"Eomma, cepat! Nanti kita ketinggalan kereta" Gadis berusia 20 tahun ini menggoyangkan tangan ibunya seperti anak berusia 6 tahun yang minta dibelikan permen.
"Tunggu sebentar, Sunhee. Kita pamit dulu kepada Appa-mu" Sang ibu mengusak lembut rambut anaknya, lalu menarik tangan Sunhee menuju Appa-nya.
"Hati-hati di jalan ya? Maaf, appa banyak kerja di sini. Tahun depan Appa pasti akan ikut" Ayah Sunhee mengacak rambut anaknya ini.
"Appa! Rambutku berantakan, tahu" Sunhee merengut kesal dan Ayahnya hanya terkekeh melihat kelakuan anaknya yang masih kekanak-kanakan ini.
"Huft, Yasudah. Kami pergi dulu ya, yeobo. Jangan lupa makan" Sang Ibu dengan segera menarik tangan Sunhee menuju kereta setelah sebelumnya sepasang insan itu ber-lovey dovey.
------
"Oppa! Aku merindukanmu" Sunhee berhambur ke pelukan kakak lelakinya, Sunho, yang telah menyambut kedatangan mereka di stasiun kereta tadi.
"Aigoo, kau bertambah besar ya. Aigoo, Sunny-ku." Sunho segera membalas pelukan adiknya ini dan kemudian mencubit gemas pipinya.
"Aih, berhenti memanggilku Sunny dan mencubiti pipiku" Sunhee melepas cubitan di pipinya dan bertolak pinggang. Sunho hanya terkekeh melihatnya, 'lucunya adikku ini'
Sunho beralih menuju ibunya dan memeluknya singkat.
"Eoh, appa tidak ikut ya? Ah, dia kan sibuk. Aku lupa, hehe" Sunho menjawab pertanyaannya sendiri dan segera menggandeng kedua wanita ini menuju rumahnya.
------
"Waah, ada bunga"
"Woah, tamannya indah"
"Woah, ada ayunannya"
Banyak 'woah' yang keluar dari mulut Sunhee. Saat dirinya sampai di rumah kakaknya, ia melangkahkan kakinya menuju taman belakang yang dibilang Sunho.
"Aku membuat taman ini khusus untuk Sunny-ku loh" Sunho berlagak dengan membusungkan dadanya sombong.
"Benarkan? Wah, gomawo Oppa!" Ia menepuk kencang punggung Sunho karena bersemangat sekali. Sunho kesakitan, tetapi mencoba untuk tetap berlagak Cool di depan adiknya ini.
"Anak-anak, eomma kembali ke Seoul ya? Obat eomma tinggal di rumah" tiba-tiba ibu sudah ada di dekat mereka dan berkata dengan panik.
"Eomma, kenapa bisa tinggal? Ya sudah, aku antar ya?" Sunho memegang bahu ibunya dengan panik. Bagaimana tidak, ibunya sangat bergantung dengan obat itu. Kalau tidak diminum, bisa terjadi sesuatu. Ibunya akan kehilangan kontrol dan cepat emosi. Bisa dikatakan ibunya mempunyai penyakit mental
"Tidak usah, kau temani saja adikmu disini. Dia bilang ingin melihat sunset di pantai busan. Lagipula Busan-Seoul dekat kok" Ia segera menenangkan kedua anaknya yang terlihat panik itu. Lebih-lebih Sunhee, ia sangat mengkhawatirkan ibunya ini.
"Kalau begitu, ibu pakai taxi saja ya? Akan kupesankan" Sunho segera mengeluarkan ponselnya dan memesan sebuah taxi.
------
"Oppa, kau sudah dikabari Eomma?" Kedua kakak beradik ini sedang termenung di ruang tengah. Mereka menunggu sang ibu yang belum kembali sejak pagi tadi, padahal sekarang sudah tengah malam.
Tiba-tiba telfon Sunhee berbunyi, ibunya memanggil.
"Eomma! Kenapa tidak kembali ke Busan?" Sunho terperanjat mendengar pekikan nyaring adiknya
'Sunhee-ya, eomma..- eomma mem..-membunuh a-appa'
"Eomma, bicara yang jelas"
'A-aku memergoki d-dia, d-dia selingkuh. Aku m-arah dan-dan me-mengambil pissau la-lu menikam..- menikamnya ss-sampai mati'
"eomma jangan bercanda. Aku kesana sekarang" Sunhee segera memberitahu kakaknya dan melesat menuju Seoul.
------
Mata mereka berdua membulat melihat pemandangan di dalam sini. Ayah mereka bersimbah darah di atas kasus ber seprai putih itu, ibu mereka meringkuk di sudut kamar sambil menangis.
"A-appaa" suara Sunhee bergetar dan ia segera melangkahkan kakinya menuju mayat Ayahnya, memegang tangannya yang berlumur darah. Lalu ia segera menuju ibunya dan mendudukkannya di kursi,
"Eomma, jangan panik. Berikan pisau itu kepadaku. Aku akan menelfon polisi" Sunho terkejut dengan perkataan adiknya ini,
"Sunny! Kau ingin Eomma masuk penjara?!" Ia memegang bahu adiknya ini dan menatap matanya.
"Tidak! Ajak eomma pergi dari sini! Saat ini juga! Kumohon! J-jebal! Hiks!" Ia segera mendorong Sunho dan Ibunya menuju pintu keluar.
"Lalu bagaimana denganmu?" Ia memandang khawatir adiknya.
"Jangan dipikirkan. Aku bisa mengatasinya. Oppa pergilah bawa eomma sekarang" Ia mengelus pipi Sunho lalu memeluk keduanya dan menutup pintu.
Terdengar bunyi mobil Sunho telah pergi, ia menangis. Beberapa saat kemudia sirine polisi terdengar di luar dan ia menyerahkan diri kepada polisi dengan mengaku bahwa ia membunuh ayahnya.
------
"Sunny. Kau bilang ini yang namanya mengatasi? Kau..kau bodoh sekali" Sunho menangis sambil memegangi tangan adiknya yang diborgol.
"Oppa, jangan menangis. Bagaimana dengan eomma? Apakah ia baik-baik saja?" Ia menghapus air mata kakaknya ini dan tersenyum.
"Dia baik. J-jangan tersenyum, seharusnya aku...aku tidak meninggalkanmu waktu itu. Seharusnya tanganku yang diborgol" ia mengelus tangan Sunhee yang berada di genggamannya.
"Jangan berkata seperti itu, oppa tidak salah. Aku menyayangi eomma dan juga oppa. Aku terlalu sering menyusahkan dan juga manja. Setelah ini hiduplah dengan tentram ya? Jangan pikirkan aku" Setelah berkata seperti itu, waktu kunjungan telah habis. Sunhee dibawa kembali ke selnya dan meninggalkan Sunho seorang diri menangis.
Namun siapa sangka, itu adalah pertemuan terakhir mereka. Esoknya, Sunhee ditemukan meninggal bunuh diri di dalam sel. Sunho sungguh terpukul dengan kejadian itu.
Setelah kepergian Sunhee, ibunya depresi berat. Saat sunho pulang dari pemakaman adiknya, ia mendapati ibunya di bathup yang berisi air, tubuhnya membiru dan kaku, ibunya telah menyusul Sunhee tepat setelah pemakaman adiknya. Akibatnya, Sunho menjadi tidak teratur. Orang-orang memandangnya sebelah mata karena kejadian adik dan ibunya. Saat dirinya tidak sanggup lagi, ia memacu mobilnya menuju jurang. Dirinya menyusul ibu, ayah, serta adik tersayangnya.
'Bagaimanapun, kalian tetap orangtuaku. Aku menyayangi kalian'
'Sunhee. Tetaplah menjadi Sunny-ku,matahariku, cahayaku. Kau orang baik. Aku tak pernah menyesal menjadi kakakmu'
End
------------------------------------------------------
Mian kalau ngak suka
Maklumlah masih pemula
ESTÁS LEYENDO
The Most Beautiful Moment In Life
FanfictionBahagia? Bagaimana jika kebahagiaan itu lenyap karna perbuatan satu orang?
