I
jelang matahari padam cahaya
biasnya jatuh atas tantangan tahang baruh hijau
bersebati kaki langit pantai sorake
kilau terakhirnya menyapu pada sejoli arca batu jadi-jadian,
setengah hewan separuh manusia
berdiri kaku, para penjaga gerbang bawomataluo.
II
mendaki delapan puluh delapan anak tangga
pelataran sepi bulan pualam
omo hada bergeming, sepi... sepi
seekor punguk berayun di puncak pohon
dari hilinawaluo mazingo, hilisimataeno, orohili botohili, hilimaeta, hilimaenamolo
dibawanya cerita
konon lowolangi raja segala dewa dunia atas
menciptakan pohon hayat tora'a
yang berbuah dua butir
jantan dan betina
dierami laba-laba emas, jadi cikal bakal dewa-dewa
tuhamora'aangi tuhamoraana'a dan burutiroangi burutiraoana'a
juga tentang para dewa yang turun ke bumi
empat jadi para leluhur tano niha
satu tercebur ke air jadi hantu sungai
dipuja para nelayan
satu terbawa angin tersangkut di pohon jadi hantu hutan
pujaan para pemburu
satu tumbang di batu-batu laraga
jadi leluhur mereka yang kebal
yang akhir menembus bumi antaboga
malih rupa jadi ular raksasa
kami sebut ia da'o zamaya tano sisagoro, da'o zamaya tano sebolo
pendukung bumi, penyebab gempa bumi
III
desa-desa tua, rumah-rumah panggung dari kayu dan nibung beralas daun rumbia
berderet-deret kiri-kanan
renta dan rapuh
tiang-tiang tegak menyilang
ikat mengikat satu sama lainnya
berpadu dalam omo hada
tanpa sekrup tanpa paku
cukup pena, pasak kayu dan lilitan
ringan dan lentur layaknya ilalang
yang tak tercerabut dari akar
walau dihembus angin kencang
bayang sinar bulan menyelinap melalui tuwu zago di bagian atap
jatuh pada simalambuo
yang berdiri tegak kokoh menyangga menopang
balok-balok kayu bulat dan batu besar penahan angin
IV
di lapangan desa, di teluk dalam
tempat duduk dari batu kursi bertingkat tempat para raja-raja dahulu
berkumpul dan bersekutu.
mereka tempatkan batu-batu bertumpuk sebutlah ia zawo-zawo
untuk menguji para prajurit lompati pagar pertahanan musuh
kini jadi atraksi bagi para turis yang mampir menikmati suguhan kami.
ah rentang waktu cukuplah panjang untuk menarik kembali ke masa depan
V
di bawah cahaya bulan
para penyembah ruh leluhur, molehe adu berbisik-bisik
para bekhu yang belum sempat menyeberang ke teteholi ana'a berkisah:
"meski fanoro satua telah digelar dan beratus babi dikurbankan
dewa penjaga alam baka dan kucingnya mao enggan izinkan kami lalui jembatan."
"tunggulah barang sekejap, wahai tuan-tuan.
para tamu yang lain akan tiba jelang tengah malam," katanya teguh mengadang
dan kami pun patuh menanti giliran.
bulan setelah purnama langit memerah
semacam peringatan serupa pertanda
bumi berderak meretak dinding-dinding gemeretak meruntuh
desa kami porak-poranda
tapi desa-desa di bawah bukit lebih parah meluluh-lantah
bau amis darah, bangkai hewan dan manusia
anak-anak kecil yang berjalan tertatih payah
mencari ibu-bapaknya (orang-orang yang mencari sanak kerabatnya)
dan pada bulan keramat, wajah-wajah sepucat mayat
berjalan gontai di antara kerabat yang tak bisa melihat
tidur semalam belumlah nikmat
sayang kami harus menghadap akhirat
sementara oma hada bergeming khidmat
atasnya bulan bersinar khianat.
