Tak ada yang tahu

57 2 1
                                        

Pagi hari, seperti biasanya, Ralin membayangkan apa yang selama ini berada difikirannya. Ia selalu berbicara dalam hati dengan dirinya sendiri "kapan, kapan, kapan mimpi itu akan terwujud" ucapnya. Ralin seorang remaja yang berfikir kritis kedepannya, ia selalu merhatikan nasib dirinya di tengah kemunafikan duniawi semakin tinggi. Apa yang sebenernya ia impikan? Apakah ibunya tahu apa yang selama ini ia impikan? Ataukah ayahnya tau? Ternyata tidak. Hanya dia sendiri yang tahu apa mimpinya. Ia pun tak pernah menceritakan yang ada didalam fikirannya kepada teman, sahabat, bahkan kedua orang tuanya. Ia selalu menyimpan rasa itu sendiri. Mungkin sampai pada waktunya yang akan mengungkap semua apa mimpi yang ada di dalam fikirannya. Setelah selesai membayangkan apa yang selama ini ia fikirkan, ia lantas bangkit dari tempat tidur dan pergi untuk mandi. Ralin berjalan ke kamar mandi dengan penuh fikiran yang selalu mengitarinya, tapi ia tak pernah mengeluh, dia tau, apa yang dia alami saat ini mungkin akan menjadikannya remaja yang dewasa. Selesai mandi Ralin pun dengan cepat memakai seragam sekolah, karena ia sudah terlambat dan tak sempat untuk sarapan dulu.
Ralin sangat mandiri, sejak perceraian kedua orang tuanya ia tak pernah membebani kedua orang tuanya, ia tahu semua masalah pasti akan ada hikmah untuk kedepannya, meski terkadang ia sangat rindu kepada ayahnya yang berada di Paris, Perancis. Ia hanya tinggal berdua dengan ibunya, meski ibunya menjelma menjadi kupu-kupu malam papan atas, ia tak pernah menyukai harta dari ibunya. Meski begitu, Ralin tetap menyayangi dan terus menghormati ibunya sebagai seorang ibu. Hari berjalan dengan hari, Mimpi yang tak pernah padam dan Mimpi itu pula yang belum tercapai. Ralin yang sekarang tengah beranjak di kelas XI di salah satu SMA Favorit Jakarta Selatan. Mungkin nama Ralin lumayan tenar, sebab Ralin mempunyai paras yang cantik dan pintar serta tajir, tapi tak pernah ada seorang pria yang dapat mendapatkan ruang kosong di hatinya. Banyak sekali pria disekolahnya memuja-muji kecantikannya, tetapi Ralin tidak pernah angkuh. Ia tetap rendah hati, meski banyak teman perempuan yana ia miliki benci kepadanya, karena mereka merasa iri terhadap kecantikan Ralin.

MimpiWhere stories live. Discover now