Walau bukan anak kandung, tetapi aku diperlakukan layaknya anak kandung sungguhan. Bapa dan Biyang memberiku nama Alfa. Di depan namaku tidak tersemat nama orang Bali, seperti Made, Wayan, Nyoman, atau Gede, karena aku memang bukan keturunan asli mereka. Ada yang bilang kedua orang tua kandungku berasal dari luar Bali, tepatnya dari Pulau Jawa. Karena itu, tak sedikit penduduk desa sering mempertanyakan statusku sebagai bagian dari keluarga Bapa. Mereka masih sangat antipati terhadap pendatang sepertiku. Tak segan mereka mengungkapkan pikirannya kepada Bapa untuk mendepakku dari desa.
Entah dari tangan siapa wujud bayiku akhirnya sampai ke tangan keluarga Bapa untuk diasuh. Bapa telah berjanji padaku untuk mengasuhku hingga aku telah mampu membedakan mana yang benar dan salah, atau sampai aku menemukan keluargaku. Selama itu pula aku dan Bapa terus dalam proses pencarian siapa gerangan kedua orang tuaku. Bapa dan Biyang sangat hangat menyambutku dan telah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri. Sama seperti yang lain, dalam kehidupan sehari-hari Bapa berperan seolah-olah sebagai ayah kandungku. Mengajariku pendidikan sebelum masuk SD yang membahas sekilas tentang agama Hindu di Bali, adat di Kesiman, dan kadang-kadang juga mengajariku bercocok tanam. Aku pernah ingat dulu Bapa pernah bercerita kepadaku, ia amat ingin memiliki anak lelaki. Tetapi kemudian Biyang justru melahirkan Mbok Nida yang usianya tiga tahun lebih tua dariku. Meski awalnya kecewa, tetapi Bapa sadar bahwa ia harus bersyukur atas apa yang telah Ida Sang Hyang Widhi berikan padanya.
Bapa memiliki nama lengkap I Wayan Kelik Gunawan. Postur tubuhnya mungil, kecil dan kurus, mungkin tingginya sekitar 160-an senti. Kulitnya agak gelap tetapi tidak terkesan menyeramkan. Malahan orang akan merasa segan dan kagum ketika melihat dia tersenyum lebar. Ada pancaran ketulusan dan kebijaksanaan yang keluar dari mukanya tanpa dibuat-buat. Garis-garis tegas di wajahnya menandakan dia orang yang sangat arif. Perangainya sangat mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk bertindak tanpa diperintah. Itulah mengapa ia dipilih sebagai pemangku adat Kesiman.
Bapa adalah anak pertama dari lima bersaudara. Bapa merupakan satu-satunya anak Bapa dan Memenya yang menetap di Bali. Adik-adiknya telah merantau jauh, ada yang ke Jawa, Sumatra, Malaysia, bahkan adik bungsunya sampai ke Mongolia. Meskipun begitu, Bapa tidak pernah merasa iri dengan kesuksesan adik-adiknya.
Sebetulnya Bapa itu pintar. Dia adalah salah satu lulusan terbaik Universitas Udayana tahun 1978, yang bergelar sarjana pendidikan, dan juga sempat aktif dalam berbagai organisasi.
"Bapa dan teman-teman Bapa pernah kejar-kejaran sama pengawal presiden, persis kayak kamu main kucing-kucingan sama teman-temanmu itu. Bapa sampai pernah nginep di kos teman selama berminggu-minggu, dan nggak keluar dari kos. Sampai dicari Meme kemana-mana, sampai telepon polisi juga. Untungnya Bapa selamet. Apesnya, dua orang teman Bapa yang jadi ketua dan pencetus terbentuknya organisasi itu tertangkap dan dijatuhi hukuman mati," tutur Bapa, suatu pagi di pinggir kolam ikan. Aku hanya mendengarkan tanpa mencernanya ke dalam pikiran. Sibuk bermain air.
"Ngeri, Pa," sahut Mbok Nida. "Bapa kok berani?"
"Ya begitulah, masa muda itu memang harus diisi dengan hal-hal yang nakal dan kadang-kadang gila, karena nanti kalau kalian sudah berkeluarga kalian tidak akan punya waktu untuk melakukan hal-hal gila lagi. Tapi jangan kebablasan ya, Gus, Gek, nakalnya yang wajar saja. Kalau yang seperti Bapa, jangan ditiru. Bahaya, taruhannya hukuman mati," ungkap Bapa.
Setelah lulus, Bapa pernah bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran di Jakarta, tetapi hanya bertahan selama satu tahun sebelum akhirnya memutuskan resign dan kembali ke Bali. Sekembalinya, ia merintis usaha kuliner manisan kolang-kaling yang sempat tersohor hingga ke Serawak. Usahanya kemudian mandeg setelah Bapa mendapat tawaran kerja menjadi pengajar di suatu SMA negeri di Denpasar oleh teman seorganisasinya.
YOU ARE READING
ALPHA
FantasyCerita ini mengisahkan seorang tokoh bernama Alfa Firliandi yg memiliki misi mencari kedua orang tuanya, Sejak usia 2 tahun ia diasuh oleh keluarga Pak Wayan yang taat beragama Hindu. Hingga suatu ketika sebuah peristiwa mencabik hatinya dan menyeba...
