Adakah Hak Itu?

14 2 1
                                        

Pai, kamu tahu? Saya ini sedang takut. Takut kehilangan kamu. Sungguh. Ini bukan gombalan receh apalagi candaan garing. Saya bilang gini karena memang saya merasa seperti itu. Lucu tidak? Kalau menurut kamu ini tidak lucu, biar saya jelaskan.

Begini loh, Pai, saya merasa takut kehilangan kamu padahal saya tidak pernah memiliki kamu. Untuk sekarang. Kalau nanti, saya gak tahu tuh. Bisa jadi iya, bisa jadi ngga. Kalau iya, ya saya seneng. Kalau ngga pun, ya gak apa apa. Karena bagi saya, cinta itu memang gak selamanya harus saling memiliki. Semakin saya dewasa, semakin saya mikir kalau ternyata cinta saya sudah lebih dari cukup dengan diceritakan kepada yg menciptakan kamu. Gak perlu lah saya kasih tau siapanya. Kalau kamu seorang muslim, pasti tahu.

Oiya, Pai, kamu tahu gak? Kadang kalau saya nulis kayak gini, saya selalu merasa sungguhan ngobrol sama kamu. Menjelaskan semuanya ke kamu sampai hati saya merasa lega.

Ya ampun, Pai, beberapa hari lalu saya bahagia. Kamu senyum kan? Saya baru lihat lagi kamu kayak gitu. Saya merasa pada saat kamu senyum, muka saya panas, mungkin merah. Saya sampai bingung gimana cara mengekspresikan bahagianya saya. Seakan akan seluruh dunia harus tau kalau kamu, Pai, sudah senyum ke saya. Kita ketemu 2 kali hari itu. Dua kali loh, Pai. Aku benar benar rindu. Sampai 2 kali itu berarti sangat sering buat saya.

Pai, tahu gak? Ehehe maaf, Pai, saya kebanyakan nanya tahu apa ngga sejak tadi. Sebenarnya ini inti dari omongan saya ke kamu. Saya mau nanya kamu. Sebenarnya, saya punya hak gak buat bertingkah sepeti ini sama kamu? Apa dengan kamu memiliki seseorang itu berarti saya ga berhak punya sesuatu ke kamu? Saya rungsing, Pai. Terlalu banyak orang yg nyuruh saya buat berhenti dan terlalu banyak yg bingung kenapa saya bisa segininya sama kamu. Mereka bingung ya saya juga gak tahu harus jawab gimana. Karena semua ini spontan, Pai, bahkan saya hampir lupa bagaimana proses sesuatu ini bisa muncul ke kamu.

Nah, balik lagi ke pertanyaan inti tadi. Jadi, sebenarnya, adakah hak itu? Saya mohon amat sangat, tolong ya Pai, kalau suatu hari kamu bertemu dengan sajak saya baca saja matanya jangan hatinya, saya takut kamu nanti rindu dan nyesal. Saya gak mau sampai kamu merasakan kedua hal itu krn itu berat, Pai.

Dan kalau suatu hari nanti kamu juga baca tulisan saya yg ini, tolong dijawab ya semua pertanyaan saya. Saya bakal nunggu sampai akhirnya Allah bilang waktunya cukup.

Silent LoveWhere stories live. Discover now