Prolog

37 8 5
                                        

"Aaa... " Teriakku.

petir menggelegar di luar sana aku terus berteriak ketakutan, bagiku petir itu seperti mahluk yang samgat menakutkan.

"Genisya kenapa? " Tanya mamaku lembut sambil membelai rambutku.

"Genis takut ma, dia mau nyakitin Genis." Kataku beterus terang.

"Hah,ngapain Genis takut disini kan ada papa,papa bakal jagain Genis. papa kan superheronya Genis. " Seru papa ku yang datang menenangkanku.

"Duarrr" Tiba-tiba saja petir itu menyambar dengan sangat keras hingga memekakkan telinga.

Dihadapanku kedua orang tuaku terbujur kaku, darah berceceran dimana-mana,aku pun tak mengerti apa yang harus kulakukan hanya menangis dan berteriak sambil berteriak.

"Huahahaha... " Tawanya menyambar bagai petir.

"Hiks, hiks, hiks mama,papa Genis
takut,mama,papa bangun, hiks, hiks" Tangisku tak karuan.

"Hahaha, gadis kecil terimakasih ya, hahaha kau telah menjadikanku bebas, haha, bebas... " Entah apa yang kudengar,tapi suara tawa mahluk itu semakin menggelegar.

Aku merasa semakin ketakutan,tapi tak ada yang bisa ku lakukan.tiba-tiba mahluk itu menyentuhku,dari jari kukunya yang panjang darah menetes perlahan.

ia menatapku menghadapkan wajahnya ke arahku aku semakin menangis ketakutan, tapi tak ada yang bisa kulakukan.

"Hmmm sepertinya tak ada gunanya kau untukku saat ini."

Mahluk itu berjalan perlahan menuju jendela kamarku,kemudian berkata

"Mungkin sekarang aku tak akan menghabisimu gadis kecil,tapi suatu saat kekuatanmu akan berguna bagiku huahahaha... " Ia pun melompat keluar melewati jendela kamarku,tetapi tawanya yang menggelegar masih terus terngiang dalam kepalaku.

Dont Think DarknessOù les histoires vivent. Découvrez maintenant