(Diana POV)
"C'mon! Kau lama sekali!", bentak sahabatku padaku yang masih juga sibuk menali sepatuku. Aku menggeram malas. Pertama, karena mulutku saat ini sedang penuh oleh roti bakar yang kuambil begitu saja tanpa menghiraukan seperti apa rasanya. Kedua, karena aku sangat malas berargumen dengan orang seperti dia. Pria paling cerewet yang pernah kutemui. Kutebak, mungkin didunia yang sangat luas ini, aku akan menemukan pria seperti dia hanya satu kali.
Akhirnya aku berhasil menali satu sepatuku, SATU! Menelan sisa rotiku yang tinggal separuh dengan sekali makan. Meraih tasku dan sepatuku yang satunya lalu membawanya begitu saja dan lantas berdiri. Manusia menyebalkan yang sejak tadi memperhatikanku itu hanya memandangku tak percaya ada peristiwa semenjijikan ini terjadi tepat didepannya. Aku hanya mengangkat bahuku tak peduli.
"Semua! Aku dan Niall berangkat!", teriakku tepat saat sebuah bus sekolah berwarna pink menyala—ewhh, datang didepan rumah. Aku segera berlari dengan tangan kanan memegang sepatu dan tangan kiri sibuk membetulkan posisi tas.Okay, kuakui aku memang sangat-sangat menjijikan. Tapi aku tak peduli, toh, selama aku hidup 16 tahun ini, belum ada satupun gadis atau pria yang merasa terganggu dengan penampilanku yang seperti anak tak terawat ini. Atau mungkin mereka memang tidak peduli? Kuharap demikian.
"Aneh. Setiap pagi aku selalu melihatmu semengerikan ini tetapi entah mengapa setiap aku melihatnya lagi, aku selalu merasa hal itu adalah sebuah keajaiban?"
Aku berbalik menatap Niall yang berhenti tak jauh dari tempat aku berdiri. Ia tampak berfikir keras membuatnya tampak lebih bodoh dari biasanya. Aku memutar bola mataku malas. Dasar, boleh saja wajah tampan tetapi dengan otak seperti itu, siapa yang mau? Oh kurasa seharusnya aku mengoreksi diri sendiri dulu.
Aku hendak berbalik dan menggapai pintu bus ketika tiba-tiba seseorang menabrakku dari arah samping. Otomatis aku langsung oleng kalau saja Niall tidak menopang tubuhku. Mood baikku yang sejak pagi sudah kutata sedemikian rupa langsung menguap begitu saja. Dengan masih menenteng satu sepatuku, aku membenarkan posisiku dan berniat untuk menantang sipenabrak kalau saja Niall tidak mendorongku masuk ke bus dan duduk. Aku hendak mengintip kebelakang. Siapa, sih, orang yang dengan berani-beraninya menabrakku, kalau saja Niall tidak dengan tenang mencegahku. Aku menoleh sadis kearahnya, tetapi ia hanya menempelkan telunjuknya kebibirku. Menyuruhku untuk diam.
"Sstt diamlah, aku berusaha menyelamatkanmu, bodoh."
"APA MAKSUDMU, HAH? KAU-"
"Berbaliklah pelan-pelan, lihat siapa yang telah kautabrak."
"Kutabrak? Hei, kau bermaksud—", tetapi ketika aku berbalik dan melihat siapa pelakunya, kurasa aku ingin Niall membunuhku sekarang juga.
Damn it, Dee. Kau telah masuk kekandang predator pagi ini!
"Kubilang juga apa, semoga harimu menyenangkan, Dee."
"Kenapa dia bisa ada disini? Maksudku, rumahnya kan jauh dari sini!"
Niall mendesah. Dengan takut, ia merilik lagi kebelakang dan menoyor kepalaku yang sudah hampir mendongak sepenuhnya ke arah singa bertangan emas itu. Aku mendengus kesal dan kembali menghadap depan. Niall menatapku antara prihatin dan tidak percaya, "Kurasa aku akan menarik kata-kataku. Bukan 'semoga harimu menyenangkan' tetapi 'semoga harimu bisa menjadi menyenangkan.", ucapnya dengan sangat tega kepadaku. Aku balas menoyor kepalanya, ia mengusap bekas tonjokanku dengan menampakan tatapan menyebalkan khas seorang Niall Horan.
God, kenapa pagi ini begitu sial???
#
NB : Camilia Cabello as Olivia Diana
YOU ARE READING
HARD
FanfictionAku bukanlah seseorang yang membenci arti cinta Aku juga bukanlah orang yang tidak mempercayai cinta Aku bukan seseorang yang dingin akan cinta Tapi aku hanya akan menunjukannya ketika aku telah menemukan seseorang yang bisa membangkitkan perasaan c...
