Apakah Tuhan salah menempatkan rasa? Bagaimanakah ceritanya jika kemudian Tuhan menyengaja untuk membuat sakit di hati anak manusia? lalu sempatkah terpikir jika ternyata Tuhan sedang "usil" membuat ujian diambang batas wajar yang ada? Ataukah Tuhan memang menyengaja dengan sederet hikmah yang katanya mesti dituai dengan tahapan pencarian etika?
Jawaban dari sederet pertanyaan yang aku ajukan itu, dengan sengaja aku urai dan aku limpahkan pada cerecau burung di luar sana, pada segaris mendung yang menutup bingkai cakrawala, karena dendang musik yang timbul dari kicau burung menggema hingga ambang cerita.
Sebab di luar sana, beburung menggeliat dari dahan yang satu ke dahan yang lain, meloncat riang dan berkicau saling sahut. Burung sebesar kepalan itu hinggap dengan runtut, berbaris penurut. Bulunya halus dengan paruh mungil tanpa parut, badannya gemuk, menggelembung dengan dada membusung, sesekali sayap kecilnya menguar, mekar dengan bebas tanpa pernah terpasung, mata si burung berpijar kecil, seumpama biji kates, hitam basah penuh lendir, tapi apik. Sungguh pemandangan asik yang tak pernah bosan untuk pagi penuh kabut.
Pagi masih sempurna perawan dengan kabut yang menggelantung di batas awan, embunpun belum sempurna jatuh dari ujung dedaun. Dingin yang menguar dengan hawa sejuk mengelindap, membelusuk masuk dan tetap masyuk dengan cuaca tanpa parasut. Eksotis!
Pagi yang tak tersentuh zat aktif arang atau karbon dioksida, pagi yang elok dengan angin mendesau sejuk, menembus masuk hingga batas kamar tempat aku duduk. Angin tersebut berbisik di tengkuk, merambat perlahan hingga membuat korden jendela berkibar bak bendera. Menimbulkan bunyi derak pada sejumput gantungan laut yang tercantol tepat di kusen jendela.
Aku memejamkan mata, meraba ukiran kecil di kusen tempat aku menangkupkan dagu di sana, menelisik kehalusan ukiran serta dengan sangat liar membayangkan ukiran itu seumpama dagu lancip milik seseorang yang teramat sangat aku rindui pada malam-malam bertutup kabut belakangan ini.
"Dagumumu bagus" pujiku suatu waktu, pada seseorang yang sudah dengan sangat hebatnya membuat malam-malamku tidak lagi tenang, membuat tidurku menelingkup dalam sepotong wajah milikinya, wajah bersih bening dengan dagu lancip yang aku puji saat ini.
"Masa?" matanya mengerjap, kemudian dia mengibaskan tangan lentiknya, tertawa.
"Tapi memang bagus" aku bersikeras.
"Sebagus apa?"
Aku kebingungan menjawab, bagaimanakah ini ceritanya? Haruskah aku mengatakan bahwa dagu itu bahkan yang telah membuat aku meradang belakangan ini?
"Bagus sekali"
"Buktinya?"
"Aku tak tahu" dan percakapan itu berhenti sampai di situ. Tidak pernah berlanjut hingga tahap yang lebih serius dibandingkan pujian tentang dagu bagus dan lancip miliknya. Padahal jika boleh jujur aku akan dengan senang hati menceracau dengan pujian mengular setelah itu. Aku tidak akan keberatan jika kemudian diberi kesempatan untuk memuji biji mata kehitaman, mata yang sudah membuatku nyaris sesak nafas jika mengingatnya. Sepasang mata indah mempesona tepat berada di bawah alis yang berbaris rapi. Karena perpaduan antara alis dan mata itulah yang bahkan mampu membuat malam-malamku terasa semakin sepi dengan gigil yang menggigit rindu.
Sebuah rindu yang aku titipkan pada malam agar benar-benar berlabuh padanya, entah ini nyata atau hanya hayalku saja, tapi aku benar-benar mengingat tiap detail darinya. Aku ingat jika hidung mancungnya yang kecil akan mengeluarkan bintik, tidak tanggung-tanggung ada tiga puluh dua bintik di hidung itu. Dan entah sengaja atau tidak, dia tidak pernah bersusah-susah untuk menghapus bintik-bintik itu, malah membiarkannya duduk manis di hidung mungil yang selalu ingin aku sentuh.
"Kenapa kau sering melihatku lama-lama" tanyanya suatu ketika, aku gelagapan, saat mendapat pertanyaan itu.
"Umm... ummm... ummm" tidak tahu mesti menjawab apa
"Aku suka menatap dalam-dalam wajahmu"
"Mengapa?" kejarnya
"Aku tak tahu" hanya kata itu yang keluar, karena wajah itu yang membuatku tidak bisa tidur semalaman, senyum itu yang membuat jantungku jumpalitan, pijar mata itu yang membuat debaran jantungku berpacu riang, bahkan melihatmu dari kejahuan saja sudah cukup membuatku senang.
"Aku hanya suka melihat keseluruhan darimu" tambahku kemudian
"Lalu"
Aku mengangkat bahu, dia tersenyum, mencibir dan merangkul lenganku, wajahku memanas, hatiku mencelos. Kami berjalan beriringan di sepanjang koridor dengan wajahku yang masih pias, sedang dia dengan tanpa bersalah menggandeng lenganku, menggelayutkan lengannya di sana. Aku bungkam, entah senang atau meradang! Mendadak aku ingat percakapan pertama dengan orang yang sudah berhasil merenggut kebebasanku itu...
YOU ARE READING
Is ...?
RomanceApakah Tuhan salah menempatkan rasa? Bagaimanakah ceritanya jika kemudian Tuhan menyengaja untuk membuat sakit di hati anak manusia? lalu sempatkah terpikir jika ternyata Tuhan sedang "usil" membuat ujian diambang batas wajar yang ada? Ataukah Tuhan...
