Setiap manusia pasti pernah merasakan putus asa. Rasa putus asa selalu datang tiba-tiba dan membutuhkan waktu yang lama untuk terbebas dari rasa itu. Banyak sekali penyebab rasa putus asa, dan setiap orang memiliki penyebab yang berbeda.
Jadi wajar saja jika aku, Alya Agustina, merasa putus asa saat ini. Maksudku, apa yang akan kalian rasakan kalau kalian sudah memiliki rencana untuk mengerjakan tugas yang diberi oleh dosen pada hari itu dan harus dikumpulkan besok, tetapi keadaan tidak pernah mendukung rencana tersebut, mulai dari rapat acara yang berlangsung lama sekali sampai gedung fakultas ditutup, lalu kemacetan yang tiada akhir, dan tetangga yang mengadakan acara nonton di layar tancap dengan suara yang sangat keras sampai dinding rumah bergetar dan selesai pada tengah malam, sedangkan tugas tersebut harus dikumpulkan besok pagi paling lambat jam delapan pagi. Kemudian yang lebih parah adalah saat file tugas tersebut tidak sengaja terhapus dari laptop dan membuat kalian harus mengulang semuanya dari awal di saat jam menunjukkan pukul 5 pagi.
Kalian pasti akan merasa putus asa kan?
Aku benar-benar bingung apa yang harus kulakukan agar tugas ini selesai tepat waktu dengan waktu yang sangat singkat. Rasa putus asa ini benar-benar awalan yang buruk untuk memulai hari, jadi kuharap kalian tidak akan merasakan hal tersebut.
Sepertinya aku tidak akan bisa menyelesaikan tugas tersebut tepat waktu, tapi mungkin aku bisa meminta pertambahan waktu dari dosen itu. Baiklah, lebih baik aku bersiap pergi ke kampus daripada terpuruk seperti ini, mungkin saja ada keajaiban yang datang.
***
Tuhan selalu memberi bantuan kepada hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan. Pertolongan tersebut datang dalam bentuk ketidak-hadiran dosen tersebut. Aku baru tahu kalau keajaiban itu benar-benar ada. Aku merasa sangat bahagia, lega, dan mengantuk saat ini. Aku memutuskan untuk tidur di perpustakaan sebentar sampai mata kuliah selanjutnya. Perpustakaan merupakan pilihan terbaik untuk tempat tidur karena jarang orang yang datang ke tempat itu apalagi waktu masih menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, apalagi aku sangat mengenal penjaga perpustakaan, Pak Dani. Beliau adalah teman ayahku sejak kecil.
“Selamat pagi, Pak Dani”, sapaku sambil tersenyum.
“Selamat pagi juga Alya. Tumben sekali kamu datang sepagi ini”, jawab Pak Dani.
“Iya, pak. Ini saya mau numpang tidur. Biasa pak, habis begadang semalaman buat ngerjain tugas ”, ceritaku.
“Aduh kamu itu, kamu seharusnya jaga pola tidur kamu, kalau tidak nanti kamu jatuh sakit. Kamu kan masih muda Nak Alya”, nasehat Pak Dani.
“Wah saya ga bisa janji pak. Bapak tau kan perjuangan hidup mahasiswa kayak gimana. Apalagi kalau tugasnya udah banyak pak, tidur aja ga sempet. Lagipula pengorbanan yang saya lakukan akan terbayar dengan nilai yang bagus pak, jadi saya bisa cepat lulus dan bisa mulai bekerja”, terangku.
“Ya, saya mengerti maksud kamu. Baiklah, sebaiknya kamu istirahat di tempat biasa saja, tetapi jangan berisik ya, ada mahasiswa lain yang sedang belajar”, ucap Pak Dani.
“Baik, pak. Saya mau tidur dulu. Makasih ya pak, bapak emang pengertian sekali”, ucapku sambil tersenyum.
Aku sedang berjalan ke tempat duduk favoritku saat aku melihat sesuatu yang aneh. Aku tidak percaya ini. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa di dalam perpustakaan aku akan menemukan sekelompok laki-laki yang sangat terkenal di kampus ini, bukan karena prestasinya, tetapi karena mereka adalah sekelompok laki-laki yang paling berbahaya yang membuat mereka disegani oleh seluruh mahasiswa dan dosen, tetapi mereka juga dikagumi oleh para mahasiswi karena mereka memiliki wajah yang sangat tampan. Mereka membuat semua orang merasa takut dan kagum kepada mereka. Aku sangat yakin kalau mereka itu bukan jenis orang yang akan berada di perpustakaan di jam-jam seperti ini apalagi mereka terlihat sangat serius sekali. Sepertinya pepatah ‘Jangan menilai buku dari penampilannya’ itu benar, karena apa yang kulihat saat ini membuktikkan pepatah tersebut.
Walaupun begitu aku yakin kalau hal itu bukan urusanku, jadi aku memutuskan untuk tidak peduli tentang hal tersebut. Lebih baik aku tidur daripada memikirkan mereka. Setelah menemukan tempat yang tepat untuk tidur, aku bersiap-siap untuk tidur.
Tetapi sinar matahari di tempatku duduk benar-benar mengganggu kenyamanan tidurku. Masalahnya, mataku sangat sensitif terhadap sinar matahari apalagi jendela tersebut dekat dengan tempat mereka duduk, dan kalau aku ingin menutup korden jendela tersebut aku harus melewati tempat mereka, tetapi aku sangat tidak ingin berurusan dengan mereka. Ini benar-benar pilihan yang sulit, kalau aku ingin tidur dengan nyaman aku harus menutup korden jendela itu yang mengharuskanku melewati mereka dan membuat mereka menyadari kehadiranku dan membuat situasi jadi aneh, atau aku tidur dengan sinar matahari yang menyengat dan membuat tidurku tidak nyaman, atau menunggu sampai mereka keluar dari perpustakaan dan setelah mereka pergi aku akan menutup korden jendela itu tapi aku tidak tahu kapan mereka akan pergi. Pilihan pertama dan ketiga sangat tidak mungkin karena aku sangat mengantuk saat ini, jadi pilihan kedua merupakan pilihan terbaik. Baiklah, aku akan menggunakan buku untuk menutupi wajahku dari sinar tersebut supaya tidurku lebih nyaman.
…
…
…
Bagaimana ini?
Aku tidak bisa tidur karena sinar itu. Bahkan setelah kututupi dengan buku aku tetap tidak bisa tidur. Apa yang harus kulakukan?
Suara korden yang ditarik membuatku mengangkat buku dari wajahku. Ternyata korden jendela tersebut sudah ditutup. Syukurlah, akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak. Siapapun itu yang menutup korden jendela itu, aku sangat berterimakasih kepadanya.
