1.Marrie You

19.2K 1.3K 169
                                        

Rumah itu dipenuhi oleh dekorasi mewah dan para tamu yang datang silih berganti, memenuhi ruangan dengan percakapan dan senyum yang terlihat dipaksakan. Ada urusan besar yang harus segera diselesaikan, dan malam itu, semuanya berpusat pada satu hal: pernikahan antara Kim Jisoo dan Lee Taeyong.

Jisoo menggigit bibir bawahnya saat menatap tamu-tamu yang datang dalam balutan gaun dan jas mahal. Semuanya tampak indah, mewah, dan... memuakkan. Pernikahan ini bukanlah pilihannya. Ini bukan tentang cinta, tapi tentang kesepakatan bisnis antara dua keluarga besar—Keluarga Kim dan Keluarga Lee. Ayahnya dan ayah Taeyong menyatukan perusahaan mereka demi ambisi kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar.

Jisoo bahkan belum mengenal pria itu. Ia tak tahu bagaimana sikap Taeyong, apa yang dia suka, bahkan seperti apa suaranya. Namun tanpa pernah bertemu, tanpa ada percakapan pribadi, mereka dipaksa menikah.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar dalam kamar. Gaun putih menjuntai anggun di tubuhnya, dan mahkota kecil menghiasi rambut yang ditata rapi. Ia tersenyum. Bukan karena bahagia—senyum itu lebih seperti refleks seorang aktris yang dipaksa berperan dalam adegan pernikahan.

"Jisoo-ya!!"

Pintu kamar terbuka dan ketiga sahabatnya menghampiri. Jennie, Lisa, dan Rosé memeluknya dengan tawa dan air mata yang tertahan.

"Kau cantik sekali... aku bahkan nyaris tidak mengenalimu," ujar Jennie sambil memindai Jisoo dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Padahal aku masih ingin menghabiskan waktu dengan kalian," keluh Jisoo, suaranya lirih namun penuh tekanan.

"Kalau kau sudah jadi istri, waktumu pasti akan banyak dihabiskan dengan suamimu," sahut Lisa.

Mereka tahu. Setelah malam ini, segalanya akan berubah. Tak akan ada lagi nongkrong tengah malam atau tidur berempat di kamar sempit mereka. Namun meski perasaan menolak itu begitu besar, mereka tak bisa menolak kenyataan.

"Jisoo-ah, ayo... pengantin lelakinya sudah datang."

---

Di altar pernikahan, semua mata tertuju pada mereka. Kamera merekam, kilat lampu menyala bergantian. Jisoo bisa merasakan detak jantungnya berdentum keras, hampir menembus tulang rusuknya.

"Silakan tukar cincin kalian."

Taeyong, tampak tenang dalam balutan jas putih gading, mengambil tangan Jisoo dan menyematkan cincin perak dengan permata berbentuk bintang. Sentuhannya dingin namun ringan. Jisoo membalasnya, tangan mereka bersentuhan sekilas.

"Silakan ucapkan janji suci."

Taeyong menatap matanya. "Saya, Lee Taeyong, berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Kim Jisoo."

Jisoo terdiam. Janji adalah sesuatu yang suci baginya. Ia takut tidak bisa menepatinya. Tapi semua orang menatap, menunggu. Bahkan kamera menyorot ke wajahnya.

"S-saya, Kim Jisoo, berjanji untuk selalu menyayangi Lee Taeyong dan merawatnya sebagai seorang istri yang baik."

Matanya terpejam saat bibir Taeyong menyentuh keningnya, menandai mereka sebagai suami istri yang sah. Tepuk tangan pecah. Tapi di dalam hati Jisoo, hanya ada hening.

---

Dalam perjalanan menuju rumah barunya, Jisoo bersandar di jok mobil, menatap jalanan Seoul yang berpendar oleh lampu-lampu kota. Ia memikirkan ciuman tadi. Singkat, lembut, dan... menakutkan.

Taeyong terlalu tampan. Terlalu nyata. Ia adalah seseorang yang biasa dilihat Jisoo di layar kaca. Sekarang, pria itu adalah suaminya.

"Malam ini kau akan melakukannya dengannya, kan?" tanya sang ibu tiba-tiba.

Me And My Husband. ✓Des histoires addictives. Découvrez maintenant