Untitled Part 1

6 0 0
                                        



CHAPTER ONE

PERTEMUAN

Lampu sorot mengarah ke tempat pemotretan sebuah iklan produk baru. Seorang gadis cantik memakai pakaian sedemikian rupa dengan aksesoris yang cantik tengah bergaya sesuai perintah seorang sutradara.

"Yap ... cukup!" teriak sutradara beberapa saat kemudian. Semua kamerawan menghentikan pemotretannya. Gadis tadi, berjalan dengan anggun meninggalkan tempat tersebut menuju ruang ganti, ditemani oleh manajernya.

"Anda lelah Nona?" tanya sang manajer kepada model disebelahnya.

"Tentu. Sangat lelah malah," jawabnya. Dia mempercepat langkahnya.

"Haruki!" tiba-tiba seorang kru pemotretan memanggil sang model-Haruki. Haruki menoleh malas.

"Apa lagi sekarang?" tanya Haruki ketus. Sang kru hanya tersenyum miring.

"Sutradara memanggil anda," kru memberi informasi.

"Hn. Aku akan ganti baju terlebih dahulu." Haruki menjawab dingin.

"B-baiklah," kru menjawab gugup dengan wajah memerah. Ntah karena takut atau malu. Dia sangat cantik bila dingin. Apalagi saat dia marah, batin kru tersebut. Haruki melangkah cepat.

Jam tangan Haruki menunjukkan pukul setengah 7 malam. Sementara dia dan manajernya tengah menunggu sutradara yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Haruki mendegus kesal.

"Berapa lama lagi aku harus menunggu? Tugas sekolahku bahkan belum aku kerjakan," Haruki mendumel. Manajer hanya menatap atasannya dengan ekspresi kasihan.

"Ayame, katakan padanya aku pulang karena lelah dan belum mengerjakan tugas sekolahku. Nanti kamu naik taksi saja ya? Aku pulang duluan." Kata Haruki kemudian beranjak dari tempat duduknya tanpa menunggu jawaban Manajernya-Ayame.

Setelah Haruki pergi, sutradara telah selesai berbicara dengan seseorang di telepon.

"Di mana Haruki? Ayame," tanya sutradara-Haichi.

"Dia pulang duluan karena lelah dan belum mengerjakan tugas sekolahnya." Jawab Ayame.

"Oh ... astaga! Aku sampai melupakan tugas Haruki sebagai seorang pelajar," sesal Haichi. "Sebaiknya kamu juga pulang Ayame! Tidak baik perempuan pulang malam-malam,"

"Baiklah," jawab Ayame kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Apakah ada yang harus aku sampaikan kepada Nona Haruki?" tanya Ayame sebelum benar-benar pergi.

"Ah, iya! Tolong katakan pada Haruki, besok setelah pulang sekolah dia harus menemuiku untuk membicarakan sesuatu." Jawab Haichi. Ayame mengangguk, kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Tuan, saya telah mengerjakan laporan ini," kata seorang pria kepada pemuda yang kira-kira berusia 17 tahun.

"Ya baiklah. Terima kasih Icko," ucapnya dengan tangan yang masih mengetik di laptopnya. Pria tadi mengangguk kemudian membungkuk menberi hormat dan pergi keluar ruangan. Setelah pria tadi hilang dari balik pintu, pemuda itu menghentikan pekerjaannya.

"Hah ..." keluhnya kelelahan. Kemudian bersender di kursi kerjanya.

"Kenapa menjadi CEO sangat melelahkan sekali," keluhnya. Kemudian ia beristirahat sejenak untuk melepas penat.

Tok tok tok ...!! pintu diketuk.

"Masuk!" perintah pemuda tadi. Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang gadis dengan paras yang cantik dan tubuh yang tinggi serta ideal. Pemuda itu kaget dengan kehadiran sang gadis.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 21, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

YOU'RE MY EVERYTHINGWhere stories live. Discover now