Prolog

9 1 1
                                        

Disunting: Rabu, 4 Januari 2017 at 3:33 PM

"Jangan, kumohon jangan. Kalian boleh menyuruhku apa saja asal jangan hal seperti ini." Seorang perempuan yang cantik namun penampilannya sangat mengenaskan memohon sambil menangis di hadapan para lelaki berseragam di hadapannya. Jumlah lelaki-lelaki tersebut ada empat orang, dan semuanya hanya tertawa mengejek ketika mendengar permohonan wanita yang sedang bersujud di hadapan mereka itu.

"Kau tahu kami tak akan melepaskanmu, perempuan manis." Seorang lelaki yang paling tinggi di antara mereka menjawab sambil tertawa merendahkan.

Para lelaki tersebut baru hendak melakukan aksi bejat mereka ketika seseorang membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar. Melihat siapa yang datang tersebut langsung membuat mereka terkesiap kaget seketika.

"E-eh, Jenderal." Salah satu dari mereka bergumam sedikit ketakutan.

Lalu lelaki yang dipanggil Jenderal tersebut menatap marah pada empat orang lelaki yang kini sedang ketakutan itu. "Sudah kubilang bahwa semua perempuan yang berada di bagian inti markas tidak boleh diganggu. Apa kalian tidak tahu atau kalian mengabaikan himbauanku?"

Suara Jenderal tersebut memang hanya berupa desisan, namun arti yang tersirat di dalamnya sangatlah jelas. Mereka berempat mungkin akan segera kehilangan nyawanya hari ini atau bahkan detik ini juga.

DOR! DOR! DOR! DOR!

Dan benarlah. Suara tembakan terdengar empat kali, dan saat itu pula empat orang yang—mungkin–tak tahu apa-apa kehilangan nyawa mereka.

Perempuan yang menyakisikan hal tersebut pun berteriak ketakutan, apalagi ketika tubuh-tubuh tak bernyawa itu ambruk satu per satu ke lantai.

"Dan kau perempuan. Seharusnya kau tak ceroboh dengan melepaskan tanda pengenalmu sebagai pelayan markas dalam," kata Jenderal tajam sambil melempar sesuatu yang bisa disebut sebagai gelang.

Perempuan tadi masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Lalu ia buru-buru bangkit dari duduknya dan segera pergi dari ruangan itu karena bau darah semakin memenuhi indra penciumannya.

Ia melangkah sambil memakai gelang tanda pengenalnya sebagai pelayan bagian markas dalam. Ketika ia hendak berbelok, sebuah saputangan menutup bibirnya dan sebuah tangan mendekapnya. Lalu ia tak ingat apa-apa.

***

Rabu, 4 Januari 2017
4:30 AM

The Romantic WarStories to obsess over. Discover now