Harry Potter © J.K. Rowling
Terinspirasi juga dari novel Eragon © Cristopher Paolini, tepatnya hubungan benak antara Eragon dan Saphira (naga miliknya).
Drarry
Cerita murni dari pemikiran Author..
Don't Like, Don't Read..
Teks miring => percakapan dalam pikiran
"Teks biasa" => percakapan biasa
_
_
_
_
_
Semua hal yang terjadi dalam diri anak itu membuatnya dicap aneh oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan satu-satunya keluarga yang ia miliki selalu melakukan sesuatu yang membuat dirinya ingin segera pergi dari rumah yang telah ditinggalinya selama 10 tahun ini. Dan keinginannya terkabul, sehari lagi ia akan meninggalkan rumah yang bertempat di Privet Drive itu dan hanya kembali ketika liburan musim panas berlangsung. Hal itu lebih baik tentu saja, daripada harus menghabiskan seluruh waktunya menghadapi segala perlakuan kasar dan tak adil dari orang-orang di rumah kecil tersebut. Tersenyum senang, ia mulai merapikan barang-barang yang telah dibelinya di Diagon Alley ke dalam koper. Bekerja ditemani bunyi 'uhu' dari dalam sangkar dibelakangnya.
Kau sepertinya senang sekali. Tersentak, Harry sekejap melupakan benak lain yang selama setahun ini telah menemani dirinya. Ia tentu saja belum terbiasa, tak akan ada orang yang dapat dengan mudah terbiasa jika memiliki 'kesadaran' lain di dalam kepalanya.
Tentu saja senang, kau juga pasti akan merasa sangat senang jika akan meninggalkan orang-orang yang membencimu, kata Harry sedikit kesal. Ia benci jika harus berbagi pikiran dengan orang lain, walaupun ia lumayan menikmati hal tersebut. Membuat dirinya memiliki teman bicara, teman bicara yang menyebalkan.
Beruntung, mereka hanya berbagi jika salah satu dari mereka memang ingin berbicara satu sama lain, sehingga apapun yg dipikirkan Harry tak dapat diketahui oleh -orang yang sampai saat ini belum ia ketahui namanya- jika ia tak mengijinkannya. Semacam telepati, namun lebih dalam dari itu. Mereka dapat merasakan perasaan masing-masing, merasakan jika salah satu dari mereka merasa marah, senang, kesal, ataupun sedih.
Harry merenung. Kau tahu, kita akan bertemu besok, apa salahnya jika kau memberitahuku namamu? Kau bahkan sudah mengetahui namaku sejak pertama kali kita memiliki hubungan aneh ini. Tak ada balasan yang didengar Harry selama beberapa menit, hingga membuatnya mengira orang itu kembali mengabaikannya, seperti yang selalu ia lakukan ketika Harry menyinggung hal tersebut.
Biarkan itu menjadi kejutan kecil, Potter. Lagipula kita sudah bertemu di Diagon Alley. Harry bisa merasakan rasa puas orang itu, membuatnya menggeram jengkel. Mengapa dia membuat Harry menjadi seperti orang bodoh, berbicara selama setahun dengan seseorang yang bahkan tidak dirinya kenali? Apa salahnya dengan hanya memberi tahu namanya pada Harry? Hal itu tentu tidak sulit, bukan? Harry juga sudah mengetahui bahwa mereka pernah bertemu saat membeli peralatan sekolahnya, tapi hanya sampai disitu. Ia tidak tahu yang mana diantara banyak orang yang ditemuinya di Diagon Alley yang merupakan perwujudan dari orang yang dapat menjangkau benaknya. Mengingat ia bertemu banyak sekali penyihir di tempat itu, bahkan dari berbagai usia.
Mengabaikan si orang misterius, Harry lanjut membereskan perlengkapannya sebelum malam terlalu larut. Setelah ini, ia akan langsung tidur agar hari esok akan cepat datang dan dengan begitu juga membuatnya lebih cepat bertemu oleh orang yang sudah membuatnya sangat penasaran.
***
Setelah menaruh koper hitam yang lumayan berat di samping pintu kamar yang sekarang menjadi miliknya, Harry berjalan menuju tempat tidur, membuka kacamata, dan membaringkan diri.
Dan bahkan walaupun keinginan untuk tidur yang ia miliki sangat besar, Harry belum dapat memejamkan mata. Pikirannya melayang-layang pada kejadian setahun lalu. Kejadian yang sangat membuatnya tercengang, dan bahkan sedikit takut. Mengedipkan mata pada langit-langit kamar yang berwarna coklat, Harry mulai memutar kembali ingatan yang dimilikinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
1 Mind of 2 Person
FanfictionHarry Potter © J.K. Rowling Drarry Harry pertama kali menyadari ada yg aneh pada dirinya di saat umur 8 tahun. Ia bisa melakukan sesuatu yg tidak dapat dilakukan anak-anak lain. Tapi, diumurnya yang kesepuluh ia mulai mendengar suara-suara dalam pik...
