Part 1 : I Must Be Bad
Ia beranjak pergi ketika aku tak kunjung bicara. Aku hanya mampu menatapnya nanar. Apa lagi yang bisa kulakukan selain membiarkannya pergi dan menganggapku cuma perempuan jahat, yang suka mempermainkan perasaan laki-laki?
Aku harus menjauhinya. Aku tidak bisa bersamanya. Karena sejak awal kami tidak ditakdirkan untuk bersama.
Ia sudah berbalik dan berjalan beberapa langkah ketika langkahnya kembali terhenti. Bohong jika aku bilang tidak berharap ia akan memintaku untuk tetap tinggal dan menerimaku tanpa banyak bertanya.
“Sekali saja... Tolong bilang kalau kau pernah mencintaiku,” katanya pelan.
Aku menggigit bibir. Berusaha menahan air mata yang hampir turun di pipiku. Aku ingin bilang bahwa aku sangat mencintainya! Aku mencintainya sampai sakit rasanya! Namun yang kukatakan adalah: “Aku... tidak pernah mencintaimu,” kataku. Berusaha keras menjaga agar suaraku tetap tenang. Meski hatiku rasanya remuk redam seperti di terjang badai.
Lalu, tanpa bicara apa-apa lagi Ia berjalan pergi. Aku ingin bangkit dan mengejarnya. Memeluknya dan mengatakan kalau aku sangat mencintainya. Namun aku menahan diri. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa merusak kehidupannya. Sudah cukup banyak aku membuat kacau hidupnya.
Aku sudah mengacaukan semuanya. Aku bermanis-manis padanya karena Ia menyenangkan. Ia baik, ramah dan membuatku merasa nyaman. Aku yakin aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Tapi, itu sebelum aku tau hal yang sebenarnya.
Aku menatap kepergiannya dengan dada yang terasa sakit. Air mata tak lagi terbendung di kelopaknya, melainkan sudah menetes tak hentinya kini.
Jangan pergi, bisik hati kecilku. Kumohon jangan pergi, mengertilah ini bukan yang kumau.
Hatiku terus berontak dan menyuruhku mengejarnya. Namun aku tetap bergeming di tempat dudukku. Hingga aku tak lagi melihatnya.
Aku tau aku telah melakukan hal terbodoh di dunia. Aku jatuh cinta pada orang yang juga mencintaiku, tapi tak boleh kumiliki. Aku tak bisa meraihnya. Tidak jika kenyataan pahit itu cepat atau lambat akan terungkap. Dan aku yakin ia akan membenciku...
***
Part 2 : If I Can Turn Back The Time
Mimpi-mimpi itu menghantui tiap mimpiku sejak aku tau kenyataan pahit itu. Sudah setahun berlalu sejak kejadian itu. Aku bahkan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi sampai sebulan kemudian. Berkat keberhasilanku mendesak dokter yang merawatku saat itu untuk menceritakan apa yang terjadi ketika itu. Karena orang tuaku menolak menceritakan apa yang terjadi padaku.
Saat itu duniaku serasa runtuh. Selama sebulan aku hidup dan menjalani rehabilitasi untuk memulihkan kesehatanku. Tanpa tau bahwa aku telah menghancurkan hidup seseorang. Bukan hanya menghancurkan, namun aku sudah merebut kehidupannya. Sampai sekarang aku masih berpikir kalau seandainya saat itu Tuhan mencabut nyawaku. Seandainya saat itu aku tidak melintas di jalan itu. Seandainya ponselku tidak jatuh. Dan banyak lagi seandainya-seandainya yang kupikirkan. Tapi waktu tak bisa berputar kembali. Aku hidup, sementara ia...
Berhenti memikirkan itu Tiara! Kamu tak bisa menyesali semua yang terjadi! Namun sekeras apapun aku menyangkalnya, kenyataan takkan berubah. Tapi aku yakin akan satu hal. Aku mencintai Jeremy. Aku mencintainya tanpa syarat. Baik sebelum aku tau ia adalah kakak Trey atau setelah aku tau ia adalah kakak Trey. Yang justru membuatku tak bisa memilikinya.
STAI LEGGENDO
MY ALL IS IN YOU
Storie d'amoreAku, Kamu, dan kenangannya berada dalam satu jalinan takdir yang rumit. Dia memberiku kehidupan. Kau memberiku cinta. Tapi aku tidak bisa berada di sisimu. Bukan karena aku tidak mencintaimu, melainkan karena kau adalah segalanya bagiku... Aku pergi...
