BLEEDING
PROLOG
Haewon, gadis kecil berambut ikal sebahu itu kini tengah duduk seorang diri di teras rumahnya. Memandangi rerumputan yang mulai tinggi, mengabaikan beberapa kali perintah sang Ibu untuk mencabuti akar-akar rumput tak beradab itu. Haewon mendengus, mengingat semua perintah membosankan di musim panas. Musim panas, di tengah liburan adalah waktu yang tepat untuk bermalasan. Pekerjaan rumah tidak dibutuhkan dan sama sekali tak menggoda.
"Aw!" gadis berambut ikal itu tiba-tiba berteriak mengaduh, seseorang dengan tak sopan melempar kepalanya dengan..., Haewon menunduk menjumput benda yang tadi mendarat di pelipis kirinya. "Penghapus pensil...," desis Haewon.
Penghapus pensil hitam yang bentuknya sudah tak karuan, Haewon yakin penghapus itu tak lagi digunakan. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, kedua matanya tajam memperhatikan keadaan sekitar, mencari tersangka untuk disalahkan atas tindakan pelemparan. Haewon melihat semak di sisi kanan tubuhnya bergerak. Kedua matanya menyipit tajam.
Dengan langkah menghentak Haewon menghampiri semak-semak. Semak pembats antara rumahnya dengan rumah sang tetangga. "Minsu!!" Haewon berteriak sekuat tenaga. Dari balik semak-semak, muncul sesosok anak laki-laki, rambut pendek hitam legam, kulit putih nyaris pucat. Tersenyum lebar kepadanya. "Itu sakit Minsu!" sekali lagi Haewon berteriak kesal.
Min In Su, atau biasa dipanggil Minsu oleh Haewon. Anak laki-laki tetangga, anak laki-laki keluarga Min yang entah mulai kapan menjadi sahabatnya. Minsu masih tersenyum lebar tanpa dosa, Haewon mendengus, memutar tubuhnya berniat pergi ketika Minsu menahan pergelangan tangan kanannya.
Haewon melirik Minsu tajam, Minsu menatap kedua mata bulat Haewon. Mengerti, Haewon mendekatkan tubuhnya pada Minsu. "Aku harus menyelesaikan tugas liburan musim panasku."
"Minsu pemalas, aku sudah menyelesaikan semua tugas musim panasku." Ucap Haewon kemudian melipat kedua tangannya di depan dada, bersedekap.
"Bantu aku." Ucap Minsu memohon.
Haewon diam, berpikir. Dia bisa bermalasan di teras sambil menunggu Ayahnya pulang membawa es krim, atau dia bisa membantu Minsu menyelesaikan tugas musim panasnya. "Apa tugasmu? Aku tidak akan membantu tugas yang merepotkan."
"Untuk anak kelas lima SD kau terlalu perhitungan, Kim Hae Won."
"Hanya menuliskan cita-cita masa depan saja."
"Itu terdengar seperti tugas anak TK." Haewon menatap Minsu penuh selidik.
Minsu hanya mengendikan bahu, ia lantas melompati semak-semak, menyeberang ke halaman rumah sang sahabat. "Kita kerjakan di beranda rumahmu."
"Keputusan sepihak...," gerutu Haewon.
Sementara Minsu sudah berjalan beberapa langkah di depan. Haewon tidak bisa mendengar kalimat Minsu. Posisi mereka terlalu jauh, Minsu memiliki masalah di pita suaranya sejak lahir, dia tidak bisa mengeluarkan suara dengan keras. Seseorang harus berada sangat dekat dengannya untuk bisa mendengar suaranya, atau seseorang harus cukup jeli untuk membaca gerakan bibir Minsu.
Keduanya berbaring tengkurap di beranda, Minsu membuka buku tulisnya. Keningnya berkali-kali mengkerut menandakan jika dia sedang berpikir keras. Haewon memandangi kertas putih di hadapannya, ia sejujurnya bingung harus mulai darimana. "Bagaimana jika kau mulai dengan perkenalan diri?" Minsu menoleh ke kanan cepat, menatap Haewon sangsi. "Ya, memulai dengan perkenalan diri. Ini bukan buku tulis penting kan?"
Minsu menggeleng pelan. "Buku sisa semester kemarin, aku sengaja membawanya karena aku yakin, tugasnya tidak akan selesai dalam satu kali percobaan."
"Kau cerdas Minsu...," puji Haewon tulus. Tangan kanan Haewon menyambar bolpoin milik Minsu. "Biar aku yang mulai."
Kim Haewon usia dua belas tahun, lahir di bulan Desember tanggal lima. Aku tidak suka Kimchi, makanan kesukaanku es krim meski di musim dingin aku masih menyukai es krim tapi ayah dan ibuku selalu melarangku.
Haewon berhenti mengamati tulisannya dengan puas, ia lantas menatap Minsu kemudian tersenyum. "Bagaimana menurutmu? Ada ide yang lebih baik?"
"Tidak, kurasa ini bagus."
"Sekarang giliranmu, ayo tulis."
"Tunggu, apa impianmu di masa depan?"
"Ah!" Haewon tersentak, ia lupa bagian pentingnya. Minsu melirik penasaran. "Kau belum menentukan impianmu?" Haewon menggeleng polos. "Aku melihatmu saat kau belajar Gitar, aku juga sering membaca coretanmu di buku-buku pelajaran, puisimu bagus. Mungkin kau bisa menjadi penyanyi terkenal di masa depan."
"Penyanyi?" Haewon menggumam, menatap sang sahabat dengan kagum. Seolah Minsu telah menunjukkan jalan terang untuknya.
"Ya, penyanyi." Tegas Minsu.
"Kurasa—itu lumayan juga." Haewon tersenyum lebar diakhir kalimat.
***
YOU ARE READING
BLEEDING
RomanceMinsu dan Haewon, mereka bersahabat berbagi semuanya. Minsu laki-laki yang sempurna secara fisik, jika kita melewatkan suaranya yang terlalu lemah karena masalah pada pita suaranya sejak lahir. Haewon gadis periang yang bercita-cita menjadi penyanyi...
