Hoppla! Dieses Bild entspricht nicht unseren inhaltlichen Richtlinien. Um mit dem Veröffentlichen fortfahren zu können, entferne es bitte oder lade ein anderes Bild hoch.
Liliyana....
Hoppla! Dieses Bild entspricht nicht unseren inhaltlichen Richtlinien. Um mit dem Veröffentlichen fortfahren zu können, entferne es bitte oder lade ein anderes Bild hoch.
Hendra....
Lili melirik jam dipergelangan tangannya, dan kembali menyeruput jus jeruk yg ada dihadapannya. Sudah lebih dari setengah jam ia menunggu hendra. Kembali ia menatap pintu msk cafe, tp yg ditunggu blm muncul jg.
Huufft... Lili menghela nafas "ni anak dari dulu ngaretnya luar biasa" gerutu lili mengingat sifat sohibnya ini yg emang suka ngaret.
"Udah lama li??"
Lili memutar bola matanya dan menatap malas ke Hendra yg sedari tadi cengengesan.
"Gak usah cengengesan deh, loe kan tau gue selalu on time."
Hendra yg sedari tadi berdiri menarik kursi disebelah Lili lalu duduk dgn santai.
"Jadi mau cerita apa??" tanya Lili to the point
"Ya elah li, sabar ngapa, gue blm pesen minum juga..." Hendra me_lihat2 daftar menu, kemudian memesan coffielatte pada pelayan cafe yg sedari tadi sdh menunggu di sebelahnya...
"Emang ada apa sih sampe harus ketemuan di cafe berdua??" tanya Lili tak sabar.
"Gue bingung harus mulai dari mana li..." Hendra menghentikan kata**nya wajahnya berubah sendu.
Lili pov Melihat wajahnya yg berubah sendu aku hanya diam menatapnya, menunggu Hendra melanjutkan kata2nya. Ia menggengan tanganku, menatap tajam tepat di manik mataku. "Aku gak tau harus mulai dari mana...." lagi, lagi2 kalimat itu yg terucap dari bibirnya.
"Aku gak tau bagaimana dan sejak kapan rasa ini muncul..." ia kembali menghentikan kata2nya, mengeratkan genggaman tangannya di jemariku.
DEG...
itu yg kurasakan, APA INI?? apa ini pernyataan cinta? Apa ia juga mempunyai rasa yg sama dgnku? Rasa yg selama ini kusimpan rapat dihatiku. Apa dia juga mencintaiku?
Hendra menarik napas panjang dan akan melanjutkan kalimatnya, namun terhenti krn kedatangan pelayan yg mengantarkan coffielattenya.
"Terima kasih" ucapnya ramah pd pelayan itu sambil tersenyum. Ahh... senyum itu memperhatkan lesung pipi yg menawan, yg mampu meluluhkan hati setiap wanita yg melihatnya, termasuk aku.
Author pov Hendra kembali menatap Lili, tajam, genggaman tangannya pun kembali erat.
"Aku butuh kamu..." ucapnya.
Lili menunduk perasaannya tak karuan, senang, terharu, perasaanya berbalas.
"Aku butuh kamu utk menyatakan rasa ini padanya." lanjut hendra.
Lili tersentak, kepala yg sedari tertunduk kini mendongak, tatapannya tertuju pada wajah Hendra 'menyatakan rasa ini padanya, apa ia tak salah dengar? Hendra mengucapkan padaNYA, jadi bukan ia wanitanya, bukan ia wanita yg dicintai Hendra, baru saja sedetik yg lalu ia merasakan kebahagiaan itu, kebahagiaan bahwa cintanya berbalas, tp detik berikutnya ia seperti terhempas, rasa nyeri yg entah darimana hinggap dihatinya.
"Li...."
Suara lembut itu menyadarkannya, sekuat tenaga Lili mencoba tersenyum.
Bukan hanya tersenyum, bahkan sekarang ia tertawa. Tawa yg sebenarnya menertawakan nyeri di hatinya, tawa yg menertawakan kebodohannya yg terlalu cepat mengambil kesimpulan. "HEY... kok lo ketawa..." protes Hendra seraya melepaskan genggaman tangannya "lepas banget tu tawa ya..." lanjut Hendra sambil menoyor kepala Lili. "Awww..." Lili menatap Hendra protes sambil mengusap kepalanya tp sedetik kemudian ia kembali tertawa. "Terus aja...teruuuss...sepuas lo, suka**lo" Hendra manyun. Lili berhenti tertawa namun masih mengulum senyum, matanya ber_kaca** seolah itu karna tawanya. Lili pov Aku terus mencoba tertawa tapi sungguh air mata ini seolah mendesak utk keluar dan TEss...💧💧💧 akhirnya menetes juga "Lili...lo nangis??" Hendra mengulurkan tangannya ke arah pipiku "Bodoh, aku kebanyakan tertawa." aku menepis tangannya " wajah lo Hend... wajah lo.... hahaha..." tawaku meledak " jadi itu wajah seorang Hendra yg lg jatuh cinta... hahaha..." lanjutku sambil memegangi perutku. "Lo tu ya..., gak bisa diajak serius..." Hendra makin manyun, aku menatapnya, ia semakin tampan saja jika sedang ngambek seperti ini... Ia kembali meraih jemariku, wajahnya berubah serius, " Gue serius li, gue jatuh cinta" Aku diam, menatap wajahnya dengan seksama " siapa??" kata itu mengalir begitu saja dari bibirku. Hendra menarik jemariku yg berada digenggamannya, mengecup punggung tanganku. Ahh... Hendra tolong jangan seperti ini sikapmu ini yg membuatku salah mengartikan semuanya.
Author pov Hendra mengecup punggung tangan Lili, ia menunduk, matanya hanya menatap genggamannya dijemari Lili. Tampak jelas diwajahnya bahwa ia berusaha keras mengontrol perasaannya yg bergejolak, sangat susah baginya untuk menyebut satu nama, hanya satu nama yg beberapa waktu ini mengusik pikirannya, mengisi hatinya.... Sekuat tenaga ia mengumpulkan keberanian utk menyebutkan nama itu. "DEBBY??" suara Liliyana membuat Hendra tersentak, matanya menatap Lili menyatakan keheranan dan kebingungan 'bagaimana Lili bisa tau' batinya. "Udah kebaca kali Hend..." Hendra masih bengong menatap Lili. "Ya gak usah pasang muka bego juga, tuh muka jadi keliatan tambah bego..." lanjut Lili sambil mengusap wajah Hendra. "Lo kok bisa tau??" "Nebak aja sih..." Lili nyengir** sambil menggaruk tengkuknya yg tidak gatal.
Setelah berbincang panjang kali lebar Hendra mengantar Lili pulang ke rmhnya. Dan sekarang, disinilah Lili di sebuah taman kecil yg tak jauh dari rumahnya. Lili berjalan pelan menelusuri taman, menatap dan memainkan rerumputan dgn kakinya seraya menikmati semilir angin malam yang menerpa tubuhnya. Pikirannya kembali mengingat kejadian siang tadi dicafe, bagaimana dengan semangatnya Hendra menceritakan perasaannya terhadap Debby, bagaimana detak jantungnya berpacu tak normal jika sedang didekat Debby, ya Debby yg juga sahabat Lili....
Lili pov Aku bisa apa, aku tak mungkin memaksan perasaan ini, memaksa Hendra untuk mencintaiku, bukankah masalah hati itu tidak bisa dipaksakan, aku memang dekat dengan Hendra, begitu juga Debby, kami bertiga teman dekat. TiDAk... lebih tepatnya berempat bagaimana bisa aku melupakan Yong dae, ia juga teman kami walau seminggu ini ia blm ada nongol karna sibuk membatu persiapan pernikahan kakaknya.
Author pov Lili masih berdiri terpaku menutup matanya dan menikmati semilir angin yg menerpa wajahnya, hingga sepasang tangan menyentuh bahu wanita berpenampilan tomboy itu, sentuhan lembut yg membuyarkan lamunannya. "Udah jam sembilan nih, kebiasaan lo gak berubah ya...." Lili tersenyum "elo Yong, kirain siapa, ni jantung kalo gak ciptaan tuhan mungkin udah mencelat kali ya..." ucap Lili sambil memukul lengan Yong dae. "Bisa aja loe" Yong dae balas mencubit hidung Lili. Pria berkulit putih itu kemudian duduk di rerumputan, setelahnya menarik tangan Lili sembari matanya mengisyaratkan agar Lili duduk disebelahnya. "Kemana aja seminggu gak nongol?" tanya Lili setelah pantatnya menyentuh tanah. Pria yg memiliki darah korea itu menatap Lili lalu menyandarkan kepalanya ke bahu wanita bermata sipit disebelahnya, matanya kembali menatap lurus rumput di depan mereka.
Lili pov Sebenarnya yg lagi galau siapa sih, kan gue, kenapa ni bocah yg jadi mellow. Huufft... kebiasaan deh si Yong dae, manjanya kambuh.... "Lo kenapa??" tanyaku tanpa menoleh "Capek...urusan kak Shinta gak kelar**" "Cuma itu??" aku masih memandang lurus kedepan. "Gue kangen lo, kangen Debby, kangen Hendra..."