Six Hours With You
(ketika semuanya terasa nyata bagiku)
Part 1 ( who i am?)
Berjalan di bawah sinar bulan, begitu indah seakan aku berharap waktu berhenti sejenak, bunga bermekaran, cahaya putih bersinar terang . apakah ini mimpi?
Diujung sana ada sosok laki-laki tinggi, dia memanggil nama ku Kara. Sepertinya ku mengenalnya, tidak begitu jelas wajahnya, suara sangat ku kenali, tapi siapa?
Ku ikuti suara panggilan lelaki itu, semakin ku mendekat semakin lelaki itu menjauh, tidak ku sadariku berada di dalam cahaya begitu terang, tidak bisa ku lihat apapun, ku terus berjalan dan ku sampai di sebuah pintu, saat ku buka, ku melihat orang-orang yang tidak ku kenali melewati ku, mereka memakai jas berwarna putih dan benda aneh yang berada di lehernya, dan ada anak-anak yang menangis kesakitan, dimana tempat ini? Ku berusaha bertanya pada salah satu wanita yang sedang lewat membawa sesuatu yang aromanya tidak ku sukai, wanita itu tidak memperdulikan ku, tidak mendengar ku, mungkin karena wanita itu sedang sibuk.
Terdengar suara rintihan dan permohonan yang di lontarkan oleh lelaki yang terlihat sudah tua, ia memohon kepada wanita yang berada di depannya untuk memberikan keringanan untuk anaknya yang sedang sakit dan membutuhka operasi sesegera mungkin, Bapak itu pun berjanji akan membawakan uang untuk biaya operasi anaknya, uang memang bukan alat ukur dari kebahagian seseorang, tetapi kita sebagai manusia membutuhkan uang untuk menemukan kebahagian itu, tidak kusadari ku meneteskan air mata, dan ku mengingat ayah ku, pasti ia akan melakukan hal yang sama jika aku di posisi itu.
Lelaki itu baru saja keluar dari kamar itu, lelaki itu ku rasa berusia 25 tahun dan sepertinya ku mengenalinya di ikuti wanita muda cantik berusia sekitar 20 tahun yang menenangkan lelaki itu, dada ku terasa sakit ketika ku lihat wanita itu, wanita itu memanggil lelaki itu ka Dika, dan lelaki itu memanggil dengan sebutan Naya, aku mengingat mereka, iya lelaki itu adalah kaka ku, dan wanita yang berada di sebelahnya ia adalah Naya sahabat ku
Terdengar suara bip bip dari ruangan yang baru saja ka Dika dan naya keluar, aku berjalan menuju ruangan tersebut, Dika dan naya membuka pintu itu, ku mellihat ayah dan ibu ku sedang menangis, seorang wanita yang terbaring di tempat tidur tidak sadarkan diri, wajahnya tertutupi selang infus tidak bisa ku kenali, tapi ku rasa wanita itu terlihat masih muda mungkin ia berusia 20 tahun, terdengar langkah kaki dan seorang dokter datang memeriksa keadaan wanita yang terbaring itu, terlihat raut wajah yang tidak menyangka dari wajah dokter lelaki itu, dokter itu memberitahu bahwa semua ini adalah keajaiban untuk kasus anak ibu ini nyonya KARA, apakah aku tidak salah mendengar apa yang dikatakan dokter itu jika yang sedang terbaring itu ialah diriku sendiri, aku tidak bisa berfikir, kenapa aku bisa melihat diriku sendiri? Dan apakah aku hantu? Ku tidak bisa menahan air mataku yang terus menetes dari bola mataku, ini tidak mungkin! ayahku memeluk ibuku yang terlihat lemas, tidak peracaya bahwa anaknya masih ada keajaban untuk bertahan hidup, jika aku belum meninggal, lalu aku? Roh? aku tidak percaya dengan semua ini, dan apa yang sebenarnya terjadi?
apakah aku mengalami kecelakaan, kapan? Aku tidak bisa mengingat peristiwa sebelumnya, yang ku tau saat ini tubuhku berbaring di tempat tidur dengan selang infus dan alat-alat kedokteran yang tidak ku tau namanya, tubuhku bagaikan alien.
Aku harus tau sebenarnya apa yang telah terjadi, Naya ,aku harus bertanya kepada Naya, Naya sahabatku aku rasa Naya tau sesuatu, tapi bagaimana aku bertanya pada Naya jika semua orang tidak bisa melihat ku saat ini.
hidupku diambang kematian, antara aku manusia atau aku roh bahkan hantu, hidupku tidak jelas, , ini menyebalkan sekali, terliha datang seorang lelaki berusia 20 tahun, ibu ku langsug menyambut lelaki itu dengan ramah, ibuku seakan akrab dengan lelaki itu, apakah dia pacarku? Ketika ku memperhatikan penampilannya, rambutnya yang ikal menutupi sebagian telinga lelaki itu, alisnya terlihat tebal dan panjang walau telah tertutupi rambut depannya tetap saja terlihat jelas, bulu matanya yang lentik bahkan bulu mataku saja tidak selentik itu, terlihat menarik, bibirnya yang merah merona seperti buah cherry ,matanya yang kecil dan tajam seakan memanggil manggil namaku, hidungnya yang mancung, suaranya yang terdengar bagaikan bass begitu membuat ku meleleh, tubuhnya yang tinggi dan badan yang tegap membuat lelaki ini terlihat sangat menarik bagiku.
Ibuku berpesan untuk lelaki ini sabar atas keadaan yang menimpa padaku,dia sebagai sahabat harus sering datang menjeguk keadaan ku, Bara, Ternyata namanya Bara dan dia adalah sahabatku, bagaimana aku bisa hanya menjadi sahabat saja kepada lelaki ini? Ketika Bara pamit kepada ibuku tidak sengaja aku melihat gelang yang melingkar pada tangannya,
2 tahun yang lalu
Tidak seperti biasa Bara, Bara tidak mengatarkan ku langsung pulang kerumah tapi kesuatu tempat yang belum pernah ku jumpai, banyak pepohonan, udaranya begitu sejuk, burung-burung berkicau seakan bahagia atas kehadiran ku dan Bara, suara jangkrik masih bisa ku dengar, tempat ini benar-benar indah walau hanya ada hamparan pohon besar yang menguntai keatas, kenapa Bara membawaku kesini, Bara membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan gelang yang terbuat dari kain yang di rajut kecil sangat bagus dan unik, aku suka apapun pemberian dari sahabatku ini, gelang ini hadiah karena kami berhasil lulus dari masa-masa kritis di SMA, ku lihat wajahnya seakan ingin berkata sesuatu padaku, aku kenal sifat sahabatku itu, ada sesuatu yang ia sembunyikan, aku bingung kenapa dari masa SMA sampai detik ini dia belum punya pacar atau gebetan, padahal sahabat ku ini tidak jelek- jelek amat kaya pak tarno, bisalah bersaing dengan aliando syarif atau artis korea Lee min hoo ataupun Gong yoo ,tapi hari ini Bara benar-benar terlihat aneh ia mengatakan jika nanti aku suka sama lelaki di kampus aku harus kasih tau dia supaya nanti di seleksi sama dia, aku rasa Bara bukan hanya sahabat ku tapi malakat pelindungku bahkan satpam pun kalah sama dia.
Dan aku mulai sadar setelah mengingat kenangan 2 tahun yang lalu, ketika aku melihat Bara aku tau alasan kenapa aku tidak berpacaran dengan Bara, karena aku takut jika malakat pelindungku sayapnya akan patah jika dia terus memberikan cinta dan kasihnya padaku, kemudian meninggalkan ku ketika kami berpisah, aku ingin Bara terus bersikap seperti ini,
Naya pamit pulang pada ayah dan ibuku, dan Dika mengantarkan Naya pulang, Bara keluar dari kamarku dan berjalan menuju rooftop rumah sakit, ia terlihat sedih atas kejadian yang menimpaku, Bara meneteskan air mata dari matanya yang indah membasahi bulu matanya yang lentik, mengalir ke pipinya, ku ingin menghapus airmatanya, tangan ku menyentuh pipinya dengan perlahan dan sepertinya Bara bisa merasakan sentuhan itu, Bara terlihat ketakutan, dan bunyi telfon mengahpuskan ketakutan bara, terdengar suara wanita dari telfon Bara, ia memberitahukan jika lelaki yang bernama Rio telah meninggal dunia berapa menit yang lalu, setelah menutup telfon Bara pun pergi dari rooftop.
Siapa Rio? Rio aku seperti tidak asing dengan nama Rio, kenapa Bara terlihat kesal ketika mendengar nama Rio? Dan sepertinya Bara bisa merasakan kehadiran ku, dan aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
t v1 : /İ
YOU ARE READING
Six Hours With You
RomanceBerjalan di bawah sinar bulan, begitu indah seakan aku berharap waktu berhenti sejenak, bunga bermekaran, cahaya putih bersinar terang . apakah ini mimpi? Diujung sana ada sosok laki-laki tinggi, dia memanggil nama ku Kara. Sepertinya ku mengenal...
