Deru nafasku terus berpacu seiring dengan langkah kakiku yangku yang cepat. Terus berfikir apakah aku akan terlambat? Sambil membenahkan atribut seragam berupa kalung bawang putih, name tag, bahkan topi kerucut yang aku kenakan layaknya orang gila dipinggiran jalan, dan benar saja aku terlambat.
Aku hanya menatap pintu yang terutup sambil terus mondar mandir memikirkan bagaimana jika aku dihukum ? Ini kesalahanku aku harus masuk. Dengan kaki yang gemetaran aku masuk sambil menghela nafas.
Benar saja aku langsung berfirasat bahwa aku benar-benar akan dihukum, dengan ditandai seruan kakak OSIS yang meneriaki namaku dengan lantang. Pikirku sejenak kok bisa tau namaku ya ? Oh iya aku kan pake name tag segede layar LED. Lamunanku buyar saat namaku kembali di serukan. Raya Agustina!!! Siapa suruh masuk ?! Begitu lantang namaku disebutkan oleh seorang kakak kelas bernama Daril Girayanto. Belum sempat aku menjawab namun kak Daril langsung membentaku.
Udah tau kan salahnya dimana ??! Udah salah, malah berani masuk ? Tinggal sebutin mau dihukum kayak apa ? Tanganku terus gemetaran ketika kalimat itu dilontarkan kepadaku. Akupun menjelaskan penyebab keterlambatanku. Anu... Tadi... Terlambat gara-gara mbantuin ibuk-ibuk jatuh dari motor, terus saya gendong. Belum selesai ku jelaskan jika aku akan menggendong ibu tersebut bersama warga setempat menuju mobil warga yang telah disiapkan untuk dibawa kerumah sakit, namu penjelasanku di sela kak Daril. Oh... Jadi itu yang kamu minta ? Ehm... Jangan salahkan kakak ya, sekarang hukumanmu gendong kakak sampe Ruang OSIS! Mendengar hal tersebut aku tersentak, bagaimana aku bisa menggendong pria yang mungkin tinggi badannya 170 cm mungkin lebih itu sendirian? Lagipula saat itu aku dibantu warga untuk menolong ibu itu. Dengaan berat hati aku mulai mengambil posisi menggendong kak Daril.
Padahal tinggi badanku hanya 165 cm. Tersirat dalam benaku untuk menjahili kak Darel untuk berpura-purah jatuh. Begitu girangnya kak Daril saat kugendong dipundaku sambil menunjuk dimana arah Ruang OSIS, dan sekarang waktunya menjalankan rencana ku. Akupun berpura pura jatuh, namun aku tak berpikir panjang jika yang akan tertimpa adalah diriku sendiri. Badanku terasa sakit dan nyeri saat tertindih Kak Darel yang terus mengomeliku. Namun ada seorang pria yang menghampiri kami dan menertawakan kami. Hey.. Daril!! Lagi ngapain ?! Pagi-pagi udah bikin maksiat aja. Gak ajak-ajak lagi?! Mendengar ucapan pria itu aku terus berfikir, siapa dia? Tampak sangat mesum. Tak hanya itu aku merasa ia terus menatapku tajam, tampak sekali jika kami beradu pandangan tanpa mempedulikan kondisi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ORIGAMI
Romanceuntaian tali yang mengikat lipatan kertas indah nan berwarna, tampak memenuhi langit seakan menarik seorang gadis untuk meraih hingga kelangit. walaupun terasa sulit, namun akan ada rasa manis saat origami itu berada di genggaman gadis itu. gadis i...
