Langit begitu hitam, pekat oleh mendung. Petir mulai terdengar bersahutan. Banyak orang terlihat bergegas pulang. Bahkan kentara sekali ketergesaan mereka dengan seringnya klakson berbunyi. Sementara yang masih di rumah, pasti berpikir seribu kali kalau akan keluar dalam suasana begini.
Tapi tidak dengan Saski. Cewek manis yang merasa mendapat keuntungan dengan dibubarkannya kuliah lebih awal, akibat rengekan beberapa mahasiswi di kelasnya yang takut hujan ini, masih duduk manis di taman kampus.
Saski mendongak sebentar. Sepertinya akan hujan deras, batinnya. Tapi kemudian kembali menekuni ponselnya, sesekali membuat catatan, hanya dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain sibuk memegang apel, yang setia memberi asupan ke mulutnya.
Duarrr!!
Suara petir kembali terdengar. Kali ini cukup dahsyat. Membuat Saski terlonjak kaget, dan apel ditangannya nyaris jatuh.
"Bentar...", gumamnya. Tidak jelas pada siapa.
Kemudian, lagi-lagi kembali ke rutinitas semula.
Tiba-tiba sebuah motor melintas, berhenti tak jauh dari tempatnya duduk.
"Eh! Sas! Masih di sini?" Handy, teman sekelasnya menyapa.
"He eh...", jawab Saski santai. Dia hanya melirik sekilas.
"Gila kamu! Lagi ngapain si? Pulang yuk!" ajak Handy. Kemudian mendongak, "Udah tinggal jatuhnya tu!" tunjuknya.
"Ntar! Duluan aja! Takut ujan kan?" ejeknya. Tetap pada posisinya, tanpa menoleh.
Membuat Handy penasaran. Dia mematikan dan memarkir motornya. Apalagi kata 'takut' yang diucapkan Saski terasa sedikit menohok harga dirinya.
Sebentar, dia sudah ada di depan Saski, dan menjulurkan kepalanya untuk mencuri lihat apa yang dikerjakan Saski.
"Kepo!" tegur Saski, sambil menjauhkan ponsel beserta catatannya.
Handy menggeser tas Saski, lalu duduk disampingnya.
"Segitunya...tugas kuliah?"
Saski menggeleng.
"Penting?"
Saski mengangguk. "Buatku dan beberapa orang."
"Ga bisa dilanjut di kosan?"
"Kosan rame. Lagian dikit lagi kelar kok", kata Saski sambil mengangkat tangannya, memberi kode Handy untuk diam.
Handy hanya mengangkat alisnya sesaat, kemudian meraih ponsel di saku celananya. Melorotkan sedikit bahunya, menyamankan diri, dan bertekad menunggu Saski, sambil memainkan ponselnya.
"Huh... selesai!" pekik Saski, seraya meregangkan ototnya.
"Yuk pulang!" kata Saski, seraya mengemasi cepat barangnya.
"Kamu sering 'ngerjain' di sini?" Handy sengaja memberi penekanan saat menyebut kata 'ngerjain', karena dia tidak tahu, apa sebenarnya yang dikerjakan teman sekelasnya ini.
Sejujurnya tidak hanya apa yang dikerjakan, ngobrol dengan cewek inipun jarang, meski sudah tiga semester sekelas. Apalagi sampai menunggu.
Maklum, Handy yang notabene aktifis kampus, emang jarang ngumpul dengan teman sekelasnya.
Saski mengangguk.
'Sendiri?"
Saski kembali mengangguk.
'Kamu tu aneh!" tuduh Handy. "Kampus udah sepi loh! Apalagi para cewek. Udah pada pulang sejak tadi."
Saski langsung naik sadel belakang, tanpa diminta, begitu Handy menstater motornya.
"Belok kanan pa kiri?" tanya Handy saat sampai persimpangan kampus.
"Kanan! Griya sekar!" ucap Saski.
Handy mengangguk. Menuju kosan Saski tanpa bertanya lagi. Seantero kampus tahu di mana kosan cewek yang bernama 'Griya Sekar'. Kosan yang populer dengan fasilitas lengkap, dengan harga mahal. Anehnya, kosan itu ga pernah sepi. Kamar yang berderet banyak, dengan 2 lantai, selalu penuh terisi.
"Makasih ya", ucap Saski.
Handy hanya menjawab dengan anggukan. Tapi saat dia berbalik.
"Eh! Bentar!"
Handy menoleh.
"Berapa lama kira-kira kamu sampai kosan?" tanya Saski lagi.
Handy mengernyit heran. Tapi toh menjawab juga. "Paling lama delapan menit."
"Ooh... hati-hati!"
Handy kembali mengangguk, kemudian segera melajukan motornya.
Hujan turun sangat deras, begitu Handy memarkir motornya di teras kosan. Untung udah nyampai, batinnya.
YOU ARE READING
Dukun Cinta
RomanceTakdir... Kamu percaya? Aku, iya. Bahkan aku menghormatinya. Sangat. Kalau kemudian aku merubah. Bukan! Menyesuaikan sedikit, itu sekedar upayaku menyelamatkan orang-orang yang aku cintai. Dan itu benar-benar hanya sedikit. Toh, akupun korban dari...
