Saviera menundukan wajahnya mencari benda yang baru saja jatuh dari tasnya. "Ah yang benar saja, kenapa harus disaat seperti ini sih," katanya sambil merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa benda kecil itu jatuh dari genggamannya saat ingin mengambilnya dari dalam tas.
Benda kecil berwarna oranye dengan tambahan corak bergaris biru laut dan hijau muda. Benda kecil yang pastinya dimiliki oleh setiap wanita walaupun dalam bentuk dan warna ataupun corak yang kadang berbeda.
Benda milik setiap wanita yang dapat memperindah bibir mereka dari kekeringan yang melanda. Sudah tahu bukan apa benda kecil itu? Yap. Lipbalm rasa Jeruk dengan campuran Mint juga Bluberry yang baru saja Saviera beli di Paris waktu penerbangan sebelumnya. Lipbalm itu hilang entah dimana.
Saviera. Wanita yang berparas manis. Dengan rambut hitam legam sebahu, mata yang besar disertai bulu mata yang lentik. Bibir yang sedikit ranum. Body nya yang tidak terlalu langsing atau pun gendut. Katakan saja bahwa sosok Saviera dapat membuat para Pria membuka lebar mata mereka saat ia berada disekitar mereka.
Tapi tak semua manusia sempurna bukan? Bagi Saviera hal itu sangat akurat. Mungkin secara fisik, ia keliatan sempurna. Oh ayolah, tak hanya para kaum lelaki saja yang mengakui hal tersebut bahkan dikalangan wanita pun tak jarang mengakuinya, entah karena iri atu memang tulus dari hati mereka. Terserah mereka saja.
Kembali pada topik 'manusia tidak seutuhnya sempurna'. Saviera memiliki sifat yang ceroboh. Terlanjur ceroboh mungkin. Wanita manis ini baru saja melupakan ticket Boarding Pass-nya di meja toilet saat 10 menit lagi keberangkatan. Ya, Saviera melakukannya, lagi dan lagi. Ini bukan pertama kalinya hal ini terjadi.
Saviera yang memiliki profesi sebagai seorang designer muda yang cukup sukses didunia maya. Di usianya yang masih sangat muda ini, siapa yang tidak mengenal Saviera Arabella? Designer yang tidak hanya terkenal di beragam peragaan busana namun hingga layar kaca mengenal dirinya. Designer muda yang memiliki 'sense' dan passion yang kuat dalam hal fashion. Otaknya benar-benar kreatif dan inovatif dalam hal rancang-merancang busana.
Tidak menyelesaikan study-nya yang masih membutuhkan dua tahun lagi untuk menyandang sarjana hukum, Saviera meninggalkannya karena rasa ingin tahunya yang tinggi. Ia menyadari bahwa dunia hukum bukan tempat yang cocok baginya, ia ingin memulai prakteknya saat ikut peragaan busana yang diadakan di New York bersama tantenya saat itu.
Banyak yang merasa iri dengan wanita yang sedang berada diatas karirnya ini, beragam gosip berusaha menjatuhkan dirinya. Tetapi, menurut Saviera itu hanyalah hal bodoh yang membuang-buang waktu untuk dipikirkan. Ia memilih berdiam diri saja, toh akan hilang sendiri.
Saat ini wanita itu masih terdiam ditempatnya berdiri, semakin lama Saviera merasa bosan dengan apa yang baru saja dialaminya, wanita itu mulai berpikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Nihil. Otaknya tak bisa diajak bekerja sama disaat panik melanda seperti ini. Oh bukan, bukan panik, ini membosankan.
Aha!
Batinnya berseru saat tahu siapa yang bisa ia ganggu dalam waktu seperti ini. Satu-satunya orang yang handal dalam hal seperti ini. Malaikat penolongnya, sahabatnya yang sangat baik hati dan rupawan, kulitnya selembut sutra dan-- Eh jangan terlalu memujinya bisa-bisa dia gila rasa.
"Keberuntungan harus berpihak padaku kali ini!" kesalnya. Ia mulai mengambil handphone-nya lalu mulai menghubungi seseorang. Suara khas orang baru bangun menyahut disebrang sana
"Engg-- Halo? who's this?"
"It's me, apa kau sepelupa itu? Bahkan belum satu jam aku meninggalkan apartemenmu,"
"Astaga Tuhan! Kau belum pergi jug-- Oh Tidak! Oh kumohon jangan bila--" wanita disebrang sana berseru frustasi,
"Iya, tiketku. Ya kurasa kau tahu apa yang terjadi dengannya," Saviera menyahut dengan santainya,
"SAVIERA ARABELLA ANDERSON! APA KAU GILA?! INI SUDAH KESEKIAN KALINYA!? OH AYOLAH." gusar wanita disebrang sana,
"E-eh maaf. Lagi pula ini juga salahmu!? Kenapa kau membiarkanku berangkat sendiri, kau tahu aku seperti apa kan? Jadi apa yang harus aku lakukan??"
"Persetan. Masa bodo denganmu aku ingin tidur."
"KIRANAZITA!"
"Iya bodoh, aku sedang mencari baju. Diam-diam disitu, dan uh JANGAN SEKALI KALI PERGI KE TOILET! Oh Tuhan bisa-bisa kau akan meninggalkan handphonemu disa--,"
"Iya-iya bawel, cepatlah kemari."
TUTS
Tanpa menunggu sahutan dari sang lawan bicara saviera mematikan Hanphonenya. Baiklah apa yang harus ia lakukan sekar--
Kruk krukkk
Saviera sempat menegang mendengar suara perutnya yang lumayan memancing perhatian. Sejenak ia memerhatikan sekitarnya, syukurlah sepi.
"Kurasa perutmu sudah meminta untuk segera di isi, nona." Saviera menegang.
Suara itu tepat berada dibelakangnya, mulai merutuki dirinya sendiri, ia malu, sungguh. Dengan perlahan ia memutar badannya.
Pria dengan perawakan yang tinggi, dada yang bidang, garis wajah yang tegas, lesung pipinya yang dalam, wajahnya yang putih mulus, sedikit rambut-rambut kecil di sekitar rahangnya, bibir yang berwarna merah muda, ah apakah dia seorang dewa yunani?
Tatapan saviera beralih ke pakaian yang dikenakan pria itu. Hmm, selera yang tinggi. Giorgio Armani setelan yang akhir-akhir ini digemari dan diperbincangkan dikalangan enterprenur muda. Sudah jelas pria didepannya ini pria yang mempunyai 'kedudukan'.
"Ah iya, sorry sir. Aku sedang menunggu seseorang, apa aku menghalangi jalanmu? Ah maaf.."
Saviera bergeser untuk memberi jalan bagi pria itu.
"Ah tidak juga. Baiklah, Nona yang manis, jangan lupa untuk segera mengisi perutmu," Pria tampan itu mengedipkan matanya dan memberikan senyumannya, oh tidak lutut saviera tak kuat untuk berdiri. Tak ada yang bisa saviera katakan selain mengangguk patuh dan sedikit senyuman tersipu, karena tertangkap basah sedang menelaah penampilan pria didepannya ini.
Ya Tuhan apa dia manusia?
SENYUMAN DAN LESUNG PIPINYA! DIA SAMA SEPERTI TITISAN DEWA YUNANI! batinnya berseru tak percaya.
Beberapa langkah pria itu berjalan melewatinya, mata Saviera masih setia menatap punggung yang tegap itu. Hingga tiba-tiba ia berhenti.
E-eh, apa ia lupa sesuatu?
Tiba-tiba pria didepannya membalikkan badannya dan menatap saviera dengan tatapan.
"Hey! Nona manis, bagaimana kalau kita makan bersama?"
Oh tidak, Kirana! apa yang harus ku lakukan?
🥀🥀🥀
Vote yuhu!
YOU ARE READING
Saviera
RomanceGak semua Manusia itu sempurna bukan? Mari berkenalan, aku Saviera. Cöpyright by Sassykeyy. Saviera, 2017
