Banyak tanda tanya yang masih butuh penjelasan.
***
DUA tahun terakhir setelah kejadian itu, banyak perubahan terjadi di rumah keluarga alvonso, bahkan suasana yang dulunya ramai menjadi hening. Rumah yang tadinya terasa nyaman untuk pulang menjadi sepi seolah tak berpenghuni.
"Selamat pagi, semua."
Ucapan yg cukup memecahkan keheningan di meja makan itu. Semua yg tadinya sibuk dengan makanan yang ada di hadapannya menoleh ke sumber suara.
"Ayolah, kita disini. Kita semua berkumpul di meja yg sama dan menyantap makanan yg sama. Kenapa tak ada satupun yg saling menyapa?"
Kalimat cukup menyindir, dan memang adalah sebuah kebenaran. Namun seolah-olah kebenaran itu bukanlah sesuatu yg penting untuk di anggap ada, kata-kata yg di ucapkan sean berlalu bagaikan angin yg terasa tapi tak terlihat.
Semua kembali sibuk dengan makanannya masing-masing, tanpa peduli satu dengan yg lain. Seolah-olah makanan yg di hadapan mereka lebih penting dari segalanya.
Dua tahun yang lalu ...
Semua tampak rapi dan rasa bahagia terpancar di setiap wajah dalam ruangan itu, begitupun dengan bapak Andreas alvonso yg telah berdiri lengkap dengan setelan jas hitamnya, yg tak kala menarik dengan wanita muda yg mengenakan wedding dress di sampingnya, Senyum bahagia terpancar dari wajah bapak dan anak itu saat menatap cermin di depan mereka.
Wanita itu adalah Yeftania aliva Alvonso. Putri pertama dari bapak Andreas Alvonso, pada hari itu akan melangsungkan pernikahannya.
Pada saat itu adalah hari yg paling bahagia untuk keluarga besar Alvonso. Semua telah di persiapkan dengan baik jauh sebelum hari itu tiba.
Ruangan yg bernuansa putih dengan bunga mawar merah yg ikut melengkapi rasa bahagia Yeftania.
'You look so beatifull in white' ..
Alunan musik dengan penggalan sajak yang menambah suasana romantis kala itu.
"Baiklah, para hadirin yg terhormat. Saat ini kita di undang untuk hadir disini, dan turut berbahagia atas Anugerah Tuhan, yang telah mempertemukan dua insan yg berbahagia yaitu Hendra Anjas Kesley dengan Yeftania Aliva Alvonso."
Kalimat pembuka dari pembawa acara yang di sambut dengan tepuk tangan meriah dari para undangan yg telah hadir saat itu.
"Baiklah, kita sambut pengantin wanita Yeftania Aliva Alvonso untuk---"
"Tolong..."
Dengan nafas yg masih memburu, bapak Andreas memotong kalimat dari pembawa acara saat itu.
Semua tamu undang berdiri dari tempat duduknya masing-masing, bahkan ruangan yg tadinya damai mulai terusik dengan bisikan-bisikan dari para undangan.
"Tolong.. selamatkan putri sayaa." Nada suara pak Andreas mulai melemah. Karna sepertinya, bapak andreas mengalami luka tusukan benda tajam dibagian kanan perut. Itu terbukti dengan adanya darah yang terus keluar.
Tiba-tiba ada seseorang yg tak asing datang menghampiri bapak andreas.
"Siapa saja, Tolong hubungi ambulans" suara pria yang memopong bapak andreas.
Rumah sakit setia kasih ..
Bapak andreas terbangun dari pengaruh obat bius, karna dua jam yang lalu bapak andreas harus di operasi untuk menutupi luka sobek akibat tusukan benda tajam yang entah siapa pemiliknya.
YOU ARE READING
Like Sun
RomanceJika dengan berdarah bisa menghiburmu, akan aku lakukan sekalipun harus terkubur karnamu. ~Seandita Alvonso. Jangan memaksa tinggal jika yg kau dapat hanyalah luka. ~Edgar Antoni.
