Volla!
Semoga cerita ini berkenan di hati para sahabat-sahabat maya ^^
Karya yang luar biasa lama dan menjadi arsip. Dipersilahkan mengkritik sepedas-pedasnya :D
Typo dan kosakata Korsel bertebaran.
Let's Read!
Kim Jong Woon POV
Brak ! aku terkejut mendapati rekanku Hee Chul meletakkan setumpuk komik dengan kasar di mejaku. Aku yang tengah menyelesaikan tugas anggaran dari kepala sekolah langsung mendongak bingung padanya.
"Wae?" tanyaku lembut padanya, dan bisa ku lihat mukanya yang memerah menahan marah disertai tanduk samar di kepalanya yang kian mencuat dalam bayanganku.
"Lihat," tangannya menunjuk kepada tumpukan komik di depanku, "gadis itu benar-benar membuatku gila!" umpatnya sambil kemudian berkacak pinggang dengan kaki tak bisa diam. Aku memutar kursi putarku ke arah kanan, menghindari tatapan Hee Chul yang kelimbungan menahan marah. Refleks jemariku memijat keningku sendiri karena terserang pusing tiba-tiba.
"Panggil dia kesini," titahku pelan namun tegas. Tak butuh waktu lama sampai Hee Chul kemudian menyerat gadis itu ke hadapanku. Ku putar kembali kursiku ke arah depan lalu melihat tampang 'tak berbenah' gadis yang selalu melakukan hal seenaknya di sekolah beribu peraturan tersebut. ku lihat gadis itu meringis dengan perlakuan Hee Chul yang mencengkram lengannya keras seolah titik kesabarannya tertumpu di sana. Aku memberi isyarat pada Hee Chul untuk melepaskan cengkramannya dan dia menurut dengan tampang terpaksa.
"Apa ini?" tanyaku datar dan ketus sambil menunjuk setumpuk komik di mejaku.
"Komik," jawabnya cuek sambil memalingkan muka enggan. Aku mendesah, mencoba tetap bersabar.
"Anak kecil pun tahu kalau ini sekumpulan buku bergambar," kataku menaikkan sedikit nada. Dia menatapku dengan tampang mengejek. "Kalau tahu mengapa bertanya?!"
"Kau!" Hee Chul hampir melayangkan tangannya jika saja tidak ku cegah dengan isyarat mata. Dia kembali diam sambil mendengus di samping gadis itu.
"Jang Mi Ran, siapa yang menyuruhmu membawa setumpuk komik ini ke sekolah?" tanyaku mulai tegas.
"Tidak ada peraturan yang melarang siswanya membawa komik ke sekolah," jawabnya masih cuek.
"Tetapi peraturan sekolah jelas melarang siswanya untuk disiplin mengikuti jam pelajaran dan bukan malah membaca komik-komik ini dari balik meja!" tegurku dengan suara yang agak keras.
"Itu urusanmu," sergahnya tak peduli.
Brak! "Ini masalahmu!!" Aku bangkit dari kursiku sambil menggebrak meja. Gadis itu bukannya takut malah menatap ke arahku sambil melotot.
"Lalu kau mau apa, huh? Menjemurku di lapangan atau menyuruhku memunguti sampah bekas makanmu untuk ku jejalkan ke balik mejamu yang sok wibawa itu??!" tantangnya.
"Kau!!" Aku setengah berteriak dan emosiku mencuat. Aku selalu kalah dalam mengendalikan kesabaran menghadapi gadis pembangkang ini. Rasanya ingin sekali ku tendang gadis arogan yang tidak ada pintarnya sama sekali ini. Apalagi melihat tampangnya yang acuh terhadap segala peringatan dariku. Tak ada takutnya, bengis, dan tak tampak sisi feminimnya sama sekali. Dia benar-benar image buruk dalam kepemimpinan osisku.
Cklek, "Hei, hei, ada apa ini? Mengapa ribut sekali??"
Semua mata menoleh ke arah pintu. Di sana, sahabat sekaligus rival belajarku, Cho Kyuhyun, berdiri dengan senyum menawannya seperti biasa. Aku melihat wajah gadis itu. Ekspresinya berubah. Wajahnya yang selalu menyebalkan tampak melunak. Dia berpaling terus ke belakang menatap sahabatku, memunggungiku, seolah lupa bahwa ia tengah memiliki masalah yang harus diselesaikan denganku.
VOUS LISEZ
My Wife My Enemy
Roman d'amourKisah tentang pertarungan dua orang remaja dalam mengarungi rumah tangga...
