1. MOS

91 6 12
                                        

     Pukul dua Dini hari udara dingin menusuk melalui pori-pori kulitku, bahkan jaket tebal yang ku pakai tak cukup untuk menghangatkan tubuhku. Aku bergegas memasuki rumah dan segera menyiapkan perlengkapan MOS nanti. Beruntungnya aku mempunyai ibu dan kakak yang siap untuk membantuku.

     Pagi itu aku berangkat ke sekolah dan masa putih abu-abuku di mulai. Aku pergi ke rumah temanku, kebetulan rumah temanku itu berada di depan sekolah. Aku memastikan perlengkapan untuk MOS sudah lengkap. Topi kerucut + foto, tas karung goni, papan nama dan bunga sudah siap ku bawa.

     Kalian tahu foto siapa yang aku pasang di topi kerucutku? Dia adalah kakakku, padahal disuruhnya foto artis favorit. Ah biarkan yang penting ada fotonya. Hahaha...

     Anak-anak baru mulai memasuki gerbang sekolah. Disana di depan gerbang sudah ada kakak-kakak pengurus MOS yang berwajah killer. SMAN 3 , kata orang sih itu salah satu sekolah favorit di kota ini dan aku bangga menjadi salah satu siswa disana.

     'Asri', satu kata empat huruf yang dapat mewakili suasana sekolah baruku. Banyak pohon mangga yang tumbuh di sekitar area sekolah, rumput-rumput taman yang segar dan bunga-bunga yang terawat. Mmbbb...suasana yang menyenangkan.

     "Ih Fila ngapain sih lo bengong?" Tarikan Fara mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku.

     "Ngapain juga tarik-tarik, santai aja keles."

     "Lo nggak denger sama kakaknya suruh masuk?" Fara menarik tanganku dan berjalan cepat. Ala emak-emak mau ke pasar.

     "Far tampang kakaknya serem banget, ama setan aja sereman kakaknya. Jadi takut gue."

     "Itu masih sebagian, lo belum lihat tatib yang lain." Fara berjalan mendahuluiku.

     "Hah emang masih ada?" Aku mensejajarkan langkahku dengan Fara.

     "Ada, udah lah jangan bawel lu, kita belum ceklist." Fara mengeluarkan kertas ceklist dari karung goninya.

     "Mampus gue nggak punya kertas ceklist, gimana dong Far?" Rasa panik mulai menyerangku.

     "Udah lah tenang aja, nanti lo bilang sama kakaknya kalau kemarin lo nggak masuk."

     Jawaban Fara sedikit menenangkanku.

     "Ayo dek cepetan ceklist, biar cepet masuk kelas!" Ucap salah satu tatib serem yang berlagak seperti penguasa.

     Aku ikut mengantri untuk ceklist. Titik-titik keringat dingin mulai bermunculan di keningku. Takut, itulah yang aku rasakan saat ini. Jantungku berdetak lebih cepat dari yang biasanya. Aku terus merapalkan doa dan meyakinkan pada diriku sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.

     Saat-saat yang ku takutkan telah tiba, saat giliranku telah tiba.

     "Mana kertas ceklist kamu dek?" Ucap mbak-mbak tatib dengan tegas.

     "Mmm...maaf mbak, kemarin saya nggak masuk, jadi saya nggak punya kertas ceklist." Keringat dingin di keningku mulai bercucuran.

     "Ha? Apa? Mbak? Kemarin kemana aja? Nggak punya teman? Kenapa nggak tanya teman?" Mbak tatib itu langsung menyambutku dengam rentetan pertanyaan.

     'Aduh, terus gue harus pangil apa dong?' Kataku dalam hati.

     "Aduh maaf mbak, eh maksudku kak....."

     "Udah-udah sekarang kamu ganti kertas ceklist ini di buku kamu!" Kata mbak-mbak killer dengan intonasi yang lebih tinggi.

     Belum juga aku selesai ngomong udah di potong. Dasar mbak nyebelin, langsung tua baru tau rasa tu. Aku mengganti kertas ceklist di buku dengan terburu-buru. Aku nggak peduli mau tulisanku kayak ceker ayam lah atau mau kayak kaki bebek yang penting ini catetan ceklist cepet sampai ke tangan mbak-mbak nyebelin dan gue cepet pergi. Nyebelin banget sumpah, mentang-mentang jadi kakak kelas.

Di Balik Pintu Berkaca HitamStories to obsess over. Discover now