Awal Perjalanan

6 1 1
                                        

Hari ini masa orientasi yang kedua, aku begitu kacau karena membawa handphone di kantongku. Jelas jelas peraturannya dilarang membawa handphone, tapi dengan pedenya aku membawanya di saku rokku.

Arrgggh! Kenapa juga aku ini membawa handphone segala, padahal pacar juga nggak punya.

Flash back on

Seminggu sebelum ospek aku baru mutusin pacarku, pacar yang juga baru. Hanya dua bulan.

Lulus SMP aku punya pacar anak SMA namanya Rio. Dia tetangga nenekku yang tinggal di desa Sebelah.

Kami bertemu sebulan sekali saat aku bermain ke tempat nenekku, karena aku tinggal dikota.

Saat aku dirumah nenek, aku sering diajak keluar oleh temanku disana tapi tentu saja mama berpesan kalau jam 9 harus segera pulang, dan mainnya hanya boleh dirumah Renata. Dia sahabatku dari kecil.

Saat aku duduk dirumah Renata, aku memilih duduk di teras dan melihat langit malam, Rio yang saat itu ikut berkumpul dirumah Renata kemudian menghampiriku dan mulai mengajakku bicara, suasana sangat menyenangkan, seperti ada bunga bertebaran disekitar kami. Tapi semua berubah aneh ketika ditengah perbincangan dia bertanya

"Kamu pengen punya anak berapa?"
Tanya Rio sambil melihatku dalam

"Anak?" Aku mengernyitkan dahi

"Iya, pengen punya berapa?"

Aku menatapnya dengan tatapan Zonk, aku tidak punya jawaban atas pertanyaannya

Dia tertawa dan mengelus poniku "masak gak pengen punya anak? Kalau kita udah nikah nanti aku pengen punya 3 anak" Kata dia polos

Aku melongo sambil berpikir, aku aja masih suka teriak teriak minta ambilin baju ke mama. Dan dia udah ngomongin soal anak. Apa lagi ini? Apa pacaran emang harus gini banget :O

Karena pembicaraan yang absurd itu tanpa pikir panjang aku langsung ninggalin dia, tanpa kabar dan tanpa penjelasan. Kalau dia telpon ak matiin, dia sms aku ga bales.

Jelas saja aku tidak siap menikah.

Akhirnya kami putus sepihak dan dia sukses patah hati.

Saat itu aku tidak mengerti dan tidak juga menyadari bahwa penyesalan akan terjadi padaku selanjutnya, bukan karena menolak menikah dengannya tapi karena tanpa penjelasan aku menyakiti dan meninggalkannya begitu saja.

Flash back off

"Siapa yang hari ini bawa handphone, ngaku aja!!!"

Keringat dingin menyapu dahiku, aku benar benar ketakutan. Suara kakak kelasku begitu lantang.

"Kamu kenapa Cha, ada yang salah, apa kamu menyembunyikan sesuatu?"

Deg! Rasanya hatiku kocar kacir, jantungku berdegup kencang. Tidak ini bukanlah jatuh cinta. Dengan segenap kekuatan yang tersisa aku jawab "Tidak kak" dengan nafas yang sebisa mungkin kuatur agar terlihat tenang.

"Oke kalau gitu, mari kita cek ada apa dengan kamu"

Tangannya sudah menyentuh sepatuku dan tiba2 kak Mira berdiri dan pergi begitu saja.

Padahal aku yakin dia tahu aku membawa Handphone. Tapi kenapa dia pergi begitu saja, ah sial pikirku. Dia cuma mau melihat wajahku yang ketakutan.

Kemudian kakak kelas lain yang tahu kak Mira pergi berlalu, tiba tiba mau menghampiriku dan degg!

"Hei, Lexa, apa yang kamu lakukan, sudah kita bubarkan saja barisannya. Sebentar lagi kegiatan kelas akan dimulai" Teriak kak Mira yang berdiri di depan barisan

Kemudian kak Lexa langsung meninggalkanku.

Fiuuuhhh.. apapun itu, thanks kak Mira.

Masa orientasi berlalu begitu saja, aku tidak terlalu tertarik dengan berbagai permainan di dalamnya. Aku hanya berharap semua segera berakhir. Dan aku berpikir seperti yang di film film akan terjadi bahwa mungkin ada satu kakak kelas yang menatapku dan jatuh hati padaku. Tapi itu hanya khayalanku, karena setelah masa orientasi berakhirpun tak satupun kakak kelas menaruh perhatian padaku. Hahaha

Yaaa akhirnya aku kelas 1 SMA, masuk ke sekolah ini rasanya seperti mimpi. Ini sekolah Unggulan nomor 1 di kota Kediri.

Hari pertama sekolah sangat menyenangkan, dapat banyak teman baru. Dan sekarang waktunya pulang kemudian merebahkan diri di kasur. Saat itu aku pulang dengan dua temanku, Pita dan ila dengan jalan kaki karena aku kebetulan memang tidak bisa naik motor dan jarak rumah ke sekolah cukup dekat.

Aku menyalakan Hp yang dari pagi aku matikan. Dret.. dret... hpku bergetar... tanda ada sms masuk

"Kamu dimana Cha, aku disekolah kamu nih" Doni

Aku langsung balik ke sekolah dan berharap kak Doni masih di sekolahku. Dia sepupuku, alumni SMA ini dan sedang kuliah di UGM sekarang.

Kucari kemana mana ngga ada, yah terlambat pikirku. Yaudahlah nanti aku telpon aja pas udah dirumah.

***

SEBUAH PERJALANANHistórias para pegar e não largar. Descubra agora