/1/
Sebelumnya, kita hanya sekumpulan makhluk purba yang menulis di tembok gua dengan jelaga.
Rumpunrumpun manusia yang buta akan pertanda, kecuali dari sesiapa yang pandai mengetahui berita cuaca.
Atau dari dukundukun tua, yang menjadi perantara langit dan semesta.
Atau kerabat, saudara, dan tetangga, yang beruntung bisa menjelajahi dunia.
/2/
Sekarang kita bisa menuliskan kata, dengan pena tanpa tinta.
Papan yang dipenuhi laskar aksara, seolah berbaris menunggu perang di tendatenda.
Berpadu bersama benda beroda atau bercahaya, dengan genitnya bersedia bekerja jika ada jemari menari di tubuhnya.
Hanya perlu menatap layar kristal ataupun layar kaca, sebagaimana kita biasa mengintip dari sebuah jendela.
/3/
Ada sebuah ruang di sini, yang tersembunyi selain bumi.
Tiap hari hampir pasti kau dan aku sambangi.
Sekedar menepis sunyi, atau sejenak ingin lari dari rutinitas basi.
Segera mengakhiri hari, tanpa peduli.
Bukan di angkasa, pun bukan suatu celah di antariksa.
Maya..
Yang dulu pernah kusangka seorang gadis jelita berkerudung sutra, dengan senyum mentari senja.
Dan di sinilah kita mengembara, di dunia tak kasat mata.
Mencari sesuatu, apapun, bahkan tipu daya.
Sekarang kita terperangkap di sebuah buku yang berisi ruparupa, dan bisa dibuka oleh siapa saja..
B17112010.07.01
YOU ARE READING
Sajak Ruang Dan Sebuah Buku
Poetry7 Sajak Ruang dan Sebuah Buku Sajak satire dunia maya dan media sosial
