Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Satu

8 1 0
                                        

Dina menghela nafasnya tersenyum setelah selesai mentransfer uang melalui hpnya, "akhirnya cicilan mobil lunas."

Dia menengokan kepalanya ke suara yang tadi meneriakkan namanya, "eh Riska, ada apa Ris?"

"Akhirnya beban kredit lo berkurang satu ya.." kata Riska sambil tersenyum.

"Iya nih, senang banget bisa beli mobil hasil dari keringat sendiri... Yaampun!! Gue seneng banget! Omegat omegat!" jawab Dina kelewat girang.

"Bisa tuh gue pinjem credit card lo hehee," kata Riska sambil.menggodanya.

Senyumannya langsung lenyap seketika, mendengar perkataan Riska"Enak aja. Nggak boleh!"

"Iya deh iya. Btw, si Iin ngajak makan-makan tuh. Untuk ngerayain ulang tahunnya. Kalau nggak salah habis itu lanjut ke club atau tempat karaoke gitu. Lo ikut nggak?"

Tanpa berfikir dua kali dia menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis, "nggak nolak kalau makan gratis, hehehe..."

"Yaudah sebarin ya, Iin nggak mau mentraktir kalau kita berdua nggak datang."

Dina tertawa mendengar perkataan sahabatnya mengenai sahabat mereka. Ya, mereka bertiga merupakan sahabat karib.

____ ____ ____

"Iin makasih ya makan-makannya." ucap Dina yang duduknya bersebelahan dengan Iin.

"Iya sama-sama Din. Oh iya sebelum gue lupa nih..." Iin mendekatkan tubuhnya ke arah Dina sambil berbisik, "lo lihat deh ke meja di arah jam 11?" Kepala Dina pun mengikuti instrukti Iin. Disana terdapat dua meja, salah satu meja tersebut diiai oleh pria-pria berjas dan berdasi. Saat dia tengah memperhatikan mereka, tanpa sengaja Dina melihat salah satu dari mereka sedang melihat ke arahnya. Mereka bertatapan selama beberapa detik, Dina merasakan perasaan aneh dalam dirinya sehingga dia memutuskan kontak mata keduanya dan langsung bertanya kepada Iin, "yang meja cowok-cowok berjas itu atau yang sedang ada kue ulang tahunnya?" tanya Dina bingung.

"Mejanya para cogan itu loh,"

"Oh,"

"Cowok yang duduknya menghadap ke meja kita dari tadi ngelihatin lo,"

"Halah perasaan lo aja kali," jawab Dina menyangkal. Pasalnnya dia sebenarnya agak malu mengetahui kebenaran tersebut. Karena laki-laki itu terlalu ganteng dan dia merasa bahwa pria seperti itu tidak akan melirik dirinya.

"Ih beneran kok,"

"Lagian ya, kalau misalnya dia emang benar-benar melihat ke arah meja kita, belum tentu dia ngelirik gue. Paling juga lo yang dilirik. Kan lo dewi fortunanya kita,"

"Gue sih seneng-seneng aja ya kalau itu faktanya. Tapi nyatanya nggak saay! Dari tadi waktu lo ketawa, dia senyum sedikit. Terus waktu lo pergi keluar untuk ngambil hadiah buat gue, dia juga ngelihatin lo terus sampai lo keluar dari pintu."

Mendengar penuturan dari Iin, dia jadi kalap sendiri. Karena sebenarnya dia sudah bertemu dengan laki-laki tampan tersebut.

Dua jam sebelumnya...

"Kuyy!" seru Iin sambil menggiring teman-temannya masuk ke restoran terkenal itu. Iin merupakan anak yang berkecukupan. Tapi dia tidak mau dimanjakan oleh kekayaan orang tuanya. Jadi dia bekerja untuk mencari uang bagi hidupnya sendiri. Kemarin sebelum hari ulang tahunnya, orangtuanya menawarkan supaya ulang tahunnya dirayakan besar-besaran di sebuah restoran italia. Tapi dia menolaknya dan berencana akan merayakannya dengan mentraktir teman-teman terdekatnya makan di restoran yang lumayan terkenal. Mendengar jawaban itu, ayahnya memaksanya untuk menerima uang untuk mentraktir teman-temannya.

Dan di sinilah sekarang mereka berada.

Mereka sudah berjalan masuk ke dalam masih tertawa mengingat lelucon yang diceritakan oleh Gera di mobil, teman-teman yang tidak berada di mobil yang sama pun meminta cerita itu diulang kembali.

"Oiya, hp gue di mobil," ucap Dina kepada Iin dan Riska yang berada di sebelahnya.

"Lo berdua duluan aja, nanti gue nyusul," lanjutnya.

"Oke," jawab Riska.

"Jangan kelamaan ya cuy," jawab Iin.

"Yo," balas Dina yang sudah berbalik ke arah parkiran menuju mobilnya.

Setelah berkutat dalam mobilnya dengan posisi kedua kaki yang berada di luar, dia menemukan hp canggihnya itu jatuh ke bawah kursi, dengan tangan yang menjadi tumpuan badannya dia sedikit menungging untuk mengambil benda itu.

"Aah dapat juga," bisik Dina sambil menegakkan tubuhnya.

Tiba-tiba seseorang menyenggol pintu mobilnya dan menyebabkan Dina terjatuh dengan posisi yang tidak enak di dalam mobil.

"Aduh," pekik Dina. Dengan sigap dia memperbaiki posisi dan mengeluarkan separuh tubuhnya dari mobil.

"Maaf saya tidak sengaja," jawab laki-laki yang membuatnya terjatuh.

"Anda tidak apa-apa?" tanya laki-laki tersebut cemas, karena Dina hanya menatapnya dan tidak menjawab pertanyaannya.

Yaampun! Ganteng bener nih orang. Apa gue sudah mati ya bisa ngelihat dewa kayak gini?

"Kamu nggak apa?" tanyanya lagi

Buset suaranya berat banget, yaoloh tatapannya. Meleh gue kalau gini jadinya.

Dina mengerjap kaget saat laki-laki itu melambaikan tangannya di muka Dina. Setelah Dina mendapatkan kesadarannya kembali, pria itu berdeham dan menanyakan kondisinya. Dengan cepat Dina menjawab kalau dia tidak apa-apa, lalu berjalan memasuki restoran tanpa memperdulikan laki-laki tadi yang belum beranjak dari tempatnya.

Sekarang...

Oh begitu, batin Dina.

"Masa sih? Ah kamu, hayalan kamu aja kali," jawab Dina sambil tertawa kecil, seakan-akan tidak percaya dengan ucapan Iin. Tidak mau melanjutkan percakapan ini Dina pun ijin mau ke kamar mandi.

Iin yang melihat langkah Dina menjauh, kembali melihat pria yang dikatakannya tadi. Dugaannya benar, pria tersebut kembali memperhatikan Dina. Bahkan sekarang pria itu mengucapkan sesuatu lalu pergi meninggalkan mejanya ke arah toilet.

Melihat hal itu Iin jadi senang sendiri, seakan-akan dia baru melihat cuplikan drama.

Hmm... Cukup menarik. Aku tunggu kamu memlerkenalkannya padaku Dina...

Batin Iin sambil tersenyum kecil, lalu dia larut dalam perbincangan bersama yang lainnya.

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: May 01, 2017 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

TUAN NONA KESEPIANHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora