Ending

228 22 14
                                        

            Sudah seminggu sejak aku keluar dari rumah sakit, hubunganku dan Mas Aksa masih belum jelas akan berakhir seperti apa. Bukan karena Mas Aksa yang menghilang begitu saja, tetapi karena aku dan ketakutanku. Aku takut bila nantinya aku akan tersakiti dengan semua penjelasan Mas Aksa, aku takut bila nanti Mas Aksa menyerah padaku, dan aku takut nantinya hanya tinggal aku sendirian di dunia ini. Tetapi aku tidak bisa selamanya menghindar dari segala ketakutanku. Tepat di Minggu pagi yang cerah, Mas Aksa datang untuk memberikan penjelasan.

"Selamat pagi, Jani. Kamu terlihat sehat hari ini." Adalah kalimat pertama yang diucapkan Mas Aksa pagi itu, tepat ketika aku memasuki ruang makan. "Pagi juga, Mas. Iya, Jani sudah lebih sehat. Sudah semingguan istirahat masa masih sakit aja sih." Ucapku datar. Suasana yang awalnya canggung berubah menjadi gaduh ketika duo rusuh rumah ini memasuki ruang makan. "Ih, apaan sih bang pake dorong-dorong segala sakit tau, gak?" ucap Shaka. Yang langsung dibalas jitakan di kepalanya oleh Bang Omar. "Elah, bawel banget sih lu. Minggir-minggir, gue mau duduk di sini." Bang Omar mengambil tempat duduk tepat di sampingku. "Sudah-sudah, kalian ini kalau ketemu pasti rebut tapi kalau pisah suka nyariin." Lerai Papa. "Ayo, semua sarapan. Jani habis makan jangan lupa minum obatnya."

Selesai sarapan, Bang Omar dan shaka langsung balik ke kamar masing-masing sedangkan papa dan mama ingin ke rumah tetangga sebelah yang katanya lagi butuh bantuan mereka, yang ku tahu itu pasti hanya alasan saja. Pasti mereka sengaja ninggalin aku berdua dengan Mas Aksa agar kami bisa menyelesaikan masalah kami.

"Ehem." Suara batuk yang sengaja dibuat oleh Mas Aksa membuatku sadar bahwa dia masih di sini walaupun sudah cukup lama ku diamkan. "saya rasa kita harus menyelesaikan masalah kita, Jan." "Apa yang harus diselesaikan sih, Mas? Jani rasa semuanya sudah jelas. Dan Jani cukup tahu diri sama kondisi Jani ini yang akan bikin semua Ibu tidak rela kalau anak lelakinya menikah dengan Jani. Jadi, sebelum Mas mutusin pertunangan kita, lebih baik Jani yang memutuskan." Ucapku panjang lebar, sedangkan Mas Aksa sedari tadi hanya bias diam dan menghela nafas saja di sampingku.

"Oke, saya tahu kamu pasti memilih untuk mengakhiri pertunangan kita, tapi saya gak mau, Jan. saya sayang sama kamu, sudah cukup 3 tahun saya memendam rasa ini. Dan disaat saya baru menikmatinya sesaat, kamu malah menyerah dengan hubungan ini." "Aku gak menyerah, Mas. Tapi aku cukup tahu diri." "Kamu sayang sama saya kan, Jan?" "Aku.. Aku.. Aku enggak tahu, Mas. Aku bingung. Semuanya terlalu cepat. Rasanya baru saja aku tahu gimana perasaan Mas Aksa, baru saja kita bertunangan tapi tiba-tiba semuanya seperti ini. Aku bingung, Mas." "Kamu tidak perlu bingung, Jan. Kalau kamu sayang saya, dan kamu juga yakin gimana perasaan saya ke kamu. Kita bias hadapi semuanya bersama. Saya akan jelasin semuanya ke Ibu, saya akan buat Ibu mau menerima kamu. Saya akan perjuangin kamu, Jan." Begitu besar janji yang diungkapkan Mas Aksa hari itu, dan aku pun percaya dengan janjinya untuk terus memperjuangkan aku di depan Ibunya. Setelah itu Mas Aksa pamit pulang dan tak lupa mencium keningku seperti biasanya.

---

Hari demi hari terus berganti, tetapi nasib hubunganku dengan Mas Aksa masih begini-begini saja. Mas Aksa masih berusaha untuk meyakinkan Ibunya. Pikiran Mas Aksa yang terbagi dengan pekerjaan dan menyakinkan sang Ibu, membuat perhatiannya padaku semakin berkurang. Aku pun tidak ingin menambah beban pikiran Mas Aksa dengan merengek-rengek minta perhatian karena aku tahu pekerjaan Mas Aksa cukup padat di kantornya.

Aku tidak tahu bagaimana awalnya, tapi semenjak Kak Iyo lulus kuliah dan sudah diterima bekerja di sini, kami kembali menjadi dekat. Kak Iyo jadi sering main ke rumah, karena Bang Omar yang baru lulus kuliah sudah kembali ke rumah dan tidak menjadi anak hilang lagi. "Hai, Jan. Sumpek banget mukanya. Ga dapat jatah dari Mas Aksa ya, haha." Kak Iyo malah meledekku yang memang sedang cemberut karena sudah beberapa hari ini Mas Aksa tidak pernah menghubungiku. "Jangan bete gitu dong, Jan. Gimana kalau kita jalan aja? Kamu mau nongkrong atau nonton film?" "Aku gamau kemana-mana. Mau di rumah aja." "Yaudah, aku temenin kamu deh." "Apaan sih, nemenin. Memangnya Jani anak kecil yang harus ditemenin. Lagian Kak Iyo ngapain ada disini? Bang Omar kan lagi malam mingguan sama Danish." "Kita janjian mau nobar bola, tapi emang si kampret sempet-sempetnya jalan sama pacarnya."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 22, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Celah #2 (Ending)Stories to obsess over. Discover now