1

144 6 1
                                        


    Korea, 1937


Senyuman gadis itu menarik perhatiannya bagai lentera laut di malam lembah nan dingin itu, kehangatannya menjeratnya untuk mendekat. Namun teman-temannya menyeretnya dari gadis cantik penjual jeruk itu. Membuatnya terjatuh ke trotoar. Tepat pada saat itu sebuah Brougham- kereta kuda tertutup, menikung tiba-tiba, sehingga Kenji Minami tidak jadi kehilangan anggota tubuhnya sebelum sempat memberikan satu hal yang diinginkan ayahnya- keturunan yang layak.

Kenji beranjak dan kemudian terjatuh kembali, tepat di sepatu bot coklat milik si gadis penjual jeruk. Mungkin tidak seharusnya ia menenggak gelas brandy ketiga tadi, ataukah keempat? Hiroshi dan Abe membantunya berdiri.

"Apa kau baik-baik saja, Sir?" tanya gadis itu dengan suara lirih.

Dia pasti tidak lebih dari tujuh belas tahun. Warna matanya kira-kira amber, kuning sawo dengan siluet coklat terang, di bawah redup sinar bulan. Itu bukan pertama kali Kenji melihatnya. Setiap kali Kenji lewat jalan itu, gadis tersebut berada di sana bersama sekeranjang jeruk sambil tersenyum malu kepadanya. Setiap kali Kenji melihatnya, ia merasakan ketertarkan ini. Gadis itu selalu menghadiahkan senyuman cerah untuknya, namun kali ini wajahnya berkerut karena khawatir. Akan dirinya.

"Baik," gumam Kenji. "Hanya terlalu banyak brandy malam ini."

Alis coklat gadis itu menurun pertanda menyalahkan. Dia bukan satu-satunya yang tidak menyetujui perbuatan Kenji malam ini. Kalau kesadarannya tidak pulih sebelum tiba di rumah, sudah pasti dirinya akan habis dimarahi ayahnya. Pertama berjudi, lalu minum-minum, kemudian ia bisa mengira-ngira apa yang ada di benak teman-temannya, tepatnya bukan perbuatan yang pantas dilakukan oleh anak seorang Gubernur Jenderal. Paling tidak begitulah menurut ayahnya.

Kenji terus menatap gadis itu. Ia ingin tahu namanya, mengungkap apakah aroma jeruk itu berasal dari buah yang dijualnya semata ataukah meresap ke seluruh kulitnya. Akan tetapi sekali lagi teman-temannya menariknya dari gadis itu, kali ini lebih pelan.

"Selamat malam, nona manis," ujar Kenji sementara teman-temannya menarik tubuhnya.

"Selamat malam, Sir," suara ringan berirama perempuan itu sampai ke telinga Kenji.

"Jangan bernafsu memandangi perempuan yang tidak akan memberikan apa yang kau inginkan," kata Abe dengan nada sedikit menghina.

"Dan kami tidak akan membiarkanmu melecehkan perempuan lugu yang malang." Kenji menoleh dan menyeringai pada kedua temannya. "Salah satu dari kalian pasti punya pengalaman."

Hiroshi dan Abe menuntunnya berbelok ke sebuah rumah di Nowon-Gu. Setelah beruntung dalam perjudian malam itu, maka kedua temannya berhasil melakukan tugas yang tidak terlalu sulit untuk mengelabuhi Kenji. Barangkali mereka pun tahu hanya itulah satu-satunya cara untuk membujuk Kenji agar mau ikut bersama mereka. Kenji mendongak, memandang rumah itu kemudian menggeleng. Seorang pria memasuki rumah itu, suara riang gembira memenuhi udara.

"Kita berada di mana?" tanya Kenji kendati tahu di mana kemungkinan mereka berada.

"Madam Christina mempunyai perempuan-perempuan paling bersih di kota ini," sahut Abe.

Perempuan itu mungkin saja mengaku bersih, namun yang paling tidak dibutuhkan Kenji adalah seorang perempuan yang akan menularkan penyakit padanya, atau lebih buruk, memberikan anak di luar nikah. Ayahnya tidak akan pernah mau memaafkannya atas pencemaran nama baik seperti itu.

"Aku harus pulang."

Hiroshi hanya tertawa. "Jangan gugup, Kenji. Kita semua pasti mengalami pengalaman pertama."

Abe ikut terkekeh. "Aku tidak percaya kau masih belum..."

Kenji memang belum pernah. Ayahnya telah memperingatkannya tentang pelacur-pelacur tidak bersih di sekitar Nowon dan di kota. Sebagai putra seorang Gubernur Jenderal, Kenji sudah sepantasnya menjalani kehidupan bersih, menikah saat tiba waktunya, dan memiliki keturunan.

"Aku harus benar-benar pergi," Kenji kembali berusaha. Namun teman-temannya tidak mau melepaskan cengkeraman mereka pada lengan Kenji.

"Tidak kali ini," Abe berkata. "Madam Christina akan mencarikan perempuan yang tepat."

"Aku tidak perlu sampai membayar perempuan," gerutu Kenji.

"Memang tidak usah," ujar Hiroshi. "Ini hari ulang tahunmu dan sebentar lagi Natal. Anggap saja hadiah dari dua kawan lama."

Ya. Kenji adalah seorang Kristen, mengikuti ajaran ayah kandungnya, Shim Yanggun. Jiro Minami, atau pria yang mengangkatnya sebagai putra sekaligus pewaris adalah kakak laki-laki ibunya, Hisoka Minami. Ayahnya meninggal saat ia berusia 10 tahun, sedangkan ibunya, ia telah kembali ke kampung halamannya di Fujiyama 3 tahun yang lalu, meninggalkannya dalam didikan Jiro Minami, ayah angkatnya yang kini berstatus sebagai Gubernur Jenderal Korea.

"Kurasa ini bukan ide.."

"Ini memang ide yang bagus. Ide yang sangat bagus," sela Hiroshi.

Membayar perempuan untuk bercinta rasanya keji dan melanggar moral. Perempuan-perempuan seperti itu menempuh jalan ini karena tidak ada pilihan lain. Mereka tidak punya siapa pun.

"Salah seorang dari anak buah Madam Christina akan mengajarimu apa saja yang perlu diketahui seorang laki-laki sebelum menikah."

Kenji mengerutkan dahi. Ia sudah tahu dasar-dasar dari kegiatan itu; memangnya ada apa lagi? "Aku tidak berencana menikah sampai beberapa tahun mendatang. Dan aku.."

"Terlambat. Kita sudah sampai di sini," kata Abe sambil tertawa.

Mereka menarik Kenji sampai menaiki tangga, membuka pintu berpelitur cardinal dan mendorong Kenji masuk ke ruangan depan. Ia nyaris tersandung dan jatuh di lantai marmer kotak-kotak hitam putih. Beruntung Hiroshi menangkapanya.

"Jadilah laki-laki dan lakukanlah," bisik Hiroshi di telinganya. "Istrimu nanti pasti berterima kasih."

Sekarang temannya terdengar seperti ayahnya. Kenji belum menginginkan istri. Usianya baru dua puluh tahun. Selagi berjalan ke dalam ruang tamu, tiba-tiba disadarinya bahwa ia memang ingin belajar tentang hubungan pria dan wanita. Beberapa perempuan berjalan memakai gaun yang dirancang untuk memperlihatkan tubuh mereka.

Madam Christina menawarkan pilihan yang bagus sekali- rambut berwarna ebony, brunette, auburn, russet. Perempuan berdada kecil, besar, dan beberapa di tengah-tengahnya.

Kehadiran mereka mengundang bisikan dan tawa dari perempuan-perempuan yang masih muda serta lirikan dari yang lebih tua. Abe mendekati salah seorang dan dan berbicara padanya dengan lembut sementara Kenji tetap melongo. Celananya terasa sesak menahan gejolak tak tertahankan. Setelah mengedip-ngedip untuk menjernihkan pikiran, Kenji berjalan ke arah pelayan yang menjual minuman dan memesan Scotch.

"Aku belum pernah melihatmu di sini," sapa suara serak dari belakang Kenji.

Kenji berbalik dan menatap perempuan itu. Belahan dada gaunnya nyaris mencapai pusarnya, menampakan pemandangan lembah yang luar biasa di antara payudaranya. Dia memiliki kulit kecoklatan yang eksotis, sedangkan struktur wajahnya, mengingatkan Kenji akan wanita-wanita ras timur tengah dengan mata besar dan hidung mancungnya. Kenji mengangkat gelas Scotch-nya dan menegak isinya.

"Baru pertama kali?" tanya sosok itu sambil tersenyum mengerti. "Yah, kuharap kau memilihku. Namaku Gyuri. Dan aku suka mengajari laki-laki tentang apa saja yang perlu diketahuinya."

"Terima kasih, Gyuri. Akan kuingat."

Kenji buru-buru memesan minum lagi dan menjauhi pelacur tadi. Pasti ada cara yang lebih baik untuk mempelajari seks selain tidur dengan perempuan yang sudah tidur bersama banyak laki-laki.

"Ayolah, Minami," Hiroshi memanggilnya dari depan pintu. "Semua sudah disiapkan."

Kenji merasa ngeri dengan pemikirannya. Namun ia sudah tidak bisa mundur, bukan? Apa kata teman-temannya nanti? Ia tahu persis apa yang akan dikatakan teman-temannya, bahwa dirinya adalah seorang pengecut. Bocah laki-laki yang terlalu takut untuk menjadi pria dewasa.

Setidaknya ia harus melakukannya sekali ini saja. Lalu melakukan sesuatu untuk membantu perempuan-perempuan malang ini. Ia akan mencari jalan untuk memperbaiki kehidupan mereka sehingga mereka tidak perlu berbaring hanya sekedar untuk mendapatkan beberapa Yen.

Seraya mengikuti Hiroshi ke atas, Kenji memperhatikan sekelilingnya. Ketika teman-temannya berkata bahwa mereka akan membawanya ke rumah bordil, Kenji membayangkan sebuah rumah kumuh berisi perempuan telanjang berkeliaran. Tak terpikir olehnya bahwa anak tangganya terbuat dari marmer. Birainya terbuat dari batang kayu kenari, ada lampu kristal yang digantung dari atap lantai dua, juga ada lukisan-lukisan indah beraliran romantisme- yang sama sekali tidak erotis- pada dinding-dinding cokelat tua itu.

Hiroshi menarik Kenji masuk ke koridor panjang, kemudian berhenti di depan pintu kamar sebelah kiri dan membukanya. Kenji ikut masuk ke dalam kamar bercat carmine dan dipenuhi barang-barang feminin itu. Ranjang empat tiang yang besar dengan seprai renda Belgia putih memenuhi sebagian besar ruangan. Di meja yang terdekat dengan tempat tidur, terdapat beragam lotion dan minyak aroma eksotik khas Timur Tengah.

"Madam Christina sedang melayani pelanggan lain, tetapi sebentar lagi akan ke sini untuk membantumu memilih perempuan yang terbaik," ujar Hiroshi di ambang pintu.

Begitu Hiroshi berlalu, Kenji duduk di tepi ranjang besar itu dan memikirkan perempuan seperti apa yang ia inginkan untuk pengalaman pertamanya. Sambil memejamkan mata, bayangan si bunga jeruk kecilnya hadir saat Kenji mulai membayangkan.

Mungkin jika ia meminta seorang perempuan muda berambut cinnamon ikal, bermata goldenrod, senyum bak malaikat, Madam Christina akan memenuhi fantasinya. Saat ia membuka mata, lamunannya buyar. Kalaupun Madam Christina bisa mencarikan perempuan yang mirip dengan si bunga jeruk, pasti tidak akan beraroma segar dan bersih dengan sentuhan wangi jeruk yang kuat seperti si bunga jeruk.

Bunyi ketukan singkat terdengar dari pintu. Ini dia. Dengan goyah ia beranjak dan berdehem. "Masuk."

Pintu terbuka dan seorang perempuan berusia akhir tigapuluh masuk ke kamar. Rambut ebony-nya yang mengilat ditarik habis ke belakang, hanya menyisakan beberapa gulungan kecil rambut yang membingkai wajah ovalnya dengan apik. Sambil menatap Kenji, senyumnya yang sempurna memudar.

Kenji pun balas menatap, bertanya-tanya mengapa wanita yang seharusnya berada di Fukuoka itu kini berdiri di hadapannya.

"Kenji?" akhirnya Madam Christina berbisik, "Kenji, benarkah itu kau?" Perlahan Madam Christina mendekat. Ia mengulurkan tangan untuk menangkup pipi Kenji.

Kenji menjauh darinya seolah sentuhan Madam Christina membakar kulitnya. Saat berbalik menghadap wanita itu, Kenji berkata dengan nada paling kasar yang pernah dilontarkannya. "Mama?"

Madam Christina mengerjap-ngerjap untuk menepis air matanya dan mengatup erat bibirnya. Menyadari kekesalan Kenji, Madam Christina pun menjauh darinya.

"Memang benar kau, kan?" tanya Kenji.

"Tentu saja."

Kenji mencengkeram tiang tempat tidur dan mendekapnya bagai berpegangan pada tali pengaman. Ratusan pertanyaan berlompatan di kepalanya, namun hanya satu yang terucapkan. "Mengapa?"

"Mengapa apanya?" Madam Christina berjalan ke tepi tempat tidur, duduk sambil menatap Kenji.

"Mengapa aku meninggalkanmu? Mengapa aku berbohong padamu dan Jiro Oniisan? Mengapa aku tidak berada di Fukuoka?"

Tinggal satu pertanyaan penting lagi, "Apakah Papa tahu?" Papa yang dimaksud Kenji adalah ayah angkatnya, Jiro Minami, kakak kandung ibunya- wanita itu.

Tampak tubuh ibunya bergidik dengan gemulai. "Ya," bisiknya.

Kenji memegang tiang tidur lebih erat lagi. Bila orang tua berbohong dan menipu anaknya, itu sudah biasa. Namun bila kedua orangtua bekerja sama untuk mengkhianati anak-anak mereka, itu sungguh keterlaluan.

"Sudah berapa lama beliau tahu?"

"Kira-kira sejak aku pergi,"

Kemarahan menyeruak dalam alam pikirannya yang mabuk. "Papa tahu Mama menjalankan bisnis kotor ini dan tidak melakukan apapun?"

Ibunya tertawa lembut. "Aku tahu kau pasti sulit memahami ini, tapi Jiro sama sekali tidak keberatan. Hidup terpisah darinya bagiku jauh lebih baik ketimbang bersamanya. Dia tidak pernah memaafkanku karena menikah dengan seorang pribumi, ayah kandungmu. Tapi dia benar-benar menyayangimu bukan? Dia menginginkan putra yang dapat dibimbingnya, bersamanya kau akan mendapatkan gelar dan sebagian warisannya yang akan digabung dengan warisanku."

"Bagaimana bisa kau berkata begitu? Bagaimana bisa orang dewasa bertindak se-egois itu?" Kenji akhirnya melepaskan tiang tempat tidur, berdiri di hadapan ibunya, kesimpulan menyeruak di dadanya. "Mengapa aku tidak boleh menemui Mama?"

"Aku akan menceritakannya padamu, suatu saat ketika kau sudah siap mendengar hal itu dengan kepala dingin. Sekarang kau harus pulang dan memikirkan apa yang kau ketahui malam ini. Dan setelah kau siap, datanglah menemuiku disini."

"Aku tinggal pergi begitu saja dan menerima kenyataan bahwa aku dijauhkan dari ibuku selama bertahun-tahun tanpa mengetahui alasannya? Mama masih sehat, dan bekerja sebagai germo di rumah bordil!"

Sebelum ibunya sempat menjawabnya, Kenji melangkah ke pintu dan menuruni tangga. Ia berpapasan dengan seorang pelayan yang sedang menaiki tangga dan menyambar salah satu botol brendi mahal yang berada di atas baki peraknya, meneguknya sambil berlari keluar dari rumah mengerikan itu.

Ia berlari menyusuri jalan hingga memasuki area distrik lain dan hampir pingsan di pintu samping gereja Katedral. Hujan bulan Desember yang dingin membuat celananya lembab.

***

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 27, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

TangledStories to obsess over. Discover now