas didepan dadanya dengan erat. Sesekali mata besarnya melirik kanan dan kiri. Sungguh ia sangat takut. Ingin rasanya ia menceburkan dirinya ke laut. Andai saja mulut bodohnya tidak semabarangan berbicara, mungkin sekarang ia sedang asyik tidur diatas kasurnya yang empuk.

"Sialan.." umpatnya ketika melihat segerombolan orang tengah berkumpul tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Ia tahu kalau saat ini posisinya benar-benar sangat berbahaya. Orang suruhan si beruang jelek itu pasti akan menghabisinya jika ia berani menampakkan dirinya.

Tak lama ia pun melihat segerombolan orang itu memisahkan diri dan mencari sosok yang sebenarnya tengah bersembunyi itu ke arah yang salah. Melihat hal itu, namja yang menjadi target itu menghela napasnya panjang. Keringat dingin yang tadi mengucur disekujur tubuhnya hilang seketika. Dengan langkah pelan ia pun berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.

Kakinya melangkah menaiki tangga, ke balkon tempat dimana biasa ia menghabiskan waktu seorang diri. Ketika kakinya sudah berpijak pada lantai marmer balkon itu, ia pun menghempaskan tasnya dengan kasar ke lantai. Sungguh hari ini membuatnya muak.

"AAAAAAAAAAA.... Brengsek kau Jung Yunho! Dasar Kepala babi, keledai, beruang jelek... AAAAAAAAA..... Sungguh aku membencimu!" teriaknya. ia ingin sekali berteriak hingga suaranya serak. Ia sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Namja, yang bernama Jung Yunho itu memang tak punya hati. Mengapa bisa ada orang seperti itu didunia ini.

"AAAAAAAA-"

"Bisakah kau diam?"

Suara itu membuat namja yang tadinya ingin melanjutkan aksi teriaknya itu bungkam seketika. Diliriknya sosok yang sedari tidak ia sadari keberadaannya itu. Ternyata sejak tadi ia tak sendri.

Astaga....

"Suaramu membuatku tidak bisa tidur, kau tahu?" namja jangkung itu pun bangkit dan berjalan ke arah sosok yang telah mengganggu tidur siangnya. Sontak namja itu pun mundur melihat namja jangkung tadi melangkah maju. Namun gerakannya terhenti ketika namja jangkung itu tidak meneruskan langkahnya. Ia berdiri tepat didepannya dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya. Terlihat... sangat keren, bukan?

Namja yang kini tak bungkam itu hanya bisa mengangakan mulutnya. Ia tahu siapa sosok didepannya ini. Tuhan... ia membuat masalah lagi.

"Siapa itu si kepala babi, beruang jelek, dan keledai? Aku harap kau tidak membicarakan temanku, Kim Jaejoong."

Shim Changmin. Namja jangkung didepannya itu dengan wajah datarnya mengatakan hal tadi dengan penuh tekanan.

Jung Yunho, Shim Changmin... siapa yang tak kenal? Mereka adalah anggota 2 dari 4 anggota DBSK, penguasa sekolah elit Tohoshinki. Mereka ... yang menurut Jaejoong adalah anak-anak sok berkuasa dan tidak memiliki rasa perikemanusiaan itu dengan seenaknya membuat sekolah seperti tempat bemain bagi mereka dan itu membuat Jaejoong benci.

Dengan menaikkan dagunya, Jaejoong berusaha untuk terlihat tidak lemah. Ia menegakkan bahunya sebelum sebuah perkataan keluar dari bibirnya yang merah itu. "Itu temanmu. Lantas kau mau apa? Mau mengadu padanya? Pada Jung Yunho, pada teman teman bodohmu itu?"

Changmin memandangi wajah jaejoong dengan seksama. Tak ada ekspresi wajah berarti yang ditunjukkannya. Ia seperti sudah cukup kebal dengan semua.

Jaejoong yang tak mendapatkan respon mulai ciut nyalinay untuk melawan namja jangkung didepannya itu. Ia takut sungguh takut kalau Changmin akan memanggil gerombolan anak-anak tadi untuk menghajarnya. Tapi siapa sangka hal yang justru kemudian Changmin lakukan. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celana kirinya.

"Ini pakailah! Kau sudah jelek, jangan membuat dirimu terlihat lebih jelek lagi dengan tepung menjijikkan itu." Ucapnya datar sambil mengulurkan sapu tangan berwarna abu-abu miliknya.

Sejenak Jaejoong menatap sapu tangan itu dengan seksama. Benarkah ini? Tidakkah Changmin ingin membalas perkataannya yang terkesan kurang sopan tadi?

Lama Jaejoong terdiam, tanpa diduga Changmin langsung mengusapkan sapu tangannya ke wajah Jaejoong yang berlumuran tepung itu. Memang seharian ini Jaejoong mendapatkan 'hukuman' dari semua orang. Sebelum berhasil kabur, anak-anak sekolah itu mengerjainya dengan menumpahkan tepung saat Jaejoong hendak membuka pintu toilet.

"Apakah kau berbeda dengan mereka?" lirih jaejoong pelan, tapi Changmin sepertinya dapat mendengarnya. Terbukti kini gerakan tangannya yang sedari tadi mengusapkan sapu tangannya diwajah namja didepannya terhenti. Mata bulatnya memandang wajah Jaejoong dengan seksama.

"Aku sama. Aku adalah DBSK. Aku juga akan menyakitimu." Ucapnya sebelum akhirnya Changmin melemparkan sapu tangan itu ke wajah Jaejoong dan pergi meninggalkan namja itu sendiri diatas balkon. Sebelum pergi, jaejoong masih dapat mendengar Changmin menggumam "Aku harus mencari tempat untuk tidur lagi. Disini sudah tidak menyenangkan."

Harusnya jika dalam keadaan normal, jaejoong akan marah dan mengamuk ketika seseorang melemparkan sesuatu ke wajahnya. Tapi anehnya ia kini merasa jantungnya berdetak 1000 kali lebih cepat dari biasanya. Ia menggenggam erat sapu tangan itu didadanya. Ada desiran aneh didalamnya. Ia sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Rasanya ... ucapan Changmin tadi bukanlah seperti sebuah pernyataan namun seperti buah perkataan yang mampu menenangkan hatinya.

Sejak pertama kali ketika dirinya pertama kali menginjakkan kakinya disekolah ini ... ia tahu kalau Changmin adalah sosok berbeda dari ketiga anggota DBSK lainnya. Ya, ia selalu melihat Changmin yang selalu sendiri, terkadang sambil memainkan pianonya atau pun tertidur dilantai balkon sekarang ia pijak.

"Sudah puas melamunnya itik jelek?"

Jaejoong membalikkan tubuhnya. Dilihatnya sosok yang ia sangat benci tengah berdiri angkuh. Sama seperti gaya Changmin tadi, namja pemilik sepasang mata musang itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tidak seperti Changmin yang terlihat keren dengan gayanya dan juga rambutnya yang cepak tertata rapi. Namja didepannya terlihat seperti namja aneh dimatanya. Rambutnya yang ikal  dan lagi seriangaiannya yang membuat Jaejoong ingin mencakar wajah kecil itu hingga tak lagi terlihat bentuknya.


"YAAAK JUNG YUNHOOOOO! MATI KAU!" teriaknya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 30, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Meteor ShowerWhere stories live. Discover now