PERTAMA

13.9K 65 0
                                        

"Om Dimas, serius mau transfer?" tanya Vivi.
Akhirnya ku ambil hp dan kutransfer sesuai permintaannya.

"Buat siapa sih itu?" tanyaku penasaran.
Ia menceritakan panjang lebar. Baru beberapa bulan kakak perempuannya meninggal karena kanker serviks. Ia menjadi simpatisan dan aktivis aktif.

Sesampainya di kamar hotel, Vivi pun mengunci pintu hotel, menyalakan TV, mematikan lampu. Sementara aku melepas sepatu dan berganti baju. Ia masuk kamar mandi sebentar dan keluar lagi dengan TANPA JILBAB.

Aku terperangah.
"WOW!" mataku tak berkedip.
"Apaan WoW???" Vivi melepas jaketnya dan menyodorkan botol bedak.
"Ka ... Kamu masih 19th ya?" aku masih belum percaya melihat wajahnya tanpa jilbab.

Benar-benar, jilbab adalah tabir penyimpan mutiara. Dibalik jilbabnya, Vivi adalah gadis stylish. Rambutnya a la korea, lurus berponi depan berwarna cokelat terang. Ada tatto henna di sepanjang  leher jenjangnya.

"Biasa aja lah Om Dimas?! Tolong gosokin punggung Vivi ya ... Vivi percaya Om Dimas ga bakalan ngapa-ngapain Vivi."
Aku sedikit sungkan sudah berfikir yang tidak-tidak sementara Vivi mempercayaiku.

Vivi membuka baju hingga punggungnya terlihat. "Sambil di pijit ya Om?!" kata Vivi

Aku sedikit gemetaran karena ini tak biasa untukku. Kugosok punggung Vivi. Ku taburi bedak sedikit demi sedikit. Lalu tak sengaja menyentuh bagian samping payudaranya. Vivi mendesis. Tak ada lagi kata-kata.

"Ooohhh ... " Gumamnya pelan tapi berkali-kali.
Sontak kelaki-lakianku bangkit. Aku seperti tersihir oleh tubuh Vivi. Punggungnya yang mulus, pantatnya yang bulat, pinggulnya yang ramping serta payudaranya besar tertutup bra... Dan detak jantungku berlari bersama deru nafsuku.

Aku seperti orang kesurupan. Tiba-tiba kujilati leher dan telinganya dari belakang dan ku remas payudaranya. Sama sekali tak ada perlawanan.

"Vivi nyaman sama Om Dimas. Om nyaman sama Vivi?"
Aku tak berani menjawab, takut jika aku hentikan rangsanganku, ia akan sadar dan menolak.

Saat Vivi berbalik, matanya terpejam dan bibirnya sedikit menganga. Mirip bintang porno jepang. Aku makin tak bisa menahan hasratku.

Oh, aku benar-benar sudah tersihir oleh kemontokan tubuh wanita selain istriku.

Tangan Vivi dengan sigap melucuti baju dan celanaku. Aku kualahan melepaskan pakaian dalamnya.

Kujilati seluruh tubuhnya. Aku tak tahu darimana aku belajar itu. Ini pertama kalinya aku bercinta penuh gairah ...
Aku tak peduli lagi jika kami sama-sama punya pasangan resmi.

Aku berhenti di depan bagian wanita yang paling sensitif.
Di hadapanku, di depan mataku. Kumainkan dengan jemari tanganku sambil aku amati.

Sayang, bulunya lebat. Tapi saat ku cium harum sekali. Aku menjilatnya, baru tahu rasanya asin dan ada gurih-gurihnya.
Oh, aku ternyata mendapatkan penyulut gairah dari situ.

Aku takut tak bisa bertahan lama, aku permainkan dulu agar Vivi bisa mencapai klimaks nya
Aku terkejut tiba-tiba kepalaku di jepit kuat oleh paha Vivi. Oh, ia orgasme? Rasanya gurih agak sepat. Tapi entah kenapa aku semakin bergairah.

"Oohhhh ...hhhh. " gumam Vivi.
Ia mencoba bangkit. Menarik kepalaku dan kami berciuman lama sekali. Bibir kami saling melumat dan tak tahu kapan mulainya, Vivi sudah berada di atasku.

Aku bergetar, sekuat tenaga ku tahan agar tak meledak seketika.
Tapi ketika denyutnya kurasakan, aku tak kuasa lagi menahan. Untuk pertama kalinya aku bisa bertahan selama 2jam di atas ranjang. Melihat wajahnya yang merah merona, senyum terpancar di wajahnya seperti melihat matahari terbit di pagi yang cerah.

Vivi kelelahan, ia tidur setelah kami bercumbu dan saling memuji. Mata yang terpejam, bibir tampak mengulum senyum, peluh berkilau diantara rambut dan pelipisnya.

Aku bangkit dan membuka dompet Vivi yang tergeletak di meja. Oh, hanya ada 1 atm, KTP, Kartu mahasiswa, kartu kredit dan uang 72ribu.

Kuambil dompetku, kumasukkan tumpukan uang ratusan ke dalam dompet itu. Entah berapa, 3-4juta tapi tampak penuh di dompet Gucci milik Vivi.

Tak bosan aku melihat wajah Vivi saat tidur. Hatiku bahagia mendapatkan pengalaman termanis dan dosa terindah.

"Hmmm ... Om Dimas ...," Gumamnya sesaat. Ah, dia masih merasakan nikmat.

Kembali darahku bergejolak, tubuhnya masih telanjang bulat. Padat berisi, sempurna!

Betis kecil, kaki mungil, paha besar dan pantat lebar tapi pinggul benar2 kecil. Buah dada bergelantung berwarna merah kecoklatan dan berleher jenjang.

Sungguh suami yang bodoh, membiarkan istri seindah itu kesepian bahkan sangat di sayangkan bila disia-siakan dan di tinggalkan.

Aku tak menyalahkan Vivi yang pada akhirnya memasrahkan tubuhnya untukku. Saat ini adalah saat penantiannya. Ia bertemu seorang yang benar-benar masuk dalam kriterianya.

Benar-benar kami seperti sepasang kekasih. Di ranjang kami memadu kasih, mengenal satu sama lain lebih dekat.

"Aku dulu mengharapkan setiap malam sebelum tidur kami bisa bercinta. Bercerita dan saling merayu ... Bukankah itu yang selalu Rosulullah lakukan?!"

Aku non muslim tapi sedikit tahu tentang islam dari tayangan televisi. Pada dasarnya Vivi adalah wanita yang taat beribadah. Tapi kenapa dia sengaja melakukan dosa?

Kembali permainan aku ulang. Ia yang masih menikmati dan sama sekali tak menolak. Bahkan saking sukanya, kami mencoba berbagai gaya. Tak tahu berapa lama, tapi sampai kami sama-sama kehabisan nafas dan hilang daya. Dan aku terkapar tak berdaya saat adzan subuh berkumandang. Vivi adalah wanita terhebat yang pernah ku temui.

Lembut, manja dan mengajarkan bagaimana menikmati bercinta.

"Sayang, rasakan betapa aku mengagumimu dan menginginkan ini hanya denganmu?!" ceracaunya ...
Di depan dinding cermin kami bercinta. Kulit keriputku di rabanya. Di jamah dan di jilat tanpa rasa jijik sedikitpun.

Aku merasa nyaman dan melayang. Bodohnya suami Vivi yang meninggalkan Vivi demi wanita yang belum tentu lebih darinya.

Vivi mengajarkanku bahwa bercinta itu expresi cinta bukan sekedar nafsu tanpa rasa. Dia istimewa ...

Banyak hal yang awalnya tak terfikirkan olehku dan Vivi mengajarkan kepadaku.

Dimana gairah kami menyatu, ia menginginkan hubungan ini. Aku merasa bagaikan raja olehnya. Mungkin ini yang disebut wanita hypersex?

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Aku bangun pukul 8 pagi. Saat membuka mata, Vivi tersenyum kepadaku dan bilang "Selamat pagi, Sayang." Ah, sempurna duniaku.

Vivi tersenyum manis dan matanya memancarkan kebahagiaan. Aku juga bisa merasakannya.

"Semalam, suka tidak?" tanyaku.
"Suka sekali. Puas dan Vivi bahagia?!"
Di sodorkannya teh manis di tangannya. Aku meminumnya.

"Akhirnya Vivi bisa merasakan surga dunia. Dimana perasaan terasa lepas bebas mengekspresikan luapan hasrat."
Vivi mencium pipi kananku.

CINTA SATU MALAMWhere stories live. Discover now