Part 1

844 12 6
                                        

  Lama sekali Raivan, tidak biasanya dia terlambat. Padahal aku sudah telat 30 menit, ternyata dia lebih telat dariku. Kutekan nomornya pada layar handphoneku, mencoba menghubunginya. Mungkin terjadi sesuatu ? Kenapa tiba-tiba aku jadi khawatir...

  "Raivan... Apa ada sesuatu yang terjadi?? Tidak biasanya kamu telat..." ucapku.

  "Emmm... Maafkan aku, Li. Ada sesuatu dan susah dijelaskan sekarang. Maafkan aku. Minggu depan saja ya?" ucapnya seperti tergesa-gesa.

  "Oh baiklah. Tidak apa-apa. Aku akan pergi sendiri saja."

  "Hmmm. Berhati-hatilah." ia lalu menutup telponnya.

  Tergesa-gesa sekali, ada apa ya dengan Raivan. Apa aku terlalu mengkhawatirkannya?? Tenang, Li. Dia kan sabuk hitam taekwondo. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk. Lebih baik aku menenangkan diri dengan McFlurry Matcha di McD.

  Eeehh tapi kan jauh dari sini. Masa harus jalan kaki ?!? Argh gapapa deh, lagian kan ada jalan pintasnya.

Apa-apaan!! Kenapa tiba-tiba jadi panas sekali?! Aku harus beli minuman dingin, kerongkonganku terasa kering sekalii. Untung saja dekat sini ada minimarket. Ayo berjalan lebih cepat Lisa!!

  "Ini kembaliannya.." pelayan itu tersenyum kepadaku, begitu pula aku.

  Brakkkk...

  Suara itu terdengar sesaat setelah aku keluar dari minimarket. Tapi aku tidak yakin darimana sumber suara itu. Kulihat sekeliling, tidak ada benda atau orang yang terjatuh. Atau cuma halusinasiku..

  "Mana uangku bangsat?!! Aku sedang membutuhkan uang cepatlahhhh!" suara itu terdengar dari gang kecil di sebelah minimarket. Tapi kenapa suaranya mirip suara...

  "Raivan?!?" aku terkejut melihat keadaan Raivan yang babak belur dan juga tiga orang teman se-gengnya.

  "Lisa? Kenapa kau kemari??" tanya Raivan padaku dengan posisi yang masih menyandar ke dinding gang.

  "Huh... Apa-apaan? Kau sengaja membawanya kan? Biar dibela? Atau dia sudah tau mengenai taruhan itu?" ucap Plan, teman se-geng Raivan.

  "Taruhan apa, Van?"

  "Emm.." Raivan menunduk dan hanya bergumam.

  "Taruhan apa?!" suaraku mulai bergetar, aku takut dengan kenyataan pahit yang akan kuketahui.

  "Kita bertaruh jika Raivan bisa jadian denganmu dua bulan saja. Maka Raivan akan mendapatkan iPhone 7 jetblack terbaru. Tapi... Dia terlalu bersemangat dan mendesak kami..." jelas Nice dengan bibirnya yang sedikit sobek san berdarah.

"Oh..." aku terdiam, memikirkan apa yang harus kulakukan. Hatiku terasa sakit. Aku tidak tau apa harus marah atau justru menangis. Aku memilih meninggalkan mereka semua dan melanjutkan jalanku.

  "Lisaa!!! Tunggu!!" Raivan dengan jalan tertatih-tatih mencoba mengejarku.

  "Tidak apa Raivan. Tidak apa. Saat kau sudah mendapatkan uangnya kita bisa putus. Tenang saja." aku mencoba menatap matanya namun tiba-tiba air mataku keluar tak bisa kutahan lagi.

  "Aku punya alasanku sendiri, Li. Maafkan aku..." dia membenamkan kepalaku dengan lembut di dadanya. Memelukku dan mengusap kepalaku. Membuat orang-orang yang lewat melihat aneh kepada kami. Tentu saja, disekitaran minimarket dengan wajah cowok yang lebam dan ceweknya menangis sambil berpelukan.

  Lebih dari satu menit didalam pekukannya, aku tidak bisa memikirkan apa-apa. Bahkan aku tidak bisa marah ataupun menyesalinya. Aku hanya kesal pada diriku sendiri. Keyakinanku yang dulu mengenai hubunganku dengan Raivan ternyata benar.

  "Ayo ke McD bersamaku... " dia mengeluarkan tisu dari backpacknya, lalu mengusap sekitar mataku dengan lembut.

  "Ya..." aku hanya menjawabnya dengan gumaman lalu kupeluk tubuhnya sekali lagi. Aku yakin ini yang terakhir kalinya.

****

  Suasana canggung menyelimuti kami. Bahkan tidak ada yang menyentuh makanan satupun diantara kami. Sedari tadi kami tidak mengeluarkan sepatah katapun. Bahkan ketika memesankan makanan untuk Raivan, aku hanya memesankan makanan kesukaannya tanpa bertanya padanya terlebih dahulu.

  "Aku..." aku mencoba membuka pembicaraan diantara kami berdua. Namun mulutku terasa kaku dan mataku takut untuk bertatapan dengan matanya.

  "Aku suka kamu, Raivan. Sudah lama." entah darimana kata-kata itu terpikir, tapi tiba-tiba saja terucapkan.

  "Aku juga. Maafkan aku, Li." ucapnya dengan mata sayunya yang tak berani menatap kedua mataku.

  "Bahkan sebelum aku seperti ini. Ketika aku masih menjadi bahan ejekan oleh gengmu di kelas. Ketika aku hanyalah cewek biasa yang jarang berbicara denganmu. Ketika seisi kelas membicaranku disaat aku tak ada." aku mencoba menahan tangisku lagi. Mengingat masa lalu ku itu dapat menambah kesedihan yang sudah ada.

  "Maafkan aku karena hanya menyukaimu saat kau sudah berubah. Dan maafkan aku karena telah menjadikanmu bahan taruhan. Ibuku sakit..." dia terhenti pada kata itu, seperti takut air matanya juga akan meluap.

  "Aku mengerti... " melihatnya seperti itu, aku ikut tertunduk, mengingat betapa egoisnya aku ketika kesal didalam hatiku tanpa tau alasannya.

  "Hari ini ibuku akan operasi... Dan jika dp nya tidak ada, maka operasinya tidak bisa dimulai." dia meminum soda yang ada didepannya lalu menatapku.

  "Karena seminggu lagi kita monthversary yang kedua, aku mencoba membujuk mereka untuk memberikannya lebih cepat. Aku pikir mereka teman yang baik, setelah aku menjelaskan alasanku. Mereka malah menyuruhku tunduk pada mereka." lanjutnya.

  "Aku tidak tau kenapa mereka tiba-tiba membenciku atau semacamnya. Padahal aku sudah mengikuti taruhan mereka, tidak pernah membangkang. Apa salahku?" dia terlihat tertekan dengan semua itu.

  "Maafkan aku, Raivan. Aku tidak pernah mengerti dirimu. Aku terlalu egois..."

  "Wah McFlurry matcha ini enak sekaliii ayo coba. Mau kusuapi??" ia menyodorkan sendok berisi McFlurry dengan senyuman diwajahnya. Mengalihkan topik pembicaraan.

  "Lalu bagaimana dengan dana untuk operasi ibumu?" aku meluruskan topiknya lagi.

  "Aku akan mencoba cara lain. Mereka tidak mau memberikannya sekarang. Doakan aku ya, sayang." kata itu terucap dari bibir Raivan yang tipis. Ia tersenyum kepadaku sekali lagi.

  "Ya, baiklah." aku lalu mengambil McFlurry matchaku yang setengahnya sudah mencair.

Flashback On

  "Lihat Lisa, menurutku dia adalah cewek paling jelek disini. Udah pendek dekil lagi. Hew." ujar Nice kepada teman se-gengnya.

  "Iya dia cocok untukmu, Nice. Haahahaha." Plan tertawa melihat Nice kesal dijodohkan dengan Lisa.

  "Terlebih lagi dia HARUUUM." ejek Beam.

  "Hei memangnya kau lebih harum darinya? " ujar Raivan pada Beam.

  Sementara aku, sedang bermain game di depan kelas bersama teman-temanku. Terkadang, pendengaranku memang tajam, apalagi jika ada namaku di pembicaraannya.

Flashback Off.

  Tiba-tiba kepalaku merasa pusing. Dan seperti banyak hal yang sedang mendesak kepalaku. Tidak bisa fokus. Urghhh ini akibat mengingat masa masa itu lagi. Selalu ada saja yang membuat kepalaku merasa terbebani.

  "Ada apa, Li? Kau mengernyitkan dahimu." tanya Raivan yang masih ada di depanku.

  "Tidak apa-apa. Cuma pusing." aku mencoba menutup mata agar rasa pusingnya berkurang.

  "Benar?? Apa kau ingin pulang sekarang?" tanyanya khawatir.

  "Tidak usah. Sudah mendingan." jawabku sambil tersenyum padanya.

STAYWhere stories live. Discover now