Sebelum Kejadian

138 9 4
                                        


Pukul 1 siang di perpustakaan sekolah. Sekarang guru-guru sedang rapat, jadi aku dan kawanku "kabur" ke perpustakaan, mumpung tugasnya sudah selesai semua. Sebenarnya sih ingin internetan, tapi kok malah diberi tugas menyetempel buku. Si Yusuf, kawanku itu lebih memilih internetan daripada membantu, jadinya ya aku yang bekerja. Ya lumayan nanti ujung-ujungnya juga ditraktir makan di kantin.

"Suf, bantuin sini!" si Chika memanggil.

"Sebentar!"

"Suf, bantuin ini aja, bagi buku ke kelas 7B, mumpung jamkos*. Bareng aku, Chika, Olive, sama Tio. Kasihan tuh bukunya tebal bin berat." Aku menambahi.

"Iya – iya" Yusuf balasnya.

Kami pun langsung mengambil buku-buku yang akan dibagikan, sekalian juga alat absensi kelas. Dan langsung berjalan ke kelas 7B.

"Haduh-haduh, kelasnya jauh banget, dipucuknya sekolahan lagi." Aku mengeluh.

"Sabar mas, sabar" Tio membalas.

"Oh iya, kelas 7B itu biasanya kan tempat murid yang malas-malas, yang nakal-nakal kan? Dari kita kelas 7 sampai sekarang kayaknya kelas 7B itu ya itu-itu aja." Aku bercanda sambil berjalan.

"Iya ya.. Dari dulu sampai sekarang gak berubah-ubah. Biarpun kelas 7 tapi murid-muridnya sering masuk ruangan konseling." Chika membalas.

"Heh! Jahat kakak-kakak ini" Tio menggerutu agak sebal.

"Eh, marah? Memang benar loo."

"Hmm." Sebal sambil mendengus.

"Selamat datang di kelasku!" Tio jadi seperti pramuniaga minimarket.

Kejutan! Ternyata kelasnya ramai, penuh hiruk pikuk. Ada yang lempar-lemparan kesana kemari. Si Chika langsung pingsan, kelas tambah ramai dan heboh seperti pasar tradisional. Ada yang panik, ada yang sibuk sendiri. Sebaliknya Olive langsung naik darah. Mukanya memerah. Si Tio bingung mencari pertolongan buat si Chika. Lari kesana kemari kayak orang kemalingan plus kepanasan

"Duh, merepotkan banget. Jadi gak semangat." Yusuf menggerutu.

"Aku gak betah disini. Ayo cepetan bagikan buku panduan ini. Olive waktumu liv!" aku berteriak.

"Dek! Diam dek! Kurang ajar!" Olive marah-marah. Suaranya seperti petir menggelegar padahal awalnya dia manis, lemah lembut, suaranya halus.

"Wuh – wuh, sabar lif!" Yusuf menenangkan.

Semuanya kacau.

"Wah tugas berat nih."

*****

Setelah membagikan buku manual, kami lega. Chika siuman. Jam perpustakaan menunjukkan pukul setengah dua. Tak lama kemudian berdo'a bersama. Kami kembali ke kelas masing-masing. Seperti biasa Bu Lina menyuruh ke kantin. Bu Lina sudah booking tempat di sana. Tapi ada yang aneh, Chika tidak biasanya pingsan. Waktu itu Chika masuk duluan, melihat salah satu murid 7B kemudian langsung pingsan. Aneh sekali, padahal biasanya dia sehat-sehat saja. Tidak mudah pingsan. Dia sering ceria, tidak mudah murung. Waktu itu dia juga seperti biasanya.

"To, mau ikut apa nggak? Mau kukunci nih perpusnya." Bu Lina dengan logat anak mudanya.

"Oh iya-iya, sebentar." Aku membalas dan langsung mengambil telepon pintarku.

"Ada apakah dengan Chika?" Aku bingung sambil bergumam.

Jam menunjukkan pukul 2 siang.



Catatan:

* Jamkos merupakan singkatan dari jam kosong. Yaitu waktu tidak ada guru yang mengajar di kelas yang seharusnya mengajar.


GlynxBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin