Kesiman, Bali
1990
Saat ayam-ayam tetangga sudah terdengar saling berkokok, aku beringsut membuka tirai jendela seperti yang biasa kulakukan setiap pagi sebelumnya. Aku begitu senang melihat matahari menyorot kaca jendela dan membuat sudut ruangan rumah kami bercahaya seperti di panggung teater. Namun, matahari yang kutunggu itu pagi ini tak memancarkan sinarnya. Ia bersembunyi di balik kelambu awan. Tidak ada celah sama sekali.
Aku ingat sebuah cerita yang pernah diceritakan Biyang. Pada suatu zaman hiduplah sepasang raja dan ratu yang saling mencintai. Pernikahan mereka tak direstui oleh keluarga raja karena sang ratu berasal dari keluarga rendahan. Akan tetapi, pernikahan itu tetap dilaksanakan dengan bantuan para dewa, karena memang raja dan ratu itu sudah ditakdirkan menjadi pasangan oleh para dewa. Ibu raja melakukan berbagai cara untuk memisahkan putranya dari sang ratu, dan sempat melakukan percobaan pembunuhan kepada si ratu tetapi selalu digagalkan oleh dewa.
Sampai akhirnya suatu kejadian mengerikan terjadi. Sang ratu diculik secara diam-diam. Tentu saja itu ulah ibu paduka raja yang tidak menyukai sang ratu. Selama bermalam-malam tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan sang ratu, bahkan dewa pun angkat tangan. Selama hilangnya sang ratu itu juga, wilayah kerajaan dilanda cuaca buruk. Langit selama berhari-hari gelap, mendung, dan berkali-kali terdengar petir. Masyarakat kerajaan percaya bahwa dewa sedang marah karena sang ratu diculik. Sampai akhirnya sang ratu berhasil ditemukan oleh pejabat kerajaan, dan raja mengetahui bahwa pelakunya adalah ibunya sendiri. Lalu, raja tak segan meminta dewa untuk mengutuk ibunya.
Nah, aku berpikir bahwa dewa kali ini sedang marah. Pasalnya, langit gelap sekali. Tidak biasanya cuaca seburuk ini. Beberapa terdengar gludug, lalu disusul kabut angin yang meniup tubuh ranting pohon, mengayun-ayunkan daunnya, dan berliuk-liuk sempoyongan. Siapa pun yang tak berpegangan erat mungkin akan terseret, terjun ke dalam pusaran spiral yang langsung berhubungan dengan kilat petus. Dua dahan raksasa yang bertengger di empat rumah setelah kami akhirnya mengaku kalah, hingga akhirnya menubruk sebuah gazebo di depannya. Bangunan yang biasanya dijadikan tempat rapat kampung dan kumpul muda-mudi, reyot seketika. Angin yang kelihatannya ringan dan tak bermassa itu ternyata mampu menebas dahan pohon sampai ke akar-akarnya. Beringas. Ganas. Beberapa kali terdengar gemuruh pada sisi vertikal, tetapi air yang selalu dirindukan belum juga menghujam bumi. Mencekam. Apakah ini pertanda kutukan?
Beberapa orang berlarian terkencar-kencar menyelamatkan jemuran. Ada juga yang terpaksa menyudahi aktivitas perenungannya di kakus jongkok tanpa atap, dekat sumur, meskipun belum sempat cebok. Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang baru dalam perjalanan menjemput anak-anaknya kembali pulang mempercepat langkahnya, termasuk Biyang dan Mbok Nida yang tiba di rumah dengan napas terengah-engah. Pintu-pintu dan jendela-jendela dikunci rapat. Keadaan di luar benar-benar seperti kota mati. Atau, seperti pada saat perayaan Nyepi.
Aku menurutp tirai jendela lalu meringkuk di kolong meja, takut kalau rumah ini juga terbawa arus badai. Aku ingat kata Bapa, tempat berlindung paling aman ketika gempa bumi adalah kolong meja, maka kupikir ini akan sama ketika badai menimpa. Sementara itu Bapa dan Biyang mondar-mandir, naik-turun ruangan dengan langkah cergas. Setiap kali terdengar bunyi guruh di atas sana, aku mempererat pegangan tanganku yang memeluk kedua lututku. Lalu, aku menundukkan kepala. Berkomat-kamit meminta dewa untuk menyudahi kutukan ini. Kami manusia tidak berdosa. Sementara itu langkah kaki Bapa dan Biyang yang tak beralas menjejak lenggek yang menimbulkan suara jedag-jedug terdengar dari bawah. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka ribut sendiri.
Kepanikan ini mereda setelah sekitar setengah jam bumi Kesiman diombang-ambingkan dengan badai yang tak kunjung menurunkan hujan. Dewa mendengar doaku dan mengabulkannya secepat kilat. Keadaan di luar berangsur kembali normal seolah tak terjadi apa-apa meskipun langit kelam masih menggantung. Beberapa saat kemudian terdengar gumaman pria dewasa yang di luar rumah kami. Kuintip dari jendela, mereka memakai udeng. Gumaman resah yang tak kumengerti artinya. Satu diantara mereka memanggil Bapa. Mengetuk pintu tiga kali. Bapa keluar. Dan aku mendengar keresahan yang sama.
YOU ARE READING
ALPHA
FantasyCerita ini mengisahkan seorang tokoh bernama Alfa Firliandi yg memiliki misi mencari kedua orang tuanya, Sejak usia 2 tahun ia diasuh oleh keluarga Pak Wayan yang taat beragama Hindu. Hingga suatu ketika sebuah peristiwa mencabik hatinya dan menyeba...
